Anak saya usia 2 th 2 bln mengalami BAB susah dan keras,kadang2 pada saat BAB keras sampai keluar darah sudah terapi ke dokter anak tetapi tetap belum ada perubahan dan menurut anak tidak ada masalah dengan saluran pencernaannya sehingga dokter nya menganjurkan untuk dilakukan peneropongan karena dikhawatirkan terjadi perobekan atau ada kelainan pada otot anusnya. yang menjadi pertanyaan saya adalah :

1. Bagaimana cara peneropongan itu dilakukan dengan menggunakan alat apa tidak?

3. Bagaimana supaya anak saya bisa lancar BAB nya? karena sudah dilakukan perubahan pola makannya dengan memberikan sayuran dan buah2an juga masih belum lancar.

Jawaban Dokter :

BAB berdarah pada anak dapat disebabkan oleh banyak hal, diantaranya adalah susah buang air besar (konstipasi). Tinja yang keras akan membuat regangan pada dinding usus dan memudahkan terjadinya luka pada saluran cerna.

Sulit BAB bisa terjadi kalau si kecil menahan tinjanya di dalam (menghindari kegiatan mengeluarkan tinja di toilet). Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari ketakutan terhadap toilet training, malu BAB di tempat umum (misal Sekolah), WC bau, atau makanannya kurang serat sehingga tinjanya keras dan menimbulkan rasa perih dan berdarah ketika BAB.
Semakin sering ia merasa sakit ketika BAB, semakin segan ia untuk ke toilet. Dan semakin keras lah tinja dalam ususnya karena usus terus menyerap air dari dalam tinja. Semua ini menimbulkan lingkaran setan yang harus diputuskan. Dokter anak biasanya memberikan obat pelunak tinja yang diberikan dalam jangka panjang seiring perbaikan pola makan (misal: banyak serat, banyak minum). Namun, tidak terhenti pada pengobatan dari dokter saja, orangtua pun harus turut serta dalam mengatasi masalah konstipasi yang terjadi pada anaknya. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua, yaitu: 1. Memberi makanan tinggi karbohidrat yang tidak mudah dicerna (glukosa polimer) seperti sereal dan beras; makanan yang kaya akan serat seperti buah-buahan (alpukat, pepaya, dan jeruk) serta sayuran hijau. 2. Meyakinkan anak bahwa soal BAB tidak perlu dicemaskan. 3. Memberi pujian setiap kali anak tidak BAB di celana. 4. Melakukan toilet training. Selama di toilet, anak dilatih untuk mengendurkan dan meregangkan otot dubur selama beberapa menit. Lakukan hal ini dengan suasana yang menyenangkan dan membuat anak menjadi nyaman, misal dengan bercerita, bernyanyi, dan sebagainya. 5. Jangan cemas atau marah pada anak pada saat anak ketakutan karena mau BAB. Berilah dukungan pada anak. 6. Memberi obat pencahar pada anak. Namun hal ini harus dilakukan dengan pengawasan dari dokter. Jadwalkanlah pengeluaran tinja 2 kali sehari, setiap habis makan (sehabis makan adalah waktu alamiah saat usus bergerak lebih aktif dari waktu-waktu lain). Anak didudukkan di kloset selama 10-15 menit. Hal ini membantu menanamkan pengertian dari anak untuk mengeluarkan tinjanya selama waktu-waktu itu saja. Memperbaiki sulit BAB pada anak memang memerlukan perjuangan yang panjang, sehingga untuk ini perlu kerjasama yang baik antara dokter dan orangtua. Nah.. mengenai peneropongan, memang tidak dilakukan pada semua kasus BAB berdarah, namun pada kasus anak Ibu, mungkin pertimbangan dokter anak adalah untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari BAB berdarah itu. Misalnya, polip usus, dll.
Prosedur peneropongan pada anak biasanya anak diberi obat yang membuatnya mengantuk. Pada saat ia tidur, prodedur ini dilakukan. Alat seperti selang (untuk anak ukurannya lebih kecil daripada untuk orang dewasa), di ujungnya terdapat kamera dan lampu mungil, dimasukkan ke dalam anus. Gambar yang dihasilkan seperti video, dapat dilihat di layar televisi. Kelainan pada dinding usus akan terlihat sangat jelas disana. Secara umum prosedur ini aman. Jarang sekali terjadi efek samping. Semoga masalah si kecil dapat diketahui penyebabnya dan cepat teratasi.