Salah satu penyebab utama dari Rabun Senja adalah kekurangan Vitamin A. Sampai saat ini penduduk Indonesia, terutama yang berpenghasilan rendah, baik di perkotaan dan pedesaan, banyak yang mengalami masalah vitamin A. Data yang didapat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2009 menunjukkan lebih dari sembilan juta anak-anak Indonesia dan satu juta perempuan menderita kekurangan vitamin A. Tercatat pula di Indonesia sekitar 14,6 % anak di atas usia satu tahun mengalami kekurangan vitamin A, sedangkan 25 - 30 % kematian bayi dan balita di dunia disebabkan oleh kekurangan vitamin A (5).

eye-dark-sam

Apa sih Rabun Senja itu? Rabun senja, istilah medisnya nyctalopia, merupakan suatu kondisi dimana sulit bahkan mustahil untuk melihat pada keadaan pencahayaan yang kurang (1). Rabun senja disebabkan oleh kelainan pada sel di dalam mata yang bertanggung jawab untuk pengelihatan dalam pencahayaan yang kurang. Penyebab-penyebab penyakit tersebut yaitu kelainan lahir (kongenital), obat glaucoma yang bekerja dengan cara mengecilkan pupil,  katarak,  kecelakaan bahkan malnutrisi (kekurangan vitamin A). Penyebab terbanyak Rabun Senja adalah kekurangan Vitamin A, lho! Penyebab paling banyak rabun senja adalah kekurangan vitamin A dan kelainan lahir. Vitamin A merupakan vitamin larut dalam air yang dibutuhkan tubuh untuk berbagai kebutuhan. Vitamin ini akan membantu merubah sinyal molekul dari sinar yang diterima oleh retina untuk menjadi suatu proyeksi gambar di otak kita. Retinol merupakan senyawa yang berperan utama dalam hal tersebut (2). Senyawa retinol, bersama dengan rodopsin, akan membentuk kompleks pigmen yang sensitif terhadap cahaya untuk mentransmisikan sinyal cahaya ke otak (3). Oleh karena itu, kekurangan vitamin A di dalam tubuh seringkali berakibat fatal pada organ penglihatan. Selain itu, vitamin A juga berfungsi dalam pemeliharaan permukaan kornea. Penyebab kekurangan vitamin A adalah malnutrisi, malabsorbsi (kesulitan tubuh untuk menyerap zat makanan) dan penyakit yang menyebabkan terganggunya metabolisme vitamin A dalam tubuh. Kekurangan vitamin A karena malnutrisi umumnya terjadi pada Negara berkembang, sedangkan penyebab lainnya dapat ditemukan pada lansia dan orang dengan penyakit lama (kronik) (4). Apa saja sih pengobatan untuk rabun Senja ini? Pengobatan tergantung pada penyebabnya. Perawatan mungkin sesederhana mendapatkan ukuran kacamata baru atau beralih obat glaukoma, atau bahkan sampai memerlukan operasi. Berbeda dengan retinitis pigmentosa, rabun senja yang disebabkan oleh defisiensi vitamin A relatif lebih mudah dalam mengobatinya. Pada umumnya asupan vitamin A yang cukup dianjurkan sekitar 5,000 International Unit (IU) per hari yang bersumber pada asupan seperti susu, telur, hati, daging, ayam, sayuran hijau, wortel, ubi, bayam, brokoli, mangga, tomat. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi semua untuk memenuhi kebutuhan vitamin A hariannya, dan jika anda beresiko untuk penyakit Rabun Senja, maka sebaiknya anda melakukan pemeriksaan kepada dokter yang bersangkutan sebagai pencegahan penyakit menjadi lebih serius. Referensi:
  1. Ohba N, Ohba A. Nyctalopia and hemeralopia: the current usage trend in the literature. The British journal of ophthalmology. 2006;90(12):1548-9. Epub 2006/11/23.
  2. Blomhoff R, Blomhoff HK. Overview of retinoid metabolism and function. Journal of neurobiology. 2006;66(7):606-30. Epub 2006/05/12.
  3. Lee RD, Thomas CF, Marietta RG, Stark WS. Vitamin A, visual pigments, and visual receptors in Drosophila. Microscopy research and technique. 1996;35(6):418-30. Epub 1996/12/15.
  4. Tiang S, Warne R. Nyctalopia: the sequelae of hypovitaminosis A. BMJ case reports. 2010;2010. Epub 2010/01/01.
  5. World Health Organization. Global prevalence of vitamin A deficiency in populations at risk 1995-2005. 2009.
  6. Koenekoop RK, Loyer M, Hand CK, Al Mahdi H, Dembinska O, Beneish R, et al. Novel RPGR mutations with distinct retinitis pigmentosa phenotypes in French-Canadian families. American journal of ophthalmology. 2003;136(4):678-87. Epub 2003/10/01.
  7. Parmeggiani F. Clinics, epidemiology and genetics of retinitis pigmentosa. Current genomics. 2011;12(4):236-7. Epub 2011/12/02.
  8. Budu, Hayasaka S, Syawal R, Muhiddin HS, Idris I, Yusuf I. Peripherin/RDS gene in Indonesian patients with retinitis pigmentosa: geographic comparison of polymorphic variations. Hiroshima journal of medical sciences. 2005;54(3):73-6. Epub 2005/09/27.
  9. Berson EL, Rosner B, Sandberg MA, Hayes KC, Nicholson BW, Weigel-DiFranco C, et al. A randomized trial of vitamin A and vitamin E supplementation for retinitis pigmentosa. Archives of ophthalmology. 1993;111(6):761-72. Epub 1993/06/01.
  10. Berson EL, Rosner B, Sandberg MA, Weigel-DiFranco C, Brockhurst RJ, Hayes KC, et al. Clinical trial of lutein in patients with retinitis pigmentosa receiving vitamin A. Archives of ophthalmology. 2010;128(4):403-11. Epub 2010/04/14.
  11. Berson EL. Long-term visual prognoses in patients with retinitis pigmentosa: the Ludwig von Sallmann lecture. Experimental eye research. 2007;85(1):7-14. Epub 2007/05/29.