Di Indonesia, batasan usia lanjut (lansia) menurut undang-undang No.12 tahun 1998 tentang kesejahteraan usia lanjut adalah sebagai berikut: seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun (depsos,1999). Batasan ini sama dengan yang dikemukakan oleh Burnside dkk. Menurut WHO, lansia dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu: Elderly (64-74 tahun), Older (75-90 tahun), dan Very Old (>90 tahun). Setiap orang pasti ingin memiliki masa tua yang bahagia tetapi keinginan tidaklah selalu dapat menjadi nyata. Pada kehidupan nyata, banyak sekali lansia-lansia yang menjadi depresi, stress, dan berpenyakitan. Banyak kita temukan lansia yang dikirim ke panti jompo dan tidak terurus oleh keluarga, ada lansia yang diasingkan dari kehidupan anak cucunya meskipun hidup dalam lingkungan yang sama, ada lansia yang masih harus bekerja keras meskipun sudah tua, dan masih banyak hal-hal lainnya yang menjadi penyebab. Kemudian, muncul berbagai pertanyaan dalam diri para lansia sebagai bentuk kecurigaan dan ketidakpercayaan akan hidup mereka. Apakah mereka melakukan kesalahan lagi atau nasib mereka yang kurang beruntung karena sudah tua dan tidak berguna lagi? Jawabannya adalah TIDAK. Salah total bila ada pikiran seperti itu. Semua manusia adalah ciptaan Tuhan, Jadi setiap manusia pasti diciptakan dengan harapan dan tujuan yang baik. Berdasarkan teori Erickson, fase late years ( usia > 65 tahun) Lansia dapat dibagi menjadi 2 kategori:
  • kategori pertama adalah lansia yang memiliki integritas tinggi dan idealisme yang mantap. Pada kategori pertama, lansia ini memiliki integritas yang tinggi sehingga cenderung menjadi penasehat/ pelindung/ sesepuh dan membagi pengalamannya kepada orang lain. Integritas mereka yang jelas melahirkan idealisme yang mantap sehingga bisa merendahkan orang yang telah mengecewakan idealismenya
  • kategori kedua yaitu lansia yang memiliki kegagalan dan kebingungan akan suatu nilai. Pada kategori dua yaitu lansia yang mengalami kegagalan. Kadang kegagalan mereka menyebabkan mereka takut untuk menjadi tua. Nostalgia-nostalgia mereka di masa dulu tidaklah terlalu membekas di hati mereka sehingga merasa hidup mereka tidak berguna karena tidak dapat memberi arti yang bermakna kepada orang lain dan cenderung putus asa. Hal iniah yang sering berakhir dengan depresi lansia.
Penelitian sosiologis pada tahun 2002 mengungkapkan bahwa sebagian besar lansia mengaku bahwa mereka minder dan tidak pantas untuk aktif pada masyarakat. Konsekuensinya adalah mereka merasa kesepian dan depresi. Depresi adalah gangguan emosional yang bersifat tertekan, sedih, tidak bahagia, tidak berharga, tidak berarti, tidak mempunyai semangat dan pesimis terhadap hidup mereka. Depresi adalah suatu bentuk gangguan kejiwaan dalam alam perasaan. Berdasarkan DSM IV ( diagnosis and statistical manual of mental disorders IV), disebut sebagai depresi berat bila ditemukan 5 dari gejala-gejala ini:
  • mood depresi hampir sepanjang hari,
  • insomnia atau hipersomnia,
  • hilang minat dan rasa senang secara nyata dalam aktivitas normal,
  • berat badan menurun atau bertambah,
  • agitasi atau retardasi psikomotor,
  • kelelahan atau tidak punya tenaga,
  • sulit konsentrasi,
  • rasa tidak berguna atau rasa bersalah yang berlebihan,
  • pikiran berulang tentang kematian,
  • percobaan/ide bunuh diri dan gejala-gejala ini bukanlah akibat dari tindakan medis atau karena pengaruh zat kimia.
Berdasarkan ICA 10 (International Classification of diseases 10), gangguan depresi ada 3 gejala utama yaitu:
  • mood terdepresi,
  • hilang minat dan semangat,
  • hilang tenaga dan mudah lelah,
  • disertai gejala lain yaitu: konsentrasi dan harga diri yang menurun, perasaan bersalah, pesimis memandang masa depan, ide bunuh diri atau menyakiti diri sendiri, pola tidur berubah, dan nafsu makan berkurang.
Prognosis/ harapan kesembuhan untuk pasien depresi pada lansia tidaklah berbeda jauh dengan remaja. Bila ditangani dengan baik dan cepat, lansia-lansia tetap dapat sembuh dan berfungsi dengan baik lagi sedangkan pada hasil terapi yang kurang memuaskan biasanya disebabkan oleh penyakit kronik dan episode awal depresi yang kurang baik. Biasanya kematian tidak berhubungan langsung dengan depresinya tetapi karena kelainan vaskuler (pembuluh darah) dan gangguan paru. Penanganan yang dapat diberikan kepada lansia bisa terbagi menjadi 2 macam:
  • pertama adalah dari lansia itu sendiri (penanganan ini adalah yang paling penting karena berasal dari kemauan dan pengertian dari diri sendiri)
  • kedua adalah dari keluarga dekat hingga keluarga yang jauh, tetangga, teman, dan masyarakat.
Penanganan yang berasal dari lansia itu sendiri adalah menjalin hubungan sosial dan berpikiran positif. Segala sesuatu akan menjadi hal yang menyenangkan apabila kita melihat hal tersebut dengan pandangan yang positif karena sekaligus juga memberikan nilai positif bagi kepuasan kita sendiri. Lansia-lansia bisa membuat kontak sosial dengan mengadakan pertemuan-pertemuan atau aktivitas seperti kumpul-kumpul dengan orang lain sehingga dapat bertukar informasi dan membangkitkan semangat hidup. Dengan adanya acara-acara dan kumpul-kumpul, dapat meningkatkan kualitas hidup baik fisik maupun psikis. Kontak sosial tidak hanya dapat dilakukan secara langsung tetapi dapat juga melalui sarana-sarana yang ada. Bisa dengan menulis surat, email, pesan melalui media elektronik dan media publikasi tertulis. Selain itu, lansia juga dapat mengisi waktu dengan melakukan aktifitas-aktifitas ringan seperti menyiram bunga, menonton TV, mendengarkan radio, olahraga untuk mengisi waktu dan mengatasi kebosanan mereka sehingga mereka dapat menjadi senang dengan melakukan hobi-hobi. Banyak orang yang takut akan pensiun karena terdapat perubahan-perubahan dari lingkungan, waktu, penghasilan, dan orang-orang di sekitarnya. Sebenarnya hal itu tidaklah perlu ditakuti tetapi malah harus dengan berani dalam menerima adaptasi baru. Hal itu sebaiknya dinilai dengan pemikiran positif. Misalnya ketika pensiun, kita menganggap keadaan tersebut sebagai penggantian aktifitas sehari-hari dengan mengerjakan hal yang dulunya ingin sekali dikerjakan tetapi tertunda karena tidak sempat mengerjakannya sehingga perlu mencapai hal yang tertunda itu ketika kita sudah pensiun. Maka dengan begitu, depresi lansia dapatlah kita jauhkan. Pihak luar juga perlu mendukung para lansia. Dari sisi keluarga, bisa dengan menjenguk lansia dan meluangkan waktu untuk menemani dan menjalin hubungan dengan lansia sehingga lansia pun dapat senang dan tidak bosan. Bagi para lansia, peran keluarga sangatlah penting karena mereka adalah orang-orang yang memiliki ikatan batin yang kuat dengan lansia. Keluarga dapat menjadi pendukung bagi mereka. Juga bila kita dapat memberikan perawatan yang sangat baik kepada lansia-lansia di sekitar kita maka berikanlah yang terbaik untuk mereka. Daftar Pustaka : • Dr. Dharmady Agus, SpKJ.2003. siklus kehidupan dan perkembangan individu. Jakarta : Fakultas kedokteran universitas katolik Atmajaya. • www.depkes.go.id • www.kompas.com www.medicalzone.org