Setiap ibu hamil tentu sangatlah menantikan kehadiran sang buah hati. Dalam masa kehamilan, setiap wanita tentu akan menjaga kesehatannya supaya memperoleh kesehatan yang baik untuk dirinya maupun calon bayinya. Akan tetapi, segala sesuatu tidak selalu berjalan mulus sesuai dengan keinginan kita. Kehamilan bisa saja normal, namun bisa juga disertai penyakit. Salah satu contohnya yang akan kita bahas disini adalah diabetes mellitus yang terjadi saat kehamilan. Diabetes mellitus merupakan penyakit yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Diabetes mellitus adalah suatu keadaan dimana kadar gula dalam darah tinggi (hiperglikemia) yang sifatnya kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal. Diabetes mellitus pada kehamilan tidaklah jarang ditemukan. Di Indonesia, dengan menggunakan kriteria diagnosis Sullivan-Mahan dilaporkan prevalensi diabetes mellitus pada kehamilan adalah sebesar 1,9-3,6% pada kehamilan umum. Pada ibu hamil dengan riwayat keluarga menderita diabetes mellitus, prevalensinya menjadi 5,1%. Diabetes mellitus perlu untuk diperhatikan karena risiko morbiditas dan mortalitas pada maternal dan perinatal tinggi. Akan tetapi, dengan pengelolaan dan penatalaksanaan yang baik maka hasilnya dapat menjadi baik. Diabetes mellitus pada kehamilan sering dikenal dengan Diabetes Mellitus Gestasional (DMG). Definisi dari diabetes mellitus gestasional adalah intoleransi glukosa yang terjadi atau diketahui pertama kali pada saat hamil. Gejala utama dari kelainan ini pada umumnya hampir sama dengan diabetes mellitus lain, yaitu: selalu merasa haus (polydipsi), sering buang air kecil (polyuri), dan sering merasa lapar (polyfagi). Yang membedakannya adalah keadaan ini terjadi pada penderita saat hamil. Di luar kehamilan, dikenal 2 macam diabetes mellitus yaitu diabetes mellitus tipe I (yang berhubungan dengan insulin) dan diabetes mellitus tipe II (non-insulin). Sedangkan diabetes mellitus pada kehamilan juga dapat dibagi menjadi 2 macam:
  1. Diabetes mellitus yang memang sudah diketahui sebelumnya pada penderita yang menjadi hamil (Diabetes Mellitus Hamil = DMH = Diabetes Mellitus Pragestasional). Sebagian termasuk diabetes mellitus tipe I (Insulin Dependent Diabetes Mellitus / IDDM).
  2. Sebelumnya tidak mengidap diabetes mellitus, baru mengidap diabetes mellitus dalam masa kehamilan (Pregnancy-Induced Diabetes Mellitus = diabetes mellitus sesungguhnya, sesuai dengan definisi lama WHO 1980).
Setelah kehamilan berakhir, dilakukan tes toleransi glukosa oral (TTGO) untuk membedakan kedua kelompok tersebut. Pada kehamilan normal terjadi banyak perubahan pada pertumbuhan dan perkembangan fetus secara optimal. Pada kehamilan normal kadar glukosa darah ibu lebih rendah secara bermakna. Hal ini disebabkan oleh:
  1. pengambilan glukosa sirkulasi plasenta meningkat
  2. produksi glukosa dari hati menurun
  3. produksi alanin (salah satu precursor glukoneogenesis) menurun
  4. aktifitas ekskresi ginjal meningkat
  5. efek-efek hormone gestasional (kortisol, human plasental lactogen, estrogen, dll)
  6. perubahan metabolisme lemak dan asam amino.
Pada diabetes mellitus gestasional terjadi perubahan fisiologis, juga perubahan jumlah atau fungsi yang abnormal terhadap insulin. Terjadi juga perubahan kinetika dan resistensi terhadap efek insulin yang mengakibatkan komposisi sumber energi dalam plasma ibu rendah (kadar gula darah tinggi dan kadar insulin yang tetap tinggi). Resistensi insulin biasanya bermula pada pertengahan kehamilan (usia kehamilan 20-24 minggu). Melalui difusi terfasilitasi pada membran plasenta, dalam sirkulasi janin turut terjadi komposisi dari sumber energi abnormal yang mungkin dapat menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi. Selain itu, juga terjadi hiperinsulinemia yang menyebabkan janin mengalami gangguan metabolik (hipoglikemi, hipomagnesemi, hipokalsemi, hipobilirubinemia, dsb). Diabetes mellitus ini dapat disebabkan oleh: penghancuran sel beta pankreas terkait  respon imun, penghancuran sel beta pankreas secara idiopatik, resistensi dari insulin, mutasi genetik pada fungsi sel beta pankreas, penyakit pada pankreas (pankreatitis, kistik fibrosis), infeksi (cytomegalovirus, coxsackievirus, congenital rubella), dan obat-obatan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi diabetes mellitus gestasional adalah:
  • riwayat keluarga menderita diabetes mellitus
  • wanita berumur lebih dari 35 tahun
  • wanita obesitas
  • ada riwayat pernah melahirkan anak yang berukuran besar, lahir mati, atau bayi yang dilahirkan cacat
  • ada riwayat infeksi saluran kemih selama hamil.
Konsensus PERKENI, 1997 menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan penyaring (screening) pada pertemuan antenatal pertama. Bila hasilnya positif maka dapat disimpulkan terjadi diabetes mellitus gestasional. Tetapi bila hasilnya negatif, maka dianjurkan melakukan tes ulangan pada usia kehamilan 26-28 minggu. Dinilai dari keefektifan tes, hasil positif tertinggi akan diperoleh pada kehamilan 26-28 minggu. Berikut ini adalah kriteria diagnosis dari Sullivan-Mahan dan kriteria hasil pemeriksaan berdasarkan modifikasi WHO-PERKENI: Kriteria diagnosis dari Sullivan-Mahan (1964): Diagnosis                Kadar glukosa darah (mg/dl) Batas nilai normal                 <90 1 jam pasca puasa                 <165 2 jam pasca puasa                 <145 3 jam pasca puasa                 <125 Diagnosis ditegakkan apabila terdapat dua atau lebih hasil yang abnormal. Kriteria hasil pemeriksaan berdasarkan modifikasi WHO-PERKENI: Kadar glukosa darah (mg/dl)     Kriteria >200                                          Diabetes mellitus 140-200                                     Toleransi glukosa terganggu <140                                          Normal Pemeriksaan yang dianjurkan dari modifikasi WHO-PERKENI ini adalah pemeriksaan kadar glukosa darah dua jam pasca pemberian beban glukosa 75 gram. Komplikasi yang dapat terjadi pada diabetes mellitus gestasional adalah :
  1. Komplikasi maternal (ibu) : Infeksi saluran kemih, hidramnion, hipertensi kronik, preeclampsia, kematian ibu.
  2. Komplikasi fetal (janin)  : Abortus spontan, kelainan kongenital, insufisiensi plasenta, makrosomia, kematian intrauterin.
  3. Komplikasi neonatal (bayi usia kurang dari 30 hari) : Prematuritas, kematian intrauterin, kematian neonatal, trauma lahir, hipoglikemi, hipomagnesemi, hipokalsemi, hiperbilirubinemi, sindrom gawat napas, polisitemia, thrombosis vena renalis.
  4. Komplikasi anak  : Gangguan tumbuh kembang, intelektual, obesitas, sampai diabetes mellitus itu sendiri.
Jadi pada keadaan diabetes mellitus gestasional, penderita perlu melaksanakan diet sehat, aktifitas sehat, dan kontrol glukosa darah. Penatalaksanaan dengan oral hyperglycemic agent dan insulin dapat dilakukan dengan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Bila standar manajemen diet ini tidak berhasil biasanya akan direkomendasikan untuk terapi insulin. Referensi : 1. Cunningham, F.Gary. 2007. Wliiam Obstetrics ed 22nd. Mc-GrawHill. 2. Mansjoer, arif. 2000. Kapita selecta jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius. 3. Available at: www.care.diabetesjournals.org 4. Available at: http://www.blogdokter.net/2007/06/25/diabetes-melitus-ii-pada-kehamilan/ 5. Avalable at : www.geocities.com/Yosemite/Rapids/1744/cklobpt3.html