Berbicara tentang organ tubuh hati maka berkaitan erat dengan cara tubuh menetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh. Kenyataannya, meski organ tubuh ini bisa menetralisir racun, namun hati tidak kebal terhadap penyakit. Ketahui informasinya secara lengkap tentang organ tubuh hati ini beserta dengan penyakit yang mungkin bisa menyerangnya. Tanya: Apakah organ hati itu? Jawab: Hati atau sering disebut dengan liver merupakan salah satu organ tubuh yang sangat penting keberadaan dan fungsinya. Liver berjumlah satu buah dan terletak di sisi tubuh bagian depan sebelah kanan yang terlindungi oleh tulang rusuk. Liver berfungsi sebagai penetralisir racun atau detoksifikasi. Segala hal yang masuk ke dalam tubuh akan dinetralisir dari racun terlebih dahulu oleh liver sebelum mengalami proses lebih lanjut di dalam tubuh. Racun ini biasanya berasal dari bahan-bahan kimia yang terdapat di dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi. Tanya: Oleh karena liver berfungsi sebagai penetralisir racun, apakah liver kebal terhadap penyakit? Jawab: Tidak. Liver tetap dapat terserang berbagai penyakit salah satunya penyakit yang disebabkan oleh virus. Bila tidak mendapat penanganan secara cepat dan tepat, maka liver dapat rusak dan kehilangan fungsinya. Bila hal tersebut terjadi, maka tubuh kita tidak lagi mampu untuk menetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh secara optimal. Virus yang biasanya menyerang organ hati adalah virus hepatitis, yaitu virus hepatitis A, B dan C. Tanya: Lalu, apa itu penyakit hepatitis B? Apakah penyakit hepatitis B berbahaya? Jawab: Hepatitis B adalah penyakit pada organ hati yang diakibatkan oleh infeksi virus hepatitis B dan dapat terjadi secara akut maupun kronis. Hepatitis B yang tidak mendapat pengobatan secara tepat, dapat berkembang menjadi sirosis hati ataupun kanker hati. Kedua kondisi ini dapat berakibat pada kematian. Menurut WHO, sejak tahun 2000 angka kematian karena hepatitis B mencapai 600.000 jiwa per tahunnya. Tanya: Apakah penyakit hepatitis B bisa menular pada orang lain? Jawab: Virus hepatitis B sama seperti virus lain, mampu menular dari seorang yang sakit kepada orang lain yang sehat. Media utama penularan adalah darah, cairan tubuh lainnya milik penderita seperti saliva (air liur), cairan vagina dan semen. Penularan terjadi secara vertikal dan horizontal. Secara vertikal yaitu dari ibu ke anak, pada saat anak masih di dalam kandungan atau saat proses melahirkan. Secara horizontal dari seorang kepada orang yang lain misalnya melalui hubungan seksual, penggunaan jarum suntik bersama pada narkoba atau transfusi darah yang tidak melalui skrining. Tanya: Seperti apa gejala-gejala yang timbul bila terinfeksi hepatitis B? Jawab: Gejala dapat timbul mulai dari mata dan kulit nampak kuning, hati membesar, nyeri perut, mual, muntah hingga hanya berupa keluhan badan sering lemas dan bahkan tidak menimbulkan gejala yang dapat dilihat secara langsung oleh mata. Hal inilah yang mengakibatkan sering luputnya seseorang dari dugaan hepatitis B sehingga pada saat timbul gejala sudah berada pada kondisi yang tidak baik dan sulit teratasi. Tanya: Apakah infeksi hepatitis B akut selalu akan berkembang menjadi kronis? Jawab: Tidak selalu. Pada orang dewasa, 90% yang terkena hepatitis B dapat mengalami kesembuhan sedangkan kurang dari 5% sisanya dapat berkembang menjadi kronis. 15-25% orang dewasa yang terinfeksi hepatitis B sejak usia kanak-kanak, dapat menjadi kronis dan berkembang menjadi sirosis ataupun kanker hati. Lain halnya dengan orang dewasa, pada anak-anak yang terinfeksi sebelum usia 1 tahun, 80-90% diantaranya dapat berkembang menjadi kronis. Sedangkan bila terinfeksi pada usia kurang dari 6 tahun, hanya 30-50% yang berkembang menjadi kronis. Tanya: Apa yang dimaksud dengan hepatitis B kronis? Jawab: Seseorang dinyatakan menderita hepatitis B kronis bila selama enam bulan atau lebih memiliki nilah HbsAg yang tetap positif di dalam darah. Hepatitis B kronis pada anak-anak seringkali tidak bergejala, anak nampak sehat dan pertumbuhan berjalan secara normal tanpa hambatan. Hepatitis B kronis yang terdiri atas lima tahap dimana pada tahap pertama seorang penderita hepatitis B kronis memiliki tingkat viremia paling tinggi yang berarti penderita tersebut sangat infeksius, dapat masuk dalam kondisi sirosis dimana kondisi ini dapat diatasi dengan pengobatan (terkompensasi) ataupun tidak lagi dapat diatasi dengan pengobatan (tidak terkompensasi) dan berujung dengan kematian atau berkembang menjadi kanker hati yang juga berujung pada kematian. Pada sirosis terkompensasi, 84% penderita memiliki usia harapan hidup selama 5 tahun dan hanya 14-35% pada sirosis tidak terkompensasi. Tanya: Bagaimana cara mengetahui seseorang terinfeksi hepatitis B? Jawab: Melalui gejala-gejala yang dialami dan dipastikan melalui pemeriksaan darah. Pemeriksaan darah mencakup fungsi hati, ada tidaknya virus hepatitis B melalui ada tidaknya antigen hepatitis B serta kadar antibodi yang dimiliki tubuh terhadap hepatitis B. Tanya: Pengobatan seperti apa yang dapat diberikan pada penderita hepatitis B? Jawab: Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B oleh karena itu pengobatan terbaik adalah dengan obat antiviral, seperti lamivudine, adefovir, dan lainnya, dengan dosis pemberian sesuai dengan anjuran dokter. Serta menjaga asupan makan untuk tubuh secara optimal. Bagi yang sudah memasuki tahap sirosis, dapat dilakukan transplantasi hati sesuai dengan kondisi penderita dan instruksi dokter. Tanya: Bagaimana cara melindungi diri dari infeksi hepatitis B? Jawab: Dengan vaksinasi hepatitis B. Pemberian vaksinasi ini telah diterapkan oleh WHO untuk perlindungan sejak dini dari infeksi hepatitis B. Vaksinasi hepatitis B telah dikenal sejak tahun 1982 dan terbukti 95% efektif sebagai preventif (pencegahan) dari infeksi hepatitis B. Mengingat tingginya angka penderita hepatitis B kronis terutama pada mereka yang mendapat infeksi sejak usia kurang dari 1 tahun (80-90%), maka vaksinasi harus diberikan sejak usia dini yaitu segera setelah seorang bayi lahir. Vaksinasi diberikan sebanyak tiga kali, yaitu saat lahir, usia 1 bulan dan usia 6 bulan. Pemberian pada usia 1 dan 6 bulan dapat diberikan bersama dengan vaksinasi DPT. Selain vaksinasi, hal lain yang dapat dilakukan sebagai pencegahan diantaranya memilih prosedur persalinan secara operasi (Sectio Caesar) dibandingan persalinan pervaginam pada ibu hamil dengan hepatitis B positif (risiko penularan melalui SC vs persalinan pervaginam adalah 10,5% vs 28%). Juga, penggunaan kondom saat berhubungan seks, tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian, skrining darah pada proses transfusi darah. Tanya: Jadi hepatitis B berbahaya namun dapat kita hindari? Jawab: Tentu. Setiap penyakit tidak terkecuali hepatitis B adalah berbahaya bagi tubuh kita bilamana tidak mendapat pengobatan secara tepat dan cepat. Namun tidak perlu menunggu untuk terinfeksi, lindungi diri sejak awal dan hindari hal-hal yang dapat menjadi sumber penularan. Selamat memulai dan menjalani hidup sehat J  

DAFTAR PUSTAKA

  1. Dienstag, Jules L., M.D. Hepatitis B Virus Infection. N Engl J Med 2008; 359; 14
  2. European Association for the Study of the Liver. EASL Clinical Practice Guidelines: Management of Chronic Hepatitis B virus Infection. Journal of Hepatology 2012 vol 57. 167-185.
  3. Fauci, et.al. Hepatitis B. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 17th edition vol. I. 1942-1973
  4. Paganelli, Massimiliano, et.al. Chronic Hepatitis B in Children and Adolescent. Journal of Hepatology 2012 vol. 57. 885-896.
  5. Peng, Cheng-Yuan, et.al. Hepatitis B Virus-related Decompensated Liver Cirrhosis; Benefits of Antiviral Theraphy. Journal of Hepatology 2012 vol 57. 442-450.
  6. WHO. Hepatitis B. Juli 2013. Diunduh dari http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs204/en/, 8 Juni 2014.
  7. WHO. Weekly epidemiological record. No. 40. 2009; 405-420. Diunduh dari http://www.who.int/wer, 8 Juni 2014.