Sinar matahari memiliki banyak manfaat bagi kesehatan antara lain membantu pembentukan vitamin D yang dibutuhkan oleh tulang. Namun, sinar ini juga dapat berbahaya bagi kulit, bahkan bisa menyebabkan kanker kulit. Karena itu kita perlu melindunginya. Sebenarnya, tidak sepanjang hari sinar Matahari merusak kulit. Yang perlu diwaspadai adalah pancaran tergarangnya yang berlangsung sejak pukul 09.00 - 15.00. Sebab, di dalamnya terkandung sinar ultraviolet (UV) biang perusak kulit. Itu pun tidak semua jenis UV lho. Apalagi pada dasarnya, kulit manusia dilengkapi dengan perlindungan alami dari sinar matahari yaitu pigmen melanin. Kulit yang gelap menandakan kandungan pigmen dalam jumlah banyak, begitu juga sebaliknya. Penelitian membuktikan bahwa semakin banyak pigmen, semakin kecil kemungkinan seseorang terkena kanker kulit karena pigmen berfungsi sebagai penangkal dampak sinar UV yang dipancarkan matahari. Menurut panjang gelombangnya, UV terbagi dalam tiga jenis, yaitu UVC (100 - 290 nanome-ter), UVB (290 - 320 nm), dan UVA (320 - 400 nm). Untung UVC hampir seluruhnya diserap lapisan ozon di atas sana, sehingga tak berpengaruh pada kulit. Tapi, UVC "buatan" juga bisa dihasilkan oleh pancaran lampu yang berisi air raksa (merkuri), xenon, dan germicidal lamp (lampu penghalau kuman penyakit). UVB berpengaruh pada epidermis (kulit ari), lapisan terluar kulit. Saat terpajan UVB, kulit menghasilkan melanin, zat pelindung dan pewarna kulit. Dengan kata lain, UVB merangsang produksi melanin. Makin lama kulit terpajan, makin mendekati coklat warnanya. Masalahnya, ketika tubuh tak lagi cukup menghasilkan melanin untuk menangkis sinar UVB yang diserap kulit, terjadilah sun burn alias terbakar Matahari. Untungnya, UVB tak cukup kuat menembus kaca jendela. Maka, meski duduk dekat jendela rumah, kafe, atau kendaraan, kita bakal tetap aman. Namun, ketika berada di luar ruang, UVA bisa langsung menembus sampai ke dermis (kulit jangat), lapisan di bawah kulit ari, tempat kolagen si penunjang kekenyalan kulit, kelenjar keringat, kelenjar lemak, akar rambut, ujung-ujung saraf perasa dan pembuluh darah kapiler berada. Tak heran kalau pajanan UVA dianggap paling bertanggung jawab terhadap beragam kerusakan kulit, seperti penuaan, keriput, noda hitam, tahi kulit, dan kerusakan sel kulit tak terbaharui yang bisa berujung kanker kulit. Sinar UV juga berpengaruh buruk pada mata, mempercepat pengeruhan lapisan kornea yang kita kenal sebagai gangguan katarak. Apa yang harus dilakukan untuk menghindarinya? Manusia sejak dulu sudah sadar, kulit perlu dilindungi dari sisi jahat sinar Matahari. Itu sebabnya mereka mencari tempat berteduh di gua-gua, hingga akhirnya membangun rumah seperti bentuknya yang sekarang. Juga dengan membuat pelindung yang melekat di tubuh berupa pakaian dan berbagai aksesorinya, semisal topi, payung, dan kacamata antisinar Matahari. Di era modern, alat-alat pelindung kulit itu dibuat lebih canggih. Soalnya, untuk menjaga penampilan, semua bagian tubuh harus dilindungi, termasuk wajah dan bagian terbuka lainnya. Berkat itu semua, kita jadi bebas melakukan berbagai kegiatan praktis dengan aman dan nyaman. Sewaktu berenang, misalnya, bagian tubuh yang tak tertutup pakaian bisa dilindungi dengan bahan antisinar Matahari yang bisa dilapiskan ke kulit. Orang menyebutnya sun block atau tabir surya. Penggunaan sun protector atau tabir surya dapat membantu menghindari cahaya berbahaya sebelum menembus kulit. Banyak produk tabir surya yang ditawarkan. Ada yang berwujud krim, lotion, semprot, atau lip balm. Ada juga yang dibubuhi vitamin, pelembab sari lidah buaya, teh hijau, serta pewangi. Ada juga yang mengandung SPF 2 hinga SPF 60. Penggunaan tabir surya sebaiknya disesuaikan dengan jenis kulit dan seberapa aktif kegiatan kita di bawah sinar matahari. SPF (Sun Protection Factor), satuan tabir surya lazim digunakan untuk menunjukkan berapa lama waktu kita bisa terpapar sinar matahari tanpa kulit jadi terbakar. Angka SPF diperoleh dari percobaan di dalam ruangan dengan pemajanan berkas sinar yang mirip dengan UVB Matahari pada manusia. Dalam percobaan, beberapa orang diberi tabir surya, yang lain tidak. Angka SPF diperoleh dengan membagi lamanya sinar yang menimbulkan kemerahan (gejala sun burn) pada kulit yang diolesi tabir surya dengan lamanya sinar menim-bulkan kemerahan pada kulit yang tak terlindung. Penghitungan SPF disesuaikan dengan dosis minimal timbulnya eritema atau kemerahan (sun burn) pada kulit. Para dermatologis sepakat bahwa SPF 15 dapat melindungi kulit sampai sekitar 94 hingga 95 persen dari sinar UVB. Namun ini berlaku untuk pekerja kantoran yang tidak begitu lama bermandi matahari. Untuk pekerja lapangan, atau mereka yang biasa melakukan olahraga luar ruang, seperti renang, sebaiknya menggunakan minimal SPF 30 agar benar-benar terlindung dari paparan sinar matahari. Yang penting adalah sesuaikan penggunaan tabir surya dengan aktivitas dan bahan yang cocok dengan jenis kulit. Dari kandungan zatnya, tabir surya kerap dibedakan menjadi sun block dan sun screen. Sun block yang secara fisik memantulkan sinar UV umumnya mengandung seng oksida dan titanium dioksida, dan harus dioleskan lebih tebal. Sementara sun screen atau sun filter secara kimiawi menyerap sinar UV, agar tak menyerang sel kulit hidup; biasanya mengandung avobenzone dan benzophenone yang bisa menangkis serangan UVA, dan cukup dioleskan tipis saja. Prinsipnya, baik sun block atau sun screen, tetap sama saja sebagai tabir surya penangkis, baik UVB maupun UVA. Krim atau semprot? Jenis kulit menentukan pilihan wujud tabir surya. Untuk kulit berminyak dan cenderung berjerawat, termasuk kulit di masa pubertas, sebaiknya pilih wujud lotion atau gel dan antijerawat. Sementara untuk kulit kering, apalagi berusia di atas 40 tahun dan kerap di ruangan ber-AC, lebih baik pilih yang krim. Saat berolahraga atau kegiatan luar ruang, sebaiknya pilih tabir surya lotion, gel, dan semprot. Adapun cara pakai tabir surya semprot yang benar adalah dengan menyemprotkan dulu ke telapak tangan, baru oleskan ke wajah dan bagian tubuh lain. Kalau langsung disemprot ke bagian yang kita tuju, biasanya menyebar dan tak terserap sempurna, selain boros dalam pemakaian. Wujud semprot biasanya juga disukai pria karena cepat dan praktis, jauh dari kesan dandan genit. Tidak jarang juga kita mendengar tabir surya khusus wajah, badan, mata, dan bibir atau bisa sekaligus untuk wajah dan badan. Perbedaan ini biasanya lebih ke arah bahan dan zat aktifnya. Tabir surya khusus wajah umumnya bermolekul lebih lembut, dilengkapi pelembab, vitamin bahkan alas bedak, umumnya berwujud krim. Sementara untuk tubuh, biasanya dibubuhi pelembab dan pewangi. Hati-hati bila tabir surya dilengkapi dengan pelembab, pemutih, dan vitamin. Zat aktif tabir surya macam ini bekerja lebih cepat hingga lebih cepat kedaluwarsa. Jangan pakai lagi kalau sudah berubah warna, bau, dan bentuknya. Tapi kalau sekadar berubah wujud, misalnya mencair, bisa disimpan dulu di kulkas, baru gunakan. Idealnya, cara memakai tabir surya yang benar adalah dengan memakainya minimal setengah jam sebelum beraktivitas, misalnya berenang. Bahan aktif dalam tabir surya yang tahan air sekalipun perlu waktu untuk menyerap di kulit. Umumnya, tabir surya baru dipakai persis sebelum jalan-jalan ke pantai atau terjun ke kolam renang. Begitu naik dari kolam, diseka handuk, tabir surya pasti hilang, walau kemasannya menyatakan sebaliknya. Pemakaian tabir surya pun harus diulang. Tunggu setengah jam sambil berangin-angin santai, baru nyebur lagi. Kesalahan dalam pemakaian ini menyebabkan tabir surya bekerja kurang efektif sehingga kulit tetap bisa terbakar oleh sinar matahari. Banyak juga yang takut mengoleskan di sekitar lingkar mata, padahal aman. Tentu saja harus hati-hati jangan sampai melewati garis mata. Diamkan dulu sampai kering. Hindari mengucek-ucek mata karena bisa membuat tabir surya masuk ke mata. Mengenakan tabir surya bukan berarti Anda aman dari pengaruh buruk sinar matahari. Pasalnya, tabir surya tidak bertahan lama di kulit Anda. Begitu terkena air, pasir, atau keringat ia akan luntur dari kulit Anda. Tak cuma itu, efektivitas tabir surya juga akan melemah seiring waktu. Jika berminat memakai sun protector, pilihlah tabir surya yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Daftar Pustaka www.dermatology.ucsf.edu www.dermatology.about.com www.news-medical.net www.skinlight.co.uk www.journal.unair.ac.id