Di Indonesia masih banyak yang berpandangan negatif terhadap pemeriksaan kesehatan pranikah (premarital check up) sehingga enggan melakukan pemeriksaan tersebut. Alasan keengganan yang sering terlontar yaitu "Buat apa sih ? Nanti kalo ternyata ada apa-apa, gimana ? Malah jadi pikiran dan bisa-bisa gak jadi nikah deh". Keengganan pun terkadang muncul karena anggapan tabu terhadap premarital check up yang bisa menyinggung calon besan atau mertua dengan menguak riwayat kesehatan keluarga. Mari kita lebih membuka pikiran dan memahami arti pentingnya premarital check up untuk investasi panjang dalam perjalanan bahtera hidup ke depannya. Kita pasti akan sadar bahwa keengganan tersebut adalah suatu kesalahan besar. Jangan sampai kita baru tersadarkan ketika masalah kesehatan terlanjur menimpa diri sendiri, pasangan atau bahkan anak yang dilahirkan kelak. Padahal sebenarnya hal tersebut bisa dicegah bila diketahui sejak awal. Bukan hanya penyesalan yang akan menghinggapi, namun kebahagiaan yang telah Anda dan pasangan pupuk pun akan mulai melayu. Dengan melakukan premarital check up, berarti Anda dan pasangan telah mengupayakan tindakan pencegahan (preventif) terhadap masalah kesehatan, terutama yang bisa mempengaruhi kesuburan pasangan maupun calon keturunan. Bukankah salah satu tujuan sebuah pernikahan adalah untuk memperoleh ‘buah’ yang unggul? Bisa jadi Anda atau pasangan tampak sehat, namun ternyata sebenarnya memiliki penyakit yang diwariskan keluarga atau pun bukan dan harus disikapi secara segera serta serius karena bisa membahayakan Anda dan pasangan, serta janin atau anak yang kelak dilahirkan, seperti: diabetes melitus, hepatitis B, thalassemia, ketidakcocokan rhesus, penyakit menular seksual, dan penyakit infeksi lainnya (Rubella, Toxoplasma dan Cytomegalovirus). Oleh karena itu, premarital check up dipandang sangat perlu untuk dilakukan oleh semua pasangan yang akan menikah. Premarital check up umumnya merupakan sekumpulan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan status kesehatan kedua calon mempelai terutama mendeteksi adanya penyakit menular, menahun atau diturunkan yang dapat mempengaruhi kesuburan pasangan maupun kesehatan janin yang akan dikandung. Sebetulnya tidak ada batasan waktu yang pasti, namun premarital check up yang dilakukan 6 (enam) bulan sebelum dilangsungkan pernikahan dianggap ideal. Pertimbangannya, bila ditemukan adanya masalah pada hasil pemeriksaan, masih cukup waktu untuk melakukan konseling dan memutuskan penanganan yang tepat terhadap masalah yang ditemukan. Jadi, sudahkah Anda dan pasangan memasukkan premarital check up ke dalam check list persiapan pernikahan?   (PRODIA)