Kortikosteroid adalah suatu jenis hormon steroid yang diproduksi oleh otak kita. Hormon ini berperan dalam berbagai macam proses fisiologis, seperti respon terhadap stress, respon terhadap sistem kekebalan tubuh, pengaturan proses peradangan, metabolisme karbohidrat, pemecahan protein, pengaturan kadar elektrolit dalam darah, sampai pengaturan tingkah laku. Dalam bentuk obat, kortikosteroid banyak digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit, terutama yang berkaitan dengan peradangan, seperti alergi, radang tenggorokan, peradangan kulit, peradangan mata, asma, peradangan sendi (rematik), hepatitis, lupus erythematosa sistemik (SLE), penyakit peradangan lambung, penyakit Addison, dan banyak lagi lainnya. Steroid terdapat dalam sediaan oral (minum), nasal spray (semprot hidung), topikal (olesan kulit), dan injeksi (suntik). Memang banyak kegunaan dari obat kortikosteroid ini. Akan tetapi, obat ini juga membawa kemungkinan akan terjadinya efek samping. Efek samping yang mungkin terjadi sangatlah bervariasi, dan tidak sama pada setiap orang. Sehingga, penggunaan segala macam steroid memerlukan pengawasan ketat dari dokter. Dosis yang diberikan juga perlu diatur, dan tidak boleh diberhentikan secara tiba-tiba, melainkan harus diturunkan secara perlahan sampai dosis minimal terlebih dahulu. Jika steroid dihentikan mendadak, maka akan menyebabkan sindrom penarikan kortikosteroid (rebound effect). Sindrom ini menyebabkan kulit menjadi merah, sehingga disebut juga "Red Skin Syndrome". Gejalanya adalah berupa ruam merah yang semakin lama semakin merah, gatal, dan rasa terbakar.