LEUKEMIA merupakan suatu penyakit yang merujuk kepada satu kelompok penyakit darah yang ditandai dengan kanker pada jaringan-jaringan yang memproduksi darah. Secara lebih rinci, leukimia adalah sekelompok penyakit neoplastik yang beragam, ditandai oleh perbanyakan secara tak normal atau transformasi maligna atau ganas dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid. Sel-sel normal di dalam sumsum tulang digantikan oleh sel tak normal atau abnormal. Sel abnormal ini keluar dari sumsum dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Sel leukemia mempengaruhi hematopoiesis atau proses pembentukan sel darah normal dan imunitas tubuh penderita. Kata leukemia berarti "darah putih", karena pada penderita ditemukan banyak sel darah putih sebelum diberi terapi. Sel darah putih yang tampak banyak merupakan sel yang muda, misalnya promielosit. Jumlah yang semakin meninggi ini dapat mengganggu fungsi normal dari sel lainnya. Leukemia dapat diklasifikasikan atas dasar perjalanan alamiah penyakit: akut dan kronis. Leukemia akut ditandai dengan suatu perjalanan penyakit yang sangat cepat, mematikan, dan memburuk. Apabila tidak diobati segera, maka penderita dapat meninggal dalam hitungan minggu hingga hari. Sedangkan leukemia kronis memiliki perjalanan penyakit yang tidak begitu cepat sehingga memiliki harapan hidup yang lebih lama, hingga lebih dari 1 tahun. Penyebab leukemia belum diketahui secara pasti, namun diketahui beberapa faktor yang dapat mempengaruhi frekuensi leukemia, seperti:
  1. Radiasi
  2. Faktor leukemogenik Terdapat beberapa zat kimia yang telah diidentifikasi dapat mempengaruhi frekuensi leukemia: - Racun lingkungan seperti benzena - Bahan kimia industri seperti insektisida - Obat untuk kemoterapi
  3. Epidemiologi - Di Afrika, 10-20% penderita Leukemia Mielositik Akut (LMA) memiliki kloroma di sekitar orbita mata - Di Kenya, Tiongkok, dan India, Leukemia Mielositik Kronik (LMK) mengenai penderita berumur 20-40 tahun -  Pada orang Asia Timur dan India Timur jarang ditemui Leukemia Limfositik Kronik (LLK).
  4. Herediter Penderita sindrom Down memiliki insidensi leukemia akut 20 kali lebih besar dari orang normal.
  5. Virus Virus dapat menyebabkan leukemia seperti retrovirus dan virus leukemia feline.
Pada leukemia akut didapatkan gejala klinis yang disebabkan:
  1. Kegagalan sumsum tulang antara lain: pucat, letargi, demam, gambaran infeksi mulut, tenggorakan, kulit pernafasan, memar, pendarahan gusi spontan, dan pendarahanan dari tempat fungsi vena yang disebabkan oleh trombositopenia.
  2. Infiltrasi organ lain, yaitu: nyeri tulang, hipertrofi dan infiltrasi gusi, sakit kepala, muntah-muntah, penglihatan kabur dan terkadang terjadi pembengkakan testis pada LLA dan tanda penekanan mediastum (khusus pada LLA).
Menurut Mediarty, leukemia kronis mencakup dua tipe utama yaitu leukemia mielositik/granulositik kronik (LMK) dan leukemia limfositik kronik (LLK). Tipe kronis lainya termasuk leukemia sel rambut (hairy cell leukemia, leukemia prolimfositik) dan berbagai sindrom mielodisplastik yang sebagian dianggap sebagai bentuk leukemia kronis. Leukemia mielositik kronik memilik gejala-gejala klinis yaitu:
  1. Penurunan berat badan, lemah, anoreksia, dan keringat malam.
  2. Splenomegali hampir selalu ada dan sering besar disertai sering kurang enak badan, nyeri, rasa penuh di perut atau gangguan pencernaan.
  3. Gambaran anemia, termasuk pucat dan lemas.
  4. Kadang-kadang ada memar dan pendarahan dari tempat lain.
  5. Sering didapatkan nyeri tekan pada tulang dada dan hepatomegali.
  6. Gangguan penglihatan.
Leukemia akut dapat didiagnosa melalui beberapa alat, seperti:
  • Pemeriksaan morfologi: darah tepi, aspirasi sumsum tulang, biopsi sumsum tulang
  • Pewarnaan sitokimia
  • Immunofenotipe
  • Sitogenetika
  • Diagnostis molekuler
PENGOBATAN KANKER DARAH Pengobatan kanker darah akut (leukemia akut) menurut Mediayarti bertujuan kuratif atau paliatif: Pengobatan kuratif meliputi:
  1. Siteroduksi dengan obat sitostatika mulai dari kombinasi sitostatika yang ringan hingga yang agresif dengan membutuhkan "rescue" sel iduk darah penderita dari darah perifer untuk penyelamat pada ablasi sumsum tulang.
  2. Transplantasi sel induk darah allogeni atau autologus dari sumsum tulang, darah perifer atau tali pusar.
  3. Suportif, melalui transpusi darah, pemberian vitamin B6 dan 12, zat besi, gizi yang cukup, antibiotik dan anti jamur bila ada indikasi.
Sedangkan pengobatan leukemia kronik tergantung pada jenis dan fase atau stadium mana penderita ditemukan. Sumber : Simon, Sumanto, dr. Sp.PK. 2003. Neoplasma Sistem Hematopoietik: Leukemia. Jakarta:Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya Jakarta.