Dermatitis seboroik merupakan suatu kelainan kulit kronis yang sering dikaitkan dengan peningkatan produksi sebum di kulit kepala atau di wajah dan bagian tubuh yang berminyak. Terdapat 2 bentuk dermatitis seboroik, yaitu bentuk infant (bayi) dan dewasa. Manifestasi klinisnya berupa bercak kemerahan dengan skuama berminyak di atasnya, dan ketombe. Penyebab penyakit ini memang belum diketahui, tetapi bukan disebabkan oleh alergi, higiene atau kebersihan yang buruk atau infeksi. Faktor pencetusnya antara lain status seboroik yang diturunkan. Bayi baru lahir memiliki kelenjar sebasea yang besar dengan tingkat sekresi sebum yang tinggi seperti pada orang dewasa. Kelenjar sebasea ini akan tidak aktif selama 9-12 tahun setelah stimulasi hormon androgen dari ibu berhenti. Hal ini menerangkan mengapa dermatitis seboroik pada bayi terjadi pada bulan-bulan pertama kehidupan. Faktor lain yang berkontribusi adalah pertumbuhan koloni Malassezia furfur yang berlebihan yang akan mengakibatkan reaksi peradangan, baik karena produk metabolitnya masuk ke dalam epidermis maupun karena sel jamur itu sendiri pada permukaan kulit. Pada orang yang telah memiliki faktor predisposisi, timbul dan kambuhnya dermatitis seboroik dapat disebabkan oleh faktor kelelahan, stres emosional, infeksi, maupun defisiensi imunitas. Dermatitis Seboroik pada Infant (bayi) Pada bayi, penyakit ini sering terjadi dalam usia 3 bulan pertama kehidupan. Peradangan dermatitis seboroik pada bayi menyebabkan terjadinya cradle cap yang ditandai dengan bercak kemerahan yang luas dengan skuama tebal yang berminyak dan krusta pada kulit kepala, terutama pada area frontal dan parietal. Ruam ini dapat meluas sampai ke wajah, lipatan belakang telinga, leher, badan, bahkan ke lipat paha. Kerontokan rambut biasanya tidak terjadi. Bentuk infant ini pada umumnya tidak gatal walaupun ruam kulitnya luas. Dermatitis Seboroik pada Dewasa Penyakit ini cenderung mulai pada akhir masa remaja dan pada orang dewasa sekitar usia dekade 4 sampai dekade 7, dan merupakan kelainan kronis yang sering kambuh. Keluhan umumnya berupa rasa gatal. Lokasi yang sering terkena adalah kulit kepala, dahi, alis mata bagian dalam, lipatan nasolabial, lipatan belakang telinga, liang telinga luar, area dada dan punggung. Area lain yang lebih jarang dikenai adalah leher bagian samping, lipatan ketiak, lipatan bawah mammae, umbilikus, dan lipatan genitokrural. Bentuk yang ringan dapat terlihat sebagai pitiriasis sicca atau yang lebih kita kenal dengan sebutan ketombe atau dandruf, berupa skuama halus sebagai bercak kecil di kulit kepala yang sering kali tidak terasa gatal, kemudian dapat meluas ke seluruh kulit kepala sebagai skuama halus dan kasar. Selain itu bentuk yang ringan dapat hanya berupa bercak kemerahan pada lipatan nasolabial. Bentuk lainnya adalah pitiriasis steatoides dengan skuama yang berminyak dan lebih tebal serta berkrusta. Dermatitis kronis pada liang telinga luar dapat menjadi satu-satunya manisfestasi dermatitis seboroik. Manifestasi klinis lain yang mungkin ditemukan adalah blefaritis dengan krusta berwarna kuning madu di sepanjang batas kelopak mata dan serpihan debris sel di sekitar bulu mata. Dermatitis Seboroik pada Individu dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) Dermatitis Seboroik merupakan salah satu manifestasi kulit yang umum dijumpai pada pasien-pasien dengan infeksi HIV/AIDS, dapat timbul de novo (pada kulit normal) atau sebagai perburukan dermatitis seboroik yang sudah ada sebelumnya. Distribusi lesi lebih luas, manifestasi klinis lebih buruk, dan terapi menjadi lebih sulit. Penatalaksanaan Secara umum terapi ditujukan untuk melepaskan skuama dan krusta, menghambat kolonisasi M. furfur, mengontrol infeksi sekunder, mengurangi gatal serta bercak kemerahan dan mengontrol penyakit. Sedangkan dermatitis seboroik pada bayi umumnya akan sembuh dalam waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mencegah iritasi kulit lebih lanjut yang akan memperberat penyakit dan rasa gatal. Misalnya dengan membersihkan kulit 1-2x sehari dengan pembersih yang tidak mengandung sabun (non-soap cleanser), menghindari penggunaan bahan-bahan beralkohol, tonik rambut, dan bahan-bahan iritan lainnya. Pada bayi, dapat digunakan popok berbahan katun, shampo bayi yang lembut dan aplikasikan emolien atau krim untuk perawatan kulit. Beberapa pilihan terapi topikal untuk dermatitis seboroik, antara lain:
  1. Keratolitik
Berfungsi melepaskan skuama-skuama yang bisa digunakan jika dibutuhkan, seperti asam salisilat, urea, dan coal tar.
  1. Anti jamur
Untuk mengurangi kolonisasi Malassezia, seperti ketoconazole yang tersedia dalam bentuk krim atau shampo. Pada beberapa galur Malassezia yang telah resisten, dapat digunakan zinc pyrithione atau selenium sulphide.
  1. Kortikosteroid potensi ringan
Untuk meredakan peradangan pada eksaserbasi akut, dan hanya digunakan untuk jangka waktu pendek.
  1. Penghambat calcineurin
Seperti pimekrolimus atau takrolimus juga dapat digunakan. Pada kasus-kasus berat atau resisten pada pasien dewasa, dapat diberikan obat oral anti jamur, antibiotik, anti inflamasi, atau retinoid untuk kasus-kasus tertentu, sesuai rekomendasi dokter.   DAFTAR PUSTAKA
  1. Plewig G, Jansen T. Seborrheic Dermatitis. In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine. 7th ed. New York: McGraw-Hill; 2008. p.219-25.
  2. Djuanda A. Dermatosis Eritroskuamosa: Dermatitis Seboroik. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 5th ed. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI; 2007. h.200-2.
  3. Oackley A. Seborrhoeic Eczema. Diunduh dari http://www.dermnetnz.org/dermatitis/seborrhoeic-dermatitis.html. Tanggal 21 September 2014.
  4. Johnson BA, Nunley JR. Treatment of Seborrheic Dermatitis. Am Fam Physician; 2000. 61(9): 2703-10. Tanggal 21 September 2014.