Indonesia Negara ke-3 Penderita Kusta terbanyak!

30TH_CITY_LEPROSY_1346299f

Sampai saat ini penyakit kusta masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Sampai tahun 2011 penderita kusta masih mencapai 20.023 jiwa. Indonesia adalah negara ketiga setelah India dan Brazil dengan jumlah penderita kusta terbanyak. Masalah kusta ini diperberat dengan banyaknya pasien yang mendapat pengobatan ketika sudah terjadi cacat. Hal ini disebabkan karena masih tingginya stigma di masyarakat yang disebabkan kurangnya pemahaman penyakit kusta di sebagian besar masyarakat. Pasien kusta seringkali dijauhi atau dikucilkan karena cacat tubuh yang tampak menyeramkan. Padahal cacat tubuh tersebut sebenarnya dapat dicegah apabila diagnosis dan penanganan penyakit dilakukan secara dini. Apa yang sebenarnya terjadi pada penyakit kusta ini? Dalam penyakit kusta, beberapa gangguan yang terjadi adalah sebagai berikut: Leprosy_deformities_hands
  • Gangguan pada saraf sensorik menyebabkan timbulnya mati rasa pada saraf sehingga seringkali pasien tidak menyadari adanya luka karena tidak merasa sakit. Kecacatan pada kusta dapat disebabkan karena bakteri M. lepra menyebabkan gangguan pada saraf sensorik, otonom, maupun motorik.
  • Gangguan pada saraf otonom menyebabkan kulit menjadi sangat kering dan pada akhirnya juga menyebabkan luka di kulit.
  • Gangguan pada saraf motorik menyebabkan kelemahan otot-otot, terutama otot mata, kaki, dan tangan sehingga menyebabkan:
  • claw hand dan claw toes, yaitu jari tangan dan kaki kiting.
  • wrist drop dan foot drop , yaitu kaki dan tangan semper
  • lagoftalmos, yaitu kelopak mata tidak dapat menutup sempurna), dan lain-lain.
  Rehabilitasi untuk Penderita Kusta Mukti-Datta4_b_1342 Seperti yang sudah disebutkan di atas, penderita kusta bukan berarti pasti akan cacat yang menyebabkan tidak produktif lagi. Tapi sebenarnya, upaya pencegahan cacat dapat dilakukan dengan diagnosis sedini mungkin dan pengobatan yang teratur dan adekuat. Bahkan sekalipun sudah terjadi kecacatan, masih ada harapan dengan upaya rehabilitasi untuk mencegah agar kecacatan tersebut tidak bertambah berat. Rehabilitasi pada pasien kusta terbagi menjadi rehabilitasi medik dan nonmedik. Bentuk rehabilitasi medik antara lain:
  • Perawatan diri sendiri untuk mencegah luka: hal ini dapat dilakukan dengan merendam kaki dan tangan dalam air selama 20 menit, setelah itu diolesi dengan minyak/vaselin secara teratur setiap hari. Apabila terdapat luka bersihkan dengan sabun dan air, setelah itu balut dengan kain bersih yang ditambahkan antiseptik apabila luka tersebut berair, kemudian anjurkan untuk istirahat. Apabila luka tampak berat segeralah rujuk ke RS terdekat.
  • Proteksi tangan dan kaki: anjurkan untuk selalu memakai sepatu atau sandal untuk melindungi kaki terhadap luka. Gunakanlah selalu pelindung jika mengerjakan pekerjaan berisiko, misalnya jika memasak gunakanlah kain sebagai pelindung tangan ketika memegang benda panas atau tajam.
  • Latihan fisioterapi pada otot yang mengalami kelumpuhan untuk mencegah terjadinya kontraktur.
  • Pembuatan sepatu khusus sesuai dengan deformitas yang terjadi.
  • Bedah rekonstruksi untuk koreksi otot yang mengalami kelumpuhan dan bedah septik untuk mencegah perluasan infeksi.
  • Program terapi okupasi yaitu program untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan menolong diri. Pasien dilatih agar dapat menggunakan anggota geraknya dalam setiap aktivitas yang dilakukan tanpa memberatkan cacat yang dieritanya dan untuk meningkatkan kepercayaan diri.
Bentuk rehabilitasi nonmedik antara lain:
  • Rehabilitasi mental berupa bimbingan mental baik pada penderita, keluarga, dan masyarakat untuk emberikan dorongan dan semangat agar mereka dapat menerima kenyataan. Selain itu juga agar penderita dapat mulai menjalani pengobatan dengan teratur dan benar sampai dinyatakan sembuh.
  • Rehabilitasi karya dilakukan agar penderita yang cacat dapat kembali melakukan pekerjaan sebelumnya (setelah mendapat terapi okupasi) atau melatih diri terhadap pekerjaan baru sesuai dengan tingkat cacat, pendidikan, dan pengalaman bekerja sebelumnya.
  • Rehabilitasi sosial bertujuan memulihkan fungsi sosial ekonomi penderita. Rehabilitasi sosial bukanlah bantuan sosial yang harus diberikan secara terus menerus, melainkan upaya yang bertujuan untuk menunjang kemandirian penderita. Misalnya adalah memberikan bimbingan sosial, peralatan kerja, alat bantu cacat, membantu memasarkan hasil usaha, dan lain-lain.
Program rehabilitasi merupakan proses jangka panjang yang bersifat multidimensional, memerlukan intervensi dan penyediaan pelayanan pada beberapa tingkat mulai dari lingkungan keluarga, komunitas, dan nasional. Juga melibatkan kerjasama dokter, terapis, dan pasien. Diharapkan dengan program rehabilitasi ini pasien kusta dapat tetap bersosialisasi di masyarakat. Saya mungkin menderita Kusta, kemanakah harus mencari pertolongan? Bagi pasien kusta yang membutuhkan rehabilitasi medik dan nonmedik dapat dirujuk ke  RS Sitanala Tangerang yang merupakan RS rujukan kusta untuk wilayah selatan Indonesia. Demikianlah sekilas info mengenai kusta dan tips rehabilitasi bagi para penderita kusta, semoga dengan artikel ini kita tahu bagaimana penanganan yang tepat dan apa saja upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah kecacatan akibat kusta. Salam sehat! Referensi :
  1. Nuhonni SA, Cholis M. Rehabilitasi medik I. Dalam: Sjamsoe-Daili ES, Menaldi SL, Ismiarto SP, Nilasari H. Kusta. Edisi 2. 2003. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Hal 94-103.
  2. Halim PW, Kurdi FN. Rehabilitasi nonmedik. Dalam: Sjamsoe-Daili ES, Menaldi SL, Ismiarto SP, Nilasari H. Kusta. Edisi 2. 2003. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Hal 119-27.
  3. Rea TH, Modlin RL. Leprosy. In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. 7th ed. 2008. McGraw-Hill: New York; p. 1786-96.
  4. Brycesson A, Pfaltzgraft KE. Leprosy. 3rd ed. 1990. Churcill Livingstone: New York.