Selain kecanduan, seorang penderita alkohol dapat mengalami keracunan ataupun keadaan 'sakau' juga. Penting pula untuk mengetahui keadaan seperti ini selain kecanduan agar dapat segera dikenali dan diberikan penanganan yang tepat. Yuk, kita bahas mengenai hal tersebut satu-persatu. ALKOHOL SEBAGAI ‘RACUN’? Intoksikasi! Dalam bahas awam, lebih dikenal dengan istilah keracunan, yakni masuknya zat ke dalam tubuh yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan bahkan dapat menyebabkan kematian. Semua zat dapat menjadi racun bila diberikan dalam dosis yang tidak seharusnya. Berbeda dengan alergi, keracunan memiliki gejala yang bervariasi dan harus ditindaki dengan cepat dan tepat karena penanganan yang kurang tepat tidak menutup kemungkinan hanya akan memperparah keracunan yang dialami penderita. Racun sendiri dapat diartikan sebagai zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan fisiologik, yang dalam dosis toksik akan menyebabkan gangguan kesehatan sampai kematian. Keracunan alcohol dapat menyebabkan penurunan daya reaksi atau kecepatan. Terjadi pula penurunan kemampuan untuk menduga jarak dan keterampilan mengemudi sehingga cenderung menimbulkan kecelakaan lalu-lintas di jalan, pabrik, dsb. Penurunan kemampuan ini akan menimbulkan tindakan yang melanggar hukum karena orang yang melakukannya bisa dianggap dalam keadaan ‘tidak sadar’. KERACUNAN ALKOHOL, APA TANDANYA? Tanda dan gejala intoksikasi alkohol sendiri tergantung pada berapa kadar alkohol dalam tubuh. • Pada kadar yang rendah, 10-20 mg% sudah menimbulkan gangguan berupa penurunan keterampilan tangan dan perubahan tulisan tangan. • Pada kadar 30-40% telah timbul penciutan lapang pandangan, penurunan ketajaman penglihatan, dan pemanjangan waktu reaksi. • Pada kadar kurang lebih 80 mg% telah terjadi gangguan penglihatan 3 dimensi, kedalaman pandangan dan gangguan pendengaran. Selain itu tampak pula gangguan pada kehidupan psikisnya, yakni penurunan kemampuan memusatkan perhatian, konsentrasi, asosiasi, dan analisa. • Keterampilan mengemudi mulai menurun pada kadar alcohol darah 30-50 mg% dan lebih jelas lagi pada kadar 150 mg%. • Alkohol dengan kadar dalam darah 200 mg% menimbulkan gejala bnyak bicara, ramai (boisterous behavior), reflex menurun, inkoordinasi otot-otot kecil, kadang-kadang nistagmus dan sering terdapat pelebaran pembuluh darah kulit. • Dalam kadar 250-300 mg% menimbulkan gejala penglihatan kabur, tak dapat mengenali warna, konjungtiva merah, dilatasi pupil (jarang kontriksi), diplopic, sukar memusatkan pandangan/ penglihatan dan nistagmus. Bila kadar dalam darah dan otak makin meningkat akan timbul pembicaraan kacau, tremor tangan dan bibir, keterampilan menurun, inkoordinasi otot dan tonus otot muka menghilnag. • Dalam kadar 400-500 mg%, aktivitas motorik hilang sama sekali, timbul stupor atau koma, pernafasan perlahan dan dangkal, suhu tubuh menurun. Takaran alcohol untuk menimbulkan gejala keracunan bervariasi tergantung dari kebiasaan minum dan sensitivitas genetik perorangan. Umumnya 35 gram alkohol (2 sloki whisky) menyebabkan penurunan kemampuan untuk menduga jarak dan kecepatan serta menimbulkan euphoria. Alkohol sebanyak 75-80 gram (setara 150-200 ml whisky) akan menimbulkan gejala keracunan akut dan 250-500 gram alcohol (setara 500-1000 ml whisky) dapat merupakan takaran fatal. MENGAPA KERACUNAN BISA TERJADI? Alkohol sangat berpengaruh pada sistem saraf pusat dibandingkan pada sistem-sistem lain. Alkohol sendiri bekerja pada reseptor GABA, salah satu neurotransmitter penghambat pada sistem saraf pusat. Perubahan pada psikomotor, tingkah laku, dan kognitif dapat terjadi jika kadar alcohol dalam darah minimal 4-7 mmol/L (20-30 mg/dL). Keracunan tingkat rendah sampai sedang terjadi pada level 17-43 mmol/L (80-200 mg/dL). Selain itu, keracunan dapat disebabkan karena pemakaian alkohol dengan obat-obat golongan anti kejang, anti depresi, penenang, ataupun morfin. Kombinasi alkohol dengan obat-obatan tersebut menimbulkan efek sinergistik, dalam arti efek yang ditimbulkan jauh melebihi dari efek yang seharusnya dengan dosis yang masuk. BAGAIMANA MENGATASINYA? Kematian pada intoksikasi alcohol terjadi karena depresi pusat pernafasan. Hal ini terjadi jika kadar alcohol otak lebih dari 450 mg%. Pada kadar 500-600 mg% dalam darah, penderita biasanya meninggal dalam 1-4 jam setelah koma selama 10-16 jam. Untuk intoksikasi alkohol, terapi yang dapat diberikan adalah : • Mandi air dingin bergantian air hangat • Meminum kopi kental • Melakukan aktivitas fisik seperti sit-up atau push-up • Usahakan untuk memuntahkan alkohol tersebut bila belum lama diminum. Untuk membantu, dapat juga dilakukan bilas lambung ataupun diberikan obat perangsang muntah. ALKOHOL, MENIMBULKAN ‘SAKAU’ JUGA? Withdrawal, atau gejala putus obat, adalah penggunaan zat yang berlangsung dalam jangka waktu lama, sehingga menimbulkan dependensi atau ketergantungan dalam sistem saraf pusat. Jika seseorang tidak meminumnya, akan timbul gejala-gejala putus obat (dalam heroin, istilah terkenalnya adalah sakau). GEJALA DARI ‘SAKAU’ ALKOHOL ... Gejala awal dari gejala putus alkohol adalah ekstremitas yang bergetar, terjadi kurang lebih 5-10 hari setelah konsumsi terakhir. Setelah itu, dapat terjadi kejang menyeluruh pada 1-2 hari setelah konsumsi. Jika terjadi kejang, perlu diingat bahwa tidak diperlukan obat anti kejang. Pada gejala putus obat yang berat, terjadi hiperaktivitas autonomik (keringat berlebihan, tekanan darah tinggi, detak jantung yang lebih cepat, nafas yang lebih cepat, demam), diikuti oleh insomnia, mimpi buruk, ansietas, dan gejala-gejala gangguan pada saluran pencernaan. BAGAIMANA MENGATASINYA? Alkoholik yang menderita withdrawal biasanya mengobati dirinya dengan meminum alkohol lagi. Tetapi ada beberapa penderita yang mencari penyelesaian medis karena mereka tidak ingin berlanjut minum minuman keras atau karena gejala putus obatnya terlalu berat. Pada kasus demikian, pertama-tama diperiksa kemungkinan cedera kepala yang terjadi karena komplikasinya. Kemudian digambarkan jenis gejala putus obatnya, ditentukan berapa banyak seseorang biasanya minum dan dicari tahu kapan terakhir minum. Karena kekurangan vitamin menyebabkan gejala putus obat yang mengancam jiwa, maka dokter unit gawat darurat biasanya memberikan memberikan vitamin B kompleks (terutama tiamin) dan vitamin C dosis besar lewat infus. Cairan infus, magnesium dan glukosa sering diberikan untuk mencegah beberapa gejala putus obat dan untuk menghindari dehidrasi. Diberikan obat penenang berupa golongan benzodiazepin selama beberapa hari untuk menenangkan dan membantu mencegah gejala putus obat. Obat-obatan anti-psikosa umumnya diberikan untuk sejumlah kecil pecandu dengan halusinasi alkoholik. SUMBER : • Maslim, R. “Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III”. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa dan Perilaku Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya; 2001 • Fauci, Braunwald, Kasper et al. "Harrison’s Manual of Medicine 17th Edition". USA: The Mc-Graw Hill Companies; 2009 • Widiyanto, Arif dkk. “Ilmu Kedokteran Forensik.” Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. • http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/pdf/pedoman/pedoman%20napza.pdf