Berdasarkan data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, virus hepatitis merupakan penyebab utama dari hepatitis yang dapat menyebabkan pengerasan hati (sirosis hepatis. Tingginya angka kesakitan hepatitis B seperti yang dikutip dari hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menunjukkan bahwa kejadian hepatitis B sebesar 9,4%. Ini berarti 1 dari 10 penduduk Indonesia pernah terinfeksi virus hepatitis B. Bila dikonversikan dengan jumlah penduduk Indonesia maka jumlah penderita hepatitis B di negeri ini mencapai 23 juta orang dan hepatitis C diperkirakan sekitar 6,6 - 7 juta orang. (Depkes RI,2006) Pengetahuan mengenai penanganan hepatitis penting diketahui untuk mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut seperti kanker hati (hepatocellular carcinoma / HCC). Penanganan hepatitis B sesuai dengan panduan terbaru diharapkan dapat memberikan manfaat yang optimal terhadap pasien hepatitis B. Perkembangan terbaru penanganan hepatitis B dirangkum dalam “Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepatitis B”, yang disusun oleh Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dan diterbitkan pada akhir tahun 2012. P Tidak semua pasien dengan infeksi hepatitis B harus segera diobati. Terdapat empat kriteria yang menjadi pertimbangan untuk memulai terapi. Empat kriteria ini adalah: pemeriksaan darah untuk melihat nilai DNA Virus Hepatitis B (DNA VHB) serum, status HBeAg, nilai Alanin Aminotransferase (ALT) dan gambaran histologi hati dengan mengguanakan fibroscan. Kriteria awal yang menjadi acuan adalah status HBeAg seorang pasien baik HBeAg positif atau negatif yang dikaitkan dengan nilai DNA VHB dan ALT dalam memulai terapi. Untuk pasien sirosis, kriteria awal yang penting untuk diperhatikan adalah apakah sirosis terkompensasi atau tidak terkompensasi. Pada sirosis tidak terkompensasi terapi harus segera dimulai untuk mencegah deteriorasi tanpa memandang DNA VHB atau ALT. Hingga saat ini tersedia berbagai macam obat  untuk infeksi hepatitis B. Pada pasien yang diidentifikasi sebagai kandidat yang sesuai untuk mendapat terapi antivirus, tujuan terapi adalah untuk menekan pertambahan jumlah virus hepatitis B (VHB) dan mencegah penyakit semakin memburuk. Respon terapi antivirus dapat digolongkan menjadi biokimia (menormalkan ALT), virologis (pembersihan DNA VHB), serologi (serokonversi HBeAg dan HBsAg), atau histologi (perbaikan jaringan hati). Penting untuk menilai respon virus tidak saja selama terapi antivirus namun juga setelah terapi dihentikan, dan menilai apakah terjadi resistensi (tidak berespon terhadap pengobatan) pada pasien yang  melanjutkan terapi untuk jangka panjang. Ada tujuh obat sebagai pilihan pengobatan terbaru hepatitis yang disetujui oleh Perhimpunan Peneliti Hepatologi Indonesia (PPHI) untuk terapi infeksi VHB. Dua di antaranya adalah  interferon (IFN-α2b) dan interferon terpegilasi (pegylates interferon, pegIFN-α2a), dan lima analog  nucleotida dan nukleosida oral (lamivudin, adefovir, dipivoxil, entecavir, telbivudin, dan tenofovir). Semua obat mempunya manfaat dan kerugian masing-masing. Pemilihan obat antivirus dipengaruhi oleh efektivitas, kemamanan, resiko resistensi (kebal) obat, metode pemberian, biaya dan faktor-faktor lain sebelum terapi (misalnya petanda serologis dan virologis, kadar ALT serum, tahap dan keparahan penyakit hati). Sedikit kita bahas satu persatu mengenai obat-obatan dalam mengatasi hepatitis B dimulai dari interferon. Interferon (IFN) merupakan obat pertama yang ditemukan dan digunakan secara klinis untuk terapi infeksi HBV kronis. Namun saat ini penggunaannya telah digantikan oleh pegIFN-α2a. Manfaat utama pegIFN-α2a dibanding IFN  adalah pegIFN-α2a  mempunyai waktu paruh yang lebih panjang, efektivitas yang lebih baik, demikian juga dapat lebih baik ditoleransi karena penyerapannya yang lama dan  kadar dalam darah lebih stabil. Pada pasien dengan infeksi HBV kronis, dan kadar ALT serum sebelum terapi yang tinggi, kadar DNA HBV serum rendah, dan inflamasi yang bermakna pada pemeriksaan histologis merupakan prediktor respon terhadap terapi IFN atau pegIFN-α2a. Analog nukleotida dan nuklesida adalah obat sintetis yang bekerja meniru nukleotida purin (adenosine, guanine) dan pirimidin (timidin,cytidin) alami. Analog nukleotida/nukleosida saat ini diindikasikan untuk terapi pasien infeksi VHB kronik yang terbukti terjadi replikasi aktif virus dan kadar ALT yang selalu tinggi atau secara histologis penyakitnya aktif di kombinasikan dengan dengan peg IFN- α2a memiliki angka keberhasilan yang lebih baik dibanding dengan monoterapi pegIFN-α2a atau Analog nukleotida dan nuklesida sendiri. Analog nukleotida/nukleosida berkontribusi secara bermakna pada kemajuan terapi infeksi VHB dengan profil kenyamanan dan kemanan yang lebih baik dibanding IFN atau pegIFN. Namun, durasi respon lebih rendah, sehingga memerlukan terapi dengan jangka waktu yang lebih lama dan berasosiasi dengan peningkatan resiko resistensi dibanding IFN dan pegIFN. Uji laboratorium untuk menilai respon dan munculnya resistensi harus dilakukan setiap 3-6 bulan sekali selama terapi menggunakan analog nukleotida/nukleosida. Infeksi hepatitis C jarang terdiagnosis selama fase akut karena kebanyakan pasien tidak menunjukan gejala. Diagnosis dilakukan berdasarkan uji antibodiserologis dan molekuler untuk mendeteksi RNA VHC. Infeksi VHC kronis didefinisikan sebagai RNA VHC yang terdeteksi selama lebih dari 6 bulan. Pengobatan terapi VHC adalah menghilangkan virus dari individu yang terinfeksi sehingga dapat memperlambat perkembangan penyakit hati, mencegah komplikasi sirosis, dan mengurangi resiko karsinoma hepatoseluler. Beberapa faktor sebelum dan selama terapi dapat mempengaruhi respon terapi antivirus pada pasien VHC kronis. Faktor-faktor yang berkaitan dengan respon virologi yang bertahan lama antara lain usia pasien yang lebih muda dari 40 tahun, berat badan kurang dari 75 kg, VHC genotipe 2 atau 3, jumlah RNA VHC (kurang dari 800.000 IU/mL), respon virologi yang cepat (diukur pada 4 minggu) atau dini (diukur pada 12minggu) dan  kepatuhan terhadap terapi. Terdapat berbagai macam pengobatan terhadap hepatitis C, seperti IFN-α2a, pegIFN-α2a , pegIFN- α2b, IFN alfacon-1,dan ribavirin. Saat ini terapi di Indonesia untuk pasien yang belum pernah mendapat terapi sebelumnya adalah kombinasi pegIFN subkutan dan ribavirin peroral. pegIFN dapat digunakan sebagi monoterapi jika ribavirin dikontraindikasikan, namun angka keberhasilan terapi kurang memuaskan. Sebaliknya, walaupun ribavirin merupakan komponen penting terapi, ribavirin monoterapi tidak menghilangkan VHC dan tidak dianjurkan sebagai monoterapi. Respon virologi yang cepat (RNA HCV tidak terdeteksi dalam 4 minggu setelah terapi dimulai) dan respons virologi dini (didefinisikan sebagai RNA VHC negatif atau minimal penurunan RNA VHC sebanyak 2 log10 setelah 12 minggu terapi dimulai), merupakan prediktor respon virologi yang bertahan untuk jangka panjang. Hepatitis merupakan silent disease, walaupun penyakit yang diderita sudah menimbulkan kerusakan di hati namun penderita tidak merasakan gejala apa-apa. Penyakit ini dapat disembuhkan dan semakin cepat diterapi semakin besar kesempatan untuk sembuh. Namun jika tidak diobati penyakit ini akan berakibat fatal dan mengakibatkan sirosis hepatis atau pengerasan hati, kanker hati dan berakhir dengan kematian. Referensi 1.European Association for the Study of the Liver. EASL Clinical Practice Guidelines: Management of chronic hepatitis B virus infection. J Hepatol (2012), http://dx.doi.org/10.1016/j.jhep.2012.02.010 2.Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepatitis B di Indonesia. Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia.2012.