Dunia yang semakin berkembang, tentunya berbanding lurus dengan masalah yang ditimbulkan. Berbagai masalah yang muncul, baik masalah politik, sosial, ekonomi, budaya, bahkan hal-hal sekecil apapun, dapat mempengaruhi pola kehidupan secara langsung maupun tidak langsung. Setiap individu memiliki cara tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah tersebut. Ada yang dapat menanggapinya dengan santai (let it flow), namun ada pula yang menjadikannya sebagai stressor sehingga membuatnya terus-menerus berpikir. Stress bukanlah milik satu macam profesi tertentu. Sebagai contoh, para pekerja sangatlah rawan terhadap stress dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai macam urusan kantor, deadline, perubahan prosedur dan kebijakan perusahaan, menuntut untuk selalu berpikir dan seolah berpacu dengan waktu. Namun ternyata tidak hanya pekerja yang rawan terhadap stress, melainkan juga anak sekolah. Banyaknya materi yang didapatkan dan tingginya standar kurikulum tidak dapat dipungkiri membuat anak cenderung merasa tidak nyaman. Secara umum kita tidak bermaksud menyalahkan siapapun dalam hal ini, karena tentu guru-guru di sekolah pun tidak kalah stress dibandingkan muridnya. Singkat kata, stress tidak mengenal usia, tidak mengenal pekerjaan, kedudukan, jabatan, dan strata sosial. Dalam hal ini, peranan keluarga sangatlah penting dalam pengelolaan stress. Meski kadang tidak disadari, stress yang dialami orang tua dapat berpengaruh pada anak, dan akhirnya berpotensi memberikan efek buruk pada perkembangan anak tersebut. Dapat dibayangkan akibatnya bila orang tua yang stress lalu kerap memarahi anaknya bila melakukan kesalahan kecil, tidakkah sekiranya berpotensi membuat sang anak menjadi kurang inisiatif? stress dalam keluarga Tingginya tuntutan dalam pekerjaan ataupun beberapa pekerjaan yang mengharuskan siap menerima panggilan telepon di ponsel kapan saja membuat kata “lembur” sulit dijauhkan dari kehidupan. Tentu saja hal ini dapat mengganggu kualitas kebersamaan dalam keluarga. Tak jarang orang tua baru pulang kantor larut malam, sedangkan sang anak sudah tidur terlebih dahulu. Kita semua paham bahwa anak cenderung dapat mencontoh perilaku orang tuanya, termasuk apa yang akan orang tua lakukan tatkala menghadapi stress. Bilamana perilaku orang tua keliru, maka anak pun dapat menangkapnya secara keliru dan menerapkannya secara keliru pula. Contoh sederhana: bila orang tua di depan anak membanting ponsel karena kesal, hal itu dapat terekam pada memori anak sehingga suatu saat anak tersebut dapat melakukan hal serupa untuk melampiaskan kekesalannya. Bisa dibayangkan masalah yang timbul akan lebih rumit apabila yang dirusak adalah barang milik orang lain. Makin majunya zaman, membuat sebagian orang seolah “hidup “dalam media sosial. Tak jarang hal ini pun menyita perhatian pada kebersamaan keluarga. Kemajuan teknologi membuat banyak anak terbiasa bermain dengan peralatan elektronik canggih sedari kecil. Sebenarnya hal ini mempunyai sisi positif dan negative. Sisi positifnya adalah anak  dapat mempelajari teknologi modern belum lagi ditambah fitur-fitur yang menyajikan permainan untuk mengasah otak. Hal ini tentulah sangat berguna bagi perkembangan kognitif anak itu sendiri. Tetapi di sisi lain timbul pula kekuatiran dan masalah saat anak tidak lagi rindu pada ayah ibunya, namun lebih rindu pada permainan di perangkat elektronik tersebut. Apalagi bila itu mungkin dijadikan untuk menghilangkan stress. Sebagai orang tua, sangat penting untuk menjadi role model bagi anak dalam mengelola stress. Pengelolaan yang baik, dengan teknik yang baik, memberikan efek yang baik pula bagi anak secara khusus, dan kebahagiaan keluarga secara umum, dibandingkan dengan pengelolaan stress yang keliru. Biarkanlah masalah pekerjaan berakhir sejenak sekurang-kurangnya saat memasuki pintu rumah, karena senyum yang tersungging dari bibir orang tua, akan membuat anak merasa nyaman berada di rumah, dan anak dapat belajar tentang kasih sayang lewat komunikasi verbal. Komunikasi dalam keluarga juga memegang peranan dalam hal ini. Kebiasaan makan malam bersama dapat menjadi salah cara satu untuk berkomunikasi antar anggota keluarga. Tentunya akan lebih baik apabila tidak menaruh alat komunikasi elektronik di atas meja makan sehingga tidak mengganggu kualitas kebersamaan dalam keluarga. Selain terhadap pikiran, stress juga berpengaruh pada kesehatan. Sehat merupakan suatu pilihan. Kita tahu bahwa stress tetap tak terhindarkan, maka pola hidup yang sehat sangatlah bernilai. Dalam hal ini, pemilihan menu makanan yang sehat juga dapat memperbaiki nutrisi dan stamina tubuh, serta menjaga agar tubuh tetap fit. Kelelahan bukan hal yang asing dalam pola hidup di kota besar dan sering kali mengganggu, meskipun tidak sedikit pula orang menganggapnya sebagai hal yang biasa. Terkadang rokok serta alkohol pun menjadi sasaran konsumsi berlebihan untuk meredakan stress. Faktor lelah sangatlah berhubungan dengan tingkat stress dan kesehatan yang buruk. Stress tingkat tinggi yang melelahkan dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh dan memudahkan seseorang terserang berbagai penyakit, seperti flu atau penyakit infeksi lainnya. Belum lagi, penyakit psikologis seperti gangguan depresi dan cemas juga mengintai dan dapat memperburuk kinerja dan berakibat fatal dalam pengambilan keputusan. Maka dari itu pola tidur yang cukup dan teratur sangatlah dianjurkan. pola asuh 3Hal terakhir yang perlu disadari adalah pentingnya kebersamaan dalam liburan keluarga. Merencanakan liburan dan bermain bersama anggota keluarga tanpa terganggu urusan pekerjaan adalah sesuatu yang diperlukan untuk menyegarkan pikiran dan mengembalikan semangat kerja. Mari ciptakan suasana bebas stress dalam keluarga, karena ternyata kondisi stress berpengaruh terhadap perkembangan anak maupun kesehatan tiap anggota keluarga. Sumber Pustaka - Managing Stress for A Healthy Family. American Psychological Association. http://www.apa.org/helpcenter/managing-stress.aspx - The Causal Role of Fatigue in The Stress-Perceived Health Relationship: A MetroNet Study. Journal of The American Board of Family Medicine. March-April 2010 Vol. 23 No. 2, 212-219. http://www.jabfm.org/content/23/2/212.abstract?sid=f32c34c1-7c4b-4af8-b6fb-e862ed6ef9a6 - Mind/Body Connection: How Your Emotions Affect Your Health. FamilyDoctor.org. http://familydoctor.org/familydoctor/en/prevention-wellness/emotional-wellbeing/mental-health/mind-body-connection-how-your-emotions-affect-your-health.html