Hepatitis A adalah salah satu penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis A. Virus hepatitis A ini menyebar melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi dari tinja penderita Hepatitis A. Infeksi virus ini dapat menimbulkan gejala ataupun tidak menimbulkan gejala setelah masa inkubasi sekitar 28 hari. Puncak infeksi terjadi selama 2 minggu sebelum onset kuning atau kenaikan enzim hati, saat konsentrasi virus tertinggi terdapat pada tinja. Hepatitis A dapat menyebabkan demam, penyakit “seperti flu”, kuning, nyeri perut berat dan diare (anak), kehilangan nafsu makan, mual, dan urin berwarna seperti teh. Sekitar 1 dari 5 orang yang terkena hepatitis A sering harus dirawat di rumah sakit , dan sekitar 3-6 dari 1000 kasus menimbulkan kematian. Jadi perlukah vaksin hepatitis A? Mari kita bahas lebih lanjut dalam artikel ini. Vaksin ini berisi virus hepatitis A yang tidak aktif, yang akan merangsang tubuh untuk membuat antibodi sehingga terbentuk kekebalan aktif. Vaksin diberikan dalam bentuk suntikan dan paling sering dilakukan di lengan atas. Vaksin hepatitis A dipercaya dapat mencegah infeksi hepatitis A setidaknya untuk 20 tahun. Vaksin ini telah dapat memberikan perlindungan sejak 2 minggu setelah dosis pertama, namun untuk perlindungan yang lebih lama, dibutuhkan dosis kedua pada 6 hingga 18 bulan setelah dosis pertama diberikan. Sekitar 94% - 100% vaksin hepatitis A efektif untuk mencegah infeksi hepatitis A jika diberikan dua kali vaksinasi. Vaksin tersebut dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain. Tetapi sebenarnya siapa saja yang membutuhkan vaksin ini? - Anak-anak usia 1 tahun ke atas. Vaksin hepatitis A tidak direkomendasikan untuk anak-anak di bawah 1 tahun. Tetapi penelitian menunjukkan bahwa vaksin tersebut aman dan efektif untuk bayi usia 6 bulan ke atas yang diketahui tidak memiliki alergi terhadap isi vaksin. - Semua orang yang akan melakukan perjalanan atau bekerja pada negara dengan prevalensi hepatitis A tinggi atau sedang, seperti daerah Amerika Tengah atau Selatan, Meksiko, Asia (kecuali Jepang), Afrika, dan Eropa timur. Rencanakan vaksin 6 bulan sebelum perjalanan, jika memungkinkan. Paling baik memulai seri vaksin setidaknya 1 bulan sebelum bepergian. Tetapi efek proteksi maksimal vaksin hepatitis A akan muncul jika diberikan dalam dua dosis, dosis kedua pada hari menjelang waktu perjalanan. - Semua orang dengan penyakit hati kronis. - Semua orang yang memiliki kelainan pembekuan darah, seperti hemophilia. - Semua orang yang bekerja dengan primata yang terinfeksi virus hepatitis A atau yang bekerja pada penelitian mengenai hepatitis A. - Anggota keluarga yang memiliki rencana mengadopsi anak dari negara dimana hepatitis A sering terjadi. Idealnya vaksin dilakukan sekitar 2 minggu sebelum kedatangan anak yang akan diadopsi. - Semua orang yang sedang menunggu atau melakukan transplantasi hati Vaksin tidak boleh diberikan apabila : - Ada reaksi alergi pada pemberian dosis pertama, maka dosis kedua tidak perlu diberikan - Sedang dalam kondisi sakit yang sedang atau berat - Sedang dalam kondisi hamil Meskipun vaksin hepatitis A memiliki komponen yang berasal dari darah manusia atau plasma, vaksin ini tidak menimbulkan risiko tertular. Reaksi terhadap vaksin ringan dan biasanya tidak bertahan lebih dari 24 jam. Efek samping yang sering terjadi : - Nyeri dan bengkak di tempat suntikan - Nyeri kepala - Kelelahan, demam, dan mual Efek samping yang berat : - Reaksi alergi serius dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah vaksinasi. Gejala yang biasa terjadi yaitu bengkak pada wajah, kesulitan bernapas, kelemahan, urtikaria, pusing sampai pingsan. Segera hubungi dokter. Referensi : 1. http://www.healthlinkbc.ca/kb/content/drugdetail/hw124042.html 2. Wolfe RM. Clinical Review : Update on Adult Immunizations. JABFM 2012;25(4):497-510 3. http://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/hep-a.html 4. http://milissehat.web.id/?p=861 5. CCD. Updated Recommendations from the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) for Use of Hepatitis A Vaccine in Close Contacts of Newly Arriving International Adoptees. MMWR 2009; 58 (36):1006–7.