Periksa kesehatan dan imunisasi sebelum menikah

Masih jarang calon pengantin yang cemas akan gangguan kesehatan yang diderita pasangannya. Apalagi bila pasangannya terlihat sehat walafiat. Boleh dibilang hanya sedikit pasangan yang menilai perlu pengecekan kesehatan sebelum menikah. Kalaupun sadar akan perlunya cek kesehatan, mereka masih dibayangi keraguan dan ketakutan, jangan sampai berefek samping menunda kehamilan.

Namun demikian, pemeriksaan kesehatan sebelum pernikahan mutlak dilakukan oleh pasangan yang akan menikah. Manfaatnya, mendeteksi penyakit dan kelainan yang dimiliki pasangan yang akan menikah, sehingga penyakit yang dapat menular kepada pasangan atau mempengaruhi kesehatan ibu segera diketahui dan ditangani. Sebab dalam pernikahan, seks tak bisa dilepaskan dan beberapa penyakit disebabkan oleh hubungan seksual. Agar hasil lebih optimal, pemeriksaan kesehatan sebaiknya dilakukan satu tahun sebelum pernikahan. Pemeriksaan kesehatan yang mendekati hari pernikahan hanya bisa dipilih oleh pasangan yang rajin melakukan pemeriksaan kesehatan setiap tahun.

Saat ini, pasangan yang akan menikah masih jarang saling terbuka soal kondisi kesehatan masing-masing. Padahal keterbukaan kepada pasangan merupakan salah satu aset yang penting bagi keharmonisan rumah tangga. Untuk itu, sangat dianjurkan kepada para pasangan yang akan melangsungkan pernikahan melakukan pemeriksaan. Selain berguna bagi diri sendiri, pemeriksaan akan terkait dengan kondisi sang buah hati kelak.

Hasil penyelidikan ahli jiwa mengenai penyebab tingginya angka perceraian, menyimpulkan bahwa penyebab utama karena kurangnya keterbukaan membicarakan suatu masalah saat pranikah, sehingga salah satu pihak merasa “tertipu” karena ada hal-hal buruk yang ditutupi saat berpacaran sehingga memicu konflik ketika menjadi pasangan suami istri (pasutri). Maka perhimpunan tersebut menganjurkan agar sebaiknya saat pranikah segala masalah dibicarakan dengan terbuka dan jujur sehingga kedua belah pihak menemukan cara mengantisipasinya atau menghindari perceraian dengan membatalkan pernikahan. Karena perhimpunan ini terdiri dari para ahli jiwa, maka saran mereka tentunya berhubungan dengan kejiwaan yaitu “sebelum menikah sebaiknya calon pasutri mencoba berselisih untuk mengetahui sifat asli pasangannya.”

Dengan adanya penyakit HIV/AIDS, pernikahan tidak hanya beresiko batal, namun juga bisa mengancam jiwa pasangan dan anak yang akan dilahirkan. Tes kesehatan pranikah meliputi:

1.       Tes kesehatan umum seperti USG, X-ray, tes laboratorium, dan sebagainya.

2.       Tes penyakit hubungan seksual (PHS).

3.       Tes persiapan kehamilan (TORCH dan lain-lain)

4.       Tes kesuburan

5.       Tes genetika.