Setiap tahun, jutaan Muslim melakukan ibadah haji di Arab Saudi. Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban bagi seluruh umat Islam yang mampu. Untuk memanfaatkan peluang itu sebaik- baiknya, dibutuhkan persiapan yang baik dan optimal. Ibadah Haji memerlukan persiapan fisik yang prima disamping tentunya mempersiapkan kesiapan mental atau spiritual, karena pada dasarnya ibadah Haji merupakan rangkaian ibadah mental dan fisik. Dalam rangka Haji terdapat banyaknya massa yang bertemu di suatu lokasi tertentu pada musim Haji dengan tujuan tertentu, yaitu mengamalkan rukun Islam ke lima bagi umat Islam, menimbulkan beberapa risiko penyebaran penyakit menular dan risiko cidera.
Persiapan fisik yang diperlukan dalam beribadah Haji adalah mempersiapkan tubuh dalam menghadapi keadaan iklim dan cuaca yang berbeda dari tanah air, perbedaan geografis, kegiatan ibadah yang dilakukan secara fisik (Tawaf, Sa’i, dan Melontar) serta siap untuk menghadapi kepadatan di tanah suci dan juga  yang akan dibahas kali ini adalah dalam mewaspadai penyakit. Migrasi massa selama haji tak tertandingi dalam skala, dan jemaah menghadapi berbagai bahaya kesehatan. Kepadatan massa yang parah dapat menimbulkan penyakit menular memiliki potensi untuk cepat menjadi epidemi. Hal lain yang dapat mendorong penularan penyakit, terutama melalui penularan udara, adalah perpanjangan masa tinggal di lokasi Haji, panas yang ekstrim, dan padatnya kendaraan/ lalu lintas.Jamaah usia lanjut risiko menambah morbiditas dan mortalitas. Maka persiapan kesehatan para jamaah Haji tidak hanya pada saat di tanah suci namun sejak sebelum keberangkatan hingga setelah kembali ke tanah air. Disamping mewaspadai penyakit menular terdapat pula penyakit- penyakit tidak menular yang seyogyanya mendapat perhatian, diantaranya adalah :
  1. 1.   Penyakit jantung dan pembuluh darah
Penyakit jantung adalah penyebab paling umum kematian selama Haji (43 %).82 Banyak pasien mengalami henti jantung di luar rumah sakit di lokasi haji . Meskipun tim respon kesehatan adalah ambulans yang didukung darurat tim pelayanan medis, jamaah jarang dapat diresusitasi . Mengambil pasien dalam "peri- arrest"-sesaat sebelum henti jantung, dari kerumunan besar adalah sulit , dan dapat menimbulkan bahaya bagi yang lain . Haji adalah sulit bahkan untuk orang dewasa sehat, stres fisik dapat dengan mudah endapan iskemia. Pasien jantung merencanakan ibadah haji harus berkonsultasi dengan dokter mereka sebelum perjalanan; memastikan memadai pasokan obat dan kepatuhan terhadap obat-obatan. Mereka harus menghindari orang banyak, melakukan beberapa ibadah dengan diwakilkan, dan segera ke pusat kesehatan terdekat jika merasakan gejala dekompensasi jantung .
  1. 2.   Risiko Trauma
Trauma merupakan penyebab utama cedera dan kematian selama haji. Jamaah bisa berjalan jauh atau dekat dari lalu lintas padat dan kecelakaan kendaraan bermotor yang tak dapat terelakkan. Yang paling ditakuti dari bahaya trauma adalah terdesak. Dalam kerumunan padat seperti itu, sedikit yang bisa dilakukan untuk menghindari atau melarikan diri desakan tetapi lingkungan fisik haji telah dirancang secara khusus untuk meminimalkan risiko ini. Berdesakan sering dimulai dari insiden kecil; pada tahun 2006 Haji terinjak- injak, misalnya, dimulai ketika beberapa jamaah tersandung koper jatuh, tapi hal tersebut mengakibatkan ratusan luka-luka dan kematian. Kematian biasanya terjadi akibat sesak napas atau trauma kepala dan memberikan pengobatan yang tepat dalam kerumunan besar . Pemerintah Saudi berkomitmen untuk mengurangi risiko kesehatan selama haji termasuk dalam upaya untuk mencegah desak-desakan. Pengembangan fisik bangunan dilakukan agar dapat kapasitas menampung jamaah lebih banyak dan lebih aman karena kerumunan dapat dikurangi. Untuk dapat lebih melindungi diri, jamaah sebisa mungkin menghindari daerah paling padat selama waktu haji yang dianjurkan oleh otoritas keagamaan Saudi dan menggarisbawahi keprihatinan mereka tentang keselamatan semua peziarah. Sebagai contoh, sebagian besar jamaah memilih untuk melakukan lempar jumroh pada tengah hari, namun pemerintah Saudi telah memutuskan bahwa hal itu dapat dilakukan kapan saja antara matahari terbit dan terbenam.
  1. 3.   Cedera yang berhubungan dengan kebakaran
Pada tahun 1997, kebakaran menghancurkan daerah Mina saat tenda terbakar oleh kompor  menyebabkan ratusan orang meninggal. Setelah itu peraturan semakin diperhatikan dengan mengurangi risiko api diantaranya tidak boleh membangun tenda sendiri, tidak diperbolehkan memasak makanan di mina, begitu pula merokok- selama haji merokok memang tidak diperbolehkan saat beribadah haji. Selain itu pendidikan publik juga  dilakukan untuk mengurangi risiko kebakaran.
  1. 4.   Panas lingkungan
Kelelahan akibat panas dan heatstroke juga merupakan penyebab kematian dan kesakitan, khususnya jika musim haji selama musim panas. Jamaah harus tetap terhidrasi dengan baik, menggunakan pelindung dari matahari, dan mencari tempat yang teduh bila memungkinkan. Beberapa rangkaian ibadah dapat dilakukan pada malam hari. Jamaah dapat meyakinkan lagi kepada pembimbing ibadah bahwa ibadah pada malam hari adalah sah. Dengan mengetahui penyakit yang perlu diwaspadai semoga persiapan fisik dan spiritual menjadi lebih baik, semoga perjalanan haji lancar dan menjadi haji yang mabrur. Sumber :
  1. Gayo MI. Buku Pintar Haji dan Umroh. Pustaka Warga Negara : Jakarta.
  2. WHO. 2013. World – travel advice on MERS-CoV for pilgrimages. Diunduh dari  : http://www.who.int/ith/updates/20130725/en/, pada tanggal 22 Agustus 2013.
  3. WHO. Weekly epidemiological record. 9 AUGUST 2013, 88th year / 9 AOÛT 2013, 88e annéeNo. 32, 2013, 88, 337–348. Diunduh dari : http://www.who.int/wer, pada tanggal 22 Agustus 2013.
  4. Ahmed QA, Arabi YM, Memish ZA. 2006. Health Risk at Hajj. Diunduh dari : http://www.researchgate.net/publication/7215612_health_risk_at_the_hajj/file/9fcfd50f706b8052ff.pdf, pada tanggal 22 Agustus 2013.
  5. Lee CV, Brunette GW, Gallagher NM. Travel to Mass Gatherings. Diunduh dari :http://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2014/chapter-8-advising-travelers-with-specific-needs/travel-to-mass-gatherings, pada tanggal 22 Agustus 2013.
  6. Ahmed Q, Balaban V. Saudi Arabia : Hajj Pilgrimage. Diunduh dari : http://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2014/chapter-4-select-destinations/saudi-arabia-hajj-pilgrimage, pada tanggal 27 Agustus 2013.
  7. Al-Tawfiq JA., Memish ZA.The Hajj : Updated Health Hazards and Current Recommendation for 2012. Eurosurveillance, Volume 17, Issue 41, 11 October 2012. Diunduh dari :http://www.eurosurveillance.org/ViewArticle.aspx?ArticleId=20295, pada tanggal 22 Agustus 2013.
  8. WHO. Vaccine- preventable disease and vaccines. Diunduh dari www.who.int pada tanggal 23 Agustus 2013.
  9. Anonim. 2013. Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Diunduh dari : www.cdc.gov/coronavirus/mers/ pada tanggal 30 Agustus 2013.