Setiap tahun, jutaan Muslim melakukan ibadah haji di Arab Saudi. Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban bagi seluruh umat Islam yang mampu. Untuk memanfaatkan peluang itu sebaik- baiknya, dibutuhkan persiapan yang baik dan optimal. Ibadah Haji memerlukan persiapan fisik yang prima disamping tentunya mempersiapkan kesiapan mental atau spiritual, karena pada dasarnya ibadah Haji merupakan rangkaian ibadah mental dan fisik. Dalam rangka Haji terdapat banyaknya massa yang bertemu di suatu lokasi tertentu pada musim Haji dengan tujuan tertentu, yaitu mengamalkan rukun Islam ke lima bagi umat Islam, menimbulkan beberapa risiko penyebaran penyakit menular dan risiko cidera.
Persiapan fisik yang diperlukan dalam beribadah Haji adalah mempersiapkan tubuh dalam menghadapi keadaan iklim dan cuaca yang berbeda dari tanah air, perbedaan geografis, kegiatan ibadah yang dilakukan secara fisik (Tawaf, Sa’i, dan Melontar) serta siap untuk menghadapi kepadatan di tanah suci dan juga  yang akan dibahas kali ini adalah dalam mewaspadai penyakit. Migrasi massa selama haji tak tertandingi dalam skala, dan jemaah menghadapi berbagai bahaya kesehatan. Kepadatan massa yang parah dapat menimbulkan penyakit menular memiliki potensi untuk cepat menjadi epidemi. Hal lain yang dapat mendorong penularan penyakit, terutama melalui penularan udara, adalah perpanjangan masa tinggal di lokasi Haji, panas yang ekstrim, dan padatnya kendaraan/ lalu lintas.Jamaah usia lanjut risiko menambah morbiditas dan mortalitas. Maka persiapan kesehatan para jamaah Haji tidak hanya pada saat di tanah suci namun sejak sebelum keberangkatan hingga setelah kembali ke tanah air.
Berikut ini adalah penyakit- penyakit menular yang perlu diwaspadai saat beribadah Haji : 1.   Penyakit meningokokus Wabah penyakit meningokokus secara historis menjadi masalah selama haji. Sebagai dampak dari wabah pada tahun 2000 dan 2001 yang menjangkiti masing- masing 1.300 dan 1.109 orang, Kementerian Kesehatan Saudi mulai mewajibkan semua jamaah untuk melakukan vaksin meningitis. Penyakit Menikokus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis. Penularannya langsung melalui kontak dari orang ke orang dan melalui percikan ludah dari penderita atau pembawa. Meningitis meningokokkal memiliki gejalaawal yang mendadak berupasakit kepala yang sangat, demam, mual, muntah, takut akan cahaya, leher yang kaku, serta berbagai tanda saraf. Terdapat 5-10% kasus yang fatal dengan penanganan yang tepat pada fasilitas kesehatan yang baik, orang yang dapat bertahan hingga sebanyak 20% memiliki gejala sisa saraf yang permanen. Kepadatan massa selama Haji mendorong peningkatan pembawa N. Meningitidis.Pencegahan secara umum adalah dengan menghindari tempat yang terlalu penuh oleh manusia pada tempat yang terbatas. Namun pada ibadah Haji, hal ini sulit dilakukan. Pencegahan khususnya dapat dengan melakukan vaksinasi sebelum keberangkatan. 2.   Infeksi saluran napas. A. Penyakit Pneumokokus Infeksi saluran pernapasan yang umum selama haji, penyebab paling umum dari masuk rumah sakit adalah pneumonia. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai serotipe dari Streptococcus pneumoniae. Penularannya melalui percikan air ludah. Banyak pembawa bakteri ini tidak menunjukkan gejala. Infeksi kondisi kronis dapat menimbulkan penyakit pneumokokus yang serius. Peningkatan resistensi pada antibiotik menggarisbawahi pentingnya vaksinasi sebagai pencegahan terhadap penyakit ini. B. Influenza Virus influenza menyebar melalui percikan air ludah. Influenza adalah penyakut saluran napas akut dengan berbagai keparahan dari tidak menimbulkan gejala sampai yang berakibat fatal. Gejala yang khas dari influenza adalah demam yang tiba-tiba, sakit tenggorokan, panas dingin, batuk tidak produktif, sering disertai sakit kepala, nyeri otot, dan lemah. Akibat fatal dari influenza terjadi terutama pada orang tua dan orang dengan penyakit kronis. Vaksin influenza direkomendasikan untuk semua jamaah. Perilaku seperti kebersihan tangan, memakai masker wajah, etiket batuk, jarak sosial, dan menghindari kontak dapat efektif dalam mengurangi penyakit pernapasan  antar jamaah Haji. C. Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus Penyakit saluran napas ini disebabkan oleh virus corona yang disebut MERS-CoV. Orang- orang yang diyakini terinfeksi MERS-CoV berkembang menjadi penyakit saluran napas akut yang parah. Gejala yang timbul adalah demam, batuk, dan napas yang pendek. Terdapat laporan terbaru dua kasus kegagalan pernafasan akut berhubungan dengan coronavirus. Kedua pasien adalah orang dewasa yang sebelumnya sehat. Kasus-kasus yang terjadi beberapa bulan sebelum musim haji Muslim 2012. Kasus pertama infeksi dengan novel coronavirus diidentifikasi di Arab Saudi, yang meninggal pada Juni 2012. Kasus kedua adalah pasien dari Qatar yang dipindahkan ke sebuah rumah sakit di London, Inggris Raya pada awal September 2012. Data yang tersedia sampai saat ini tidak mendukungpenularan dari  manusia ke manusia, dan sangat dicurigai penularanmelaluihewan. Penyakit saluran napas dapat dikurangi kejadiannya efektif  melalui  intervensi perilaku seperti kebersihan tangan dan pribadi, memakai masker wajah, etika batuk (dengan menutup mulut dengan kertas tissue dan membuangnya ke tempat sampah), jarak sosial, dan sebisa mungkin menghindari kontak tangan dengan mata, hidung dan mulut, menghindari kontaklangsung dengan orang yang batuk, bersin, meludah, muntah, diare dan tidak membagi bawaan personal, sertamemperhatikan praktik keamanan makanan yang baik, seperti menghindari makanan yang disajikan tidak sehat, mencuci sayuran dan buah sebelum dikonsumsi. Selain itu, untuk penyakit yang penularannya hewan juga, menghindari kontak yang tidak perlu dengan pertanian, hewan domestik ataupun liar. 3. Infeksi saluran cerna A. Kolera Kolera adalah penyakit bakteri akut usus disebabkan oleh Vibrio cholerae. Infeksi terjadi melalui makanan atau minuman terkontaminasi oleh feses atau muntahan dari seseorang yang terinfeksi. Tingkat keparahannya bervariasi. Kebanyakan infeksi adalah tidak bergejala. Pada kasus yang sedang, hanya diare akut berupa air. Pada kasus berat, diare berupa air yang terus- menerus disertai mual dan muntah dan cepat berkembang menjadi dehidrasi. Pencegahan sebaiknya dilakukan dengan menghindari makanan, minuman dan air yang kemungkinan terkontaminasi . B. Hepatitis A Hepatitis A disebabkan oleh virus hepatitis A yang menginfeksi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feses yang terkontaminasi virus. Hepatitis viral akut memiliki karakteristik : onset yang tiba- tiba demam, mual, perut yang tidak nyaman diikuti dengan kuning beberapa hari kemudian. Pencegahan sebaiknya dilakukan dengan menghindari makanan, minuman dan air yang kemungkinan terkontaminasi serta dengan vaksinasi. Pencegahan diare termasuk pengetahuan mengenai kebersihan tangan, menghindari jajanan pinggir jalan, dan menghindari makanan dari telur yang mentah. 4. Infeksi Kulit Rangkaian panjang berdiri dan berjalan, panas, berkeringat, dan kegemukan berkontribusi terhadap risiko gesekan pada kulit. Hal tersebut dapat memungkinkan terjadinya infeksi kulit. Para Jamaah harus disarankan untuk menjaga kulit kering, gunakan bedak, dan menyadari rasa sakit atau nyeri yang disebabkan oleh pakaian. Disamping itu terdapat penyakit orf, penyakit virus domba dan kambing, yang disebabkan oleh virus parapox.Infeksi pada manusia dari kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, menghasilkan lesi kulit. Kasus infeksi tangan orf oleh menyembelih domba pada musim Haji telah dilaporkan. Risiko infeksi kecil pada jamaah yang melakukan sendiri hewan qurbannya. 5. Penyakit melalui darah Pada akhir haji, pria Muslim dengan mencukur kepala mereka, dan pisau yang tidak bersih dapat menularkan patogen melalui darah, seperti hepatitis B, hepatitis C, dan HIV. Regulasi resmi mengeluarkan perintah resmi untuk mengetes para tukang cukur dites untuk hepatitis B, hepatitis C, dan HIV dan menggunakan pisau cukur sekali pakai. Tukang cukur tidak resmi mencukur rambut dipinggir jalan menggunakan pisau tidak steril yang digunakan pada beberapa orang. untuk patogen melalui darah dan diharuskan untuk menggunakan sekali pakai. Pria pendatang harus disarankan untuk dicukur hanya di pusat-pusat resmi ditunjuk. Orang yang memiliki waktu yang cukup sebelum haji dan mampu untuk vaksinasi sebaiknya melakukan vaksinasi Hepatitis B. Sumber :
  1. Gayo MI. Buku Pintar Haji dan Umroh. Pustaka Warga Negara : Jakarta.
  2. WHO. 2013. World - travel advice on MERS-CoV for pilgrimages. Diunduh dari  : http://www.who.int/ith/updates/20130725/en/, pada tanggal 22 Agustus 2013.
  3. WHO. Weekly epidemiological record. 9 AUGUST 2013, 88th year / 9 AOÛT 2013, 88e annéeNo. 32, 2013, 88, 337–348. Diunduh dari : http://www.who.int/wer, pada tanggal 22 Agustus 2013.
    1. Ahmed QA, Arabi YM, Memish ZA. 2006. Health Risk at Hajj. Diunduh dari : http://www.researchgate.net/publication/7215612_health_risk_at_the_hajj/file/9fcfd50f706b8052ff.pdf, pada tanggal 22 Agustus 2013.
    2. Lee CV, Brunette GW, Gallagher NM. Travel to Mass Gatherings. Diunduh dari :http://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2014/chapter-8-advising-travelers-with-specific-needs/travel-to-mass-gatherings, pada tanggal 22 Agustus 2013.
    3. Ahmed Q, Balaban V. Saudi Arabia : Hajj Pilgrimage. Diunduh dari : http://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2014/chapter-4-select-destinations/saudi-arabia-hajj-pilgrimage, pada tanggal 27 Agustus 2013.
    4. Al-Tawfiq JA., Memish ZA.The Hajj : Updated Health Hazards and Current Recommendation for 2012. Eurosurveillance, Volume 17, Issue 41, 11 October 2012. Diunduh dari :http://www.eurosurveillance.org/ViewArticle.aspx?ArticleId=20295, pada tanggal 22 Agustus 2013.
    5. WHO. Vaccine- preventable disease and vaccines. Diunduh dari www.who.int pada tanggal 23 Agustus 2013.
    6. Anonim. 2013. Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Diunduh dari : www.cdc.gov/coronavirus/mers/ pada tanggal 30 Agustus 2013.