Selama ini sering kali terdengar pesan-pesan pemerintah yang menghimbau untuk melakukan pengaturan jarak kehamilan dan kelahiran demi keluarga kecil yang sejahtera. Selain itu, bagi wanita yang menjalani operasi sesar tentu pernah mendengar mengenai pentingnya memberi jarak sebelum kehamilan berikutnya untuk mengurangi risiko komplikasi seperti robeknya rahim karena bekas jahitan operasi tersebut. Penelitian memang menemukan bahwa pengembalian keadaan rahim seperti sebelum hamil memerlukan waktu 6 bulan, sehingga seorang wanita yang melahirkan normal sebaiknya memberi jarak minimal 6 bulan sebelum kehamilan berikutnya. Sedangkan pada wanita yang pernah menjalani operasi sesar, sebaiknya menunggu minimal 18 bulan sebelum melahirkan lagi. Didapatkan bahwa risiko robekan rahim meningkat hingga 3 kali lipat dalam waktu 18 bulan sejak operasi sesar sebelumnya.1 Namun ternyata pengaturan jarak kehamilan tidak hanya penting untuk wanita yang pernah menjalani operasi sesar, lho, melainkan juga untuk wanita yang melahirkan secara normal karena hal ini berpengaruh pada kesehatan ibu, bayi, serta psikologi keduanya. Hubungan antara jarak antar kelahiran yang kecil dengan tingginya angka kematian bayi dan anak telah ditemukan dalam berbagai populasi. Hal ini menjadi perhatian para peneliti dan tenaga kesehatan di seluruh dunia karena tetap tingginya angka kematian ibu, bayi baru lahir, serta anak di banyak negara berkembang.2 Jarak yang pendek antar kelahiran memengaruhi kelangsungan hidup bayi dan anak karena efek biologis yang dikaitkan dengan ‘sindroma deplesi ibu – maternal depletion syndrome’, yakni seorang wanita yang belum benar-benar kembali ke keadaan sehat serta fit untuk dapat menyokong kehamilan berikutnya setelah menjalani kehamilan dan proses kelahiran sebelumnya. Salah satu contoh, jika seorang wanita hamil lagi sebelum kadar folat dalam tubuhnya kembali jumlah yang cukup, maka keturunannya mempunyai risiko lebih tinggi mengalami insufisiensi folat selama dalam kandungan. Hal ini dapat berujung pada peningkatan risiko cacat tabung saraf, retardasi pertumbuhan dalam rahim, serta kelahiran prematur.2 asi Selain folat, proses kehamilan (serta menyusui) dapat menyebabkan penipisan cadangan protein, energi, serta mikronutrisi pada ibu. Keadaan ini akan menjadi lebih berat pada wanita yang sebelum kehamilan telah mengalami malnutrisi. Energi yang diperlukan untuk memberikan ASI pada bayi menyebabkan waktu pemulihan untuk kehamilan berikutnya menjadi lebih lama.3 Bila diabaikan, komplikasi yang bisa terjadi pada ibu adalah preeklamsia sedangkan janinnya dapat mengalami berat lahir rendah, permatur, serta tingkat kematian yang lebih tinggi. Di kemudian hari, anak-anak tersebut berada pada risiko lebih besar untuk terkena penyakit infeksi.2,4 Jadi, berapa lama sebaiknya interval antar kelahiran anak? Jawabannya adalah tiga hingga lima tahun, sebab pada kelahiran yang berjarak 3 hingga 5 tahun setelah kelahiran anak sebelumnya, berbagai risiko kesehatan menurun, baik untuk ibu maupun anaknya. Bagi ibu, risiko anemia, perdarahan di trimester ketiga, dan keguguran menurun secara signifikan.  Sedangkan bagi anak, kemungkinan pertumbuhan terhambat serta berat lahir rendah dapat dihindari dengan nyata.4 Apakah semakin lama jarak antar-kehamilan dan kelahiran maka akan semakin baik? Ternyata tidak juga, sebab sebuah penelitian menemukan bahwa pada interval yang sangat panjang (7 tahun lebih) justru terdapat peningkatan angka mortalitas (kematian) kembali. Hal ini disebabkan setelah waktu yang lama tersebut, kehamilannya menjadi seperti kehamilan pertama.2