Sebenarnya tidak ada obat untuk osteoporosis. Tujuan pengobatan osteoporosis adalah melindungi dan memperkuat tulang. Pengobatan biasanya mencakup kombinasi beberapa obat dan perubahan gaya hidup untuk membantu memperlambat laju resorpsi (pengeroposan) tulang  oleh tubuh. Lakukan pencegahan osteoporosis sebelum akhirnya memutuskan untuk beralih ke pengobatan. Jika Anda sudah didiagnosis mengidap osteoporosis, konsultasi dengan dokter akan memberikan Anda informasi tentang penanganan yang bisa dilakukan sesuai dengan kondisi tulang Anda. Sesuai jenis pengobatannya, jika tulang anda positif mengalami keretakan, dokter anda akan memberikan obat yang dapat mengurangi risiko keretakan yang lebih parah di masa yang akan datang. Tapi perlu diingat bahwa pilihan pengobatan diberikan berdasarkan kepadatan tulang, usia dan faktor risiko keretakan. Jika anda menolak untuk mengkonsumsi obat-obatan untuk mengobati osteoporosis, konsumsi kalsium dan vitamin D yang cukup. Biasanya dokter anda akan menyarankan suplemen tambahan terkait hal ini. Obat-obatan Non-Hormon Obat-obatan ini tidak akan mempengaruhi kualitas hormon anda:
  • Kalsium dan Vitamin D: untuk mengurangi risiko patah tulang pada pangkal paha dengan dosis kalsium 1,2 gram/hari dan vitamin D 20 mikrogram/hari. Dosis ini harus dengan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter anda.
  • Bisphosphonate: mengurangi risiko keretakan dan menjaga kepadatan tulang. Obat ini biasa diberikan dalam bentuk suntikan atau tablet. Obat ini memperlambat laju sel-sel yang menghancurkan tulang (osteoklas). Ada beberapa jenis dari obat ini:
    • Alendronate (Fosamax), obat oral yang dikonsumsi seminggu sekali.
    • Ibandronate (Boniva), ditawarkan sebagai tablet oral bulanan atau sebagai injeksi intravena (melalui pembuluh darah) empat kali setahun.
    • Risedronate (Actonel), tersedia dalam harian, mingguan, dua bulanan, atau dosis bulanan.
    • Asam zoledronic (Reclast), diberikan secara intravena sekali setiap satu atau dua tahun.
Efek samping dari obat ini dapat mencakup refluks asam, mual, dan sakit perut. Dalam kasus yang jarang terjadi, mereka dapat menyebabkan kerusakan tulang di rahang (rahang osteonekrosis), efek samping yang biasanya berhubungan dengan dosis tinggi bifosfonat.
  • Strontium Ranelate: memicu sel-sel membentuk jaringan tulang yang baru (osteoblas) dan menekan kerja sel peluruh tulang (osteoklas). Efek samping dari obat yang dikonsumsi dengan dilarutkan dalam air ini (bubuk), adalah diare dan mual.
Terapi Hormon Hal ini bisa dilakukan khususnya bagi para wanita yang memiliki risiko osteoporosis 3x lebih besar dari pria saat masa menopause mereka tiba. Saat menopause, produksi hormon estrogen berkurang. Cara berikut dapat dilakukan, tapi berhati-hati karena efek samping dari pengobatan ini meliputi kanker payudara, peningkatan stroke, serangan jantung dan pembekuan darah.
  • Selective Estrogen Receptor Modulators (SERMs): menciptakan kembali efek pelestarian tulang pada estrogen.
  • Thyrocalcitonin: hormon yang dibuat oleh kelenjar tiroid dan membantu mengatur kadar kalsium dalam tubuh. Thyrocalcitonin sintetis, atau kalsitonin (Fortical, Miacalcin), digunakan untuk mengobati osteoporosis tulang belakang pada pasien yang tidak dapat mengkonsumsi bifosfonat. Hal ini juga dapat mengurangi rasa sakit pada beberapa pasien dengan fraktur kompresi tulang belakang. Obat ini tersedia dengan semprot hidung atau injeksi. Efek sampingnya berupa pilek atau mimisan.
Paratiroid Hormon (PTH): mengontrol kalsium dan tingkat fosfat dalam tulang. Perawatan dengan PTH sintetis seperti teriparatide (Forteo) dapat meningkatkan pertumbuhan tulang baru. Obat ini diberikan melalui suntikan sehari dengan kalsium dan vitamin D suplemen. Obat ini sangat mahal, dan biasanya digunakan untuk pasien dengan osteoporosis berat yang tidak dapat melakukan pengobatan lain terkait pengobatan osteoporosis.