Tahun belakangan ini bencana alam rasa-rasanya hampir tidak pernah lepas dari kehidupan kita sebagai bangsa. Belum selesai penanganan gempa bumi di Jogja dan Bantul serta kota-kota sekitarnya, terdengar kabar terjadinya gempa bumi di daerah Pangandaran, Cilacap,dan sekitarnya. Jumlah korban memang tidak sebanyak gempa bumi di Jogja, namun semakin hari rasanya semakin bertambah banyak saja jumlah orang yang meninggal akibat bencana ini. Seperti biasa hati kita terketuk oleh keadaan ini dan mulailah kita berinisiatif untuk memberikan bantuan.
Melihat pelajaran terdahulu saat Tsunami di Aceh, banyak pihak yang akhirnya mendirikan posko-posko bantuan atau dompet-dompet sosial untuk menyalurkan bantuan materi seperti bahan makanan dan air serta sandang ke saudara-saudara kita yang tertimpa bencana. Hal itu juga terjadi saat peristiwa gempa Jogja dan yang terakhir ini gempa Pangandaran. Walaupun seringkali tidak beres dalam pengaturan dan penyaluran bahan logistik bantuan, namun banyak juga saudara-saudara kita yang merasa sangat terbantu dengan bantuan yang diberikan. Namun bila kita melihat lebih jauh, apakah hanya bantuan materi yang mereka butuhkan. Apakah juga mereka butuh bantuan dan dukungan psikologis untuk membuat mereka merasa lebih nyaman?
Bencana alam menimbulkan efek yang sangat besar pada diri manusia. Tidak hanya secara fisik seperti materi dan nyawa manusia yang hilang akibat bencana, namun juga secara psikologis menimbulkan efek yang sangat besar terutama terhadap orang-orang yang ditinggalkan oleh sanak keluarganya. Hal ini juga lebih menjadi perhatian apabila menyangkut keadaan anak-anak yang ditinggal mati oleh ayah dan ibunya serta tidak ada lagi keluarga untuk berlindung seperti terjadi saat tsunami Aceh. Para profesional di bidang penanganan bencana alam seharusnya juga sadar akan hal ini. Mengalami dan melihat peristiwa yang mengancam jiwa serta keutuhan fisik seseorang saat bencana akan menimbulkan suatu keadaan yang sangat tidak menyenangkan. Perasaan seperti mengalami kembali peristiwa traumatik tersebut (flashback), teringat kembali peristiwa tersebut yang dicetuskan oleh keadaan atau hal-hal yang mirip dengan keadaan itu adalah sebagian dari gejala psikologis yang dapat timbul beberapa hari bahkan berbulan-bulan setelah bencana usai. Tentunya penanganan yang profesional perlu untuk mengatasi keadaan ini. Penanganan bencana tidak hanya mementingkan masalah bantuan fisik semata juga harus dapat memberikan bantuan psikologis kepada para korban yang masih hidup. Berbagai profesional di bidang kesehatan jiwa seperti psikiater, psikolog, terapis, konselor atau perawat yang peduli akan kesehatan jiwa dapat bekerja sama dalam menangani keadaan pasca bencana ini. Tentunya yang diharapkan buka suatu tindakan yang hanya bersifat sementara (hit and run) namun tentunya dapat bersifat lebih berkesinambungan karena penanganan gangguan jiwa akibat peristiwa traumatik itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Walaupun dalam terapi diupayakan pasien dapat melatih dirinya untuk menghadapi dan meredakan keluhannya itu sendiri, namun keterlibatan profesional di bidang kesehatan jiwa sangat membantu untuk memberikan dukungan dan bantuan yang sekiranya diperlukan. Kita semua mengharapkan para pemimpin yang terlibat dalam penanganan bencana ini memberikan perhatian yang lebih terhadap dampak psikologis yang ditimbulkan oleh bencana alam tersebut dan bagaimana mengatasinya. Kerjasama di berbagai bidang juga sangat diperlukan. Para profesional di bidang kesehatan haruslah tetap melihat seseorang secara utuh sebagai individu yang memiliki jiwa dan raga yang tentunya dalam keadaan yang tidak baik akibat bencana yang melanda. Dengan pemikiran seperti ini, di kemudian hari kita sebagai masyarakat juga tentunya tidak hanya berpikir bahwa saudara-saudara kita hanya memerlukan bantuan materi namun juga dukungan psikologis.
Trauma_LogoTahun belakangan ini bencana alam rasa-rasanya hampir tidak pernah lepas dari kehidupan kita sebagai bangsa. Belum selesai penanganan gempa bumi di Jogja dan Bantul serta kota-kota sekitarnya, terdengar kabar terjadinya gempa bumi di daerah Pangandaran, Cilacap,dan sekitarnya. Jumlah korban memang tidak sebanyak gempa bumi di Jogja, namun semakin hari rasanya semakin bertambah banyak saja jumlah orang yang meninggal akibat bencana ini. Seperti biasa hati kita terketuk oleh keadaan ini dan mulailah kita berinisiatif untuk memberikan bantuan. Melihat pelajaran terdahulu saat Tsunami di Aceh, banyak pihak yang akhirnya mendirikan posko-posko bantuan atau dompet-dompet sosial untuk menyalurkan bantuan materi seperti bahan makanan dan air serta sandang ke saudara-saudara kita yang tertimpa bencana. Hal itu juga terjadi saat peristiwa gempa Jogja dan yang terakhir ini gempa Pangandaran. Walaupun seringkali tidak beres dalam pengaturan dan penyaluran bahan logistik bantuan, namun banyak juga saudara-saudara kita yang merasa sangat terbantu dengan bantuan yang diberikan. Namun bila kita melihat lebih jauh, apakah hanya bantuan materi yang mereka butuhkan. Apakah juga mereka butuh bantuan dan dukungan psikologis untuk membuat mereka merasa lebih nyaman? Bencana alam menimbulkan efek yang sangat besar pada diri manusia. Tidak hanya secara fisik seperti materi dan nyawa manusia yang hilang akibat bencana, namun juga secara psikologis menimbulkan efek yang sangat besar terutama terhadap orang-orang yang ditinggalkan oleh sanak keluarganya. Hal ini juga lebih menjadi perhatian apabila menyangkut keadaan anak-anak yang ditinggal mati oleh ayah dan ibunya serta tidak ada lagi keluarga untuk berlindung seperti terjadi saat tsunami Aceh. Para profesional di bidang penanganan bencana alam seharusnya juga sadar akan hal ini. Mengalami dan melihat peristiwa yang mengancam jiwa serta keutuhan fisik seseorang saat bencana akan menimbulkan suatu keadaan yang sangat tidak menyenangkan. Perasaan seperti mengalami kembali peristiwa traumatik tersebut (flashback), teringat kembali peristiwa tersebut yang dicetuskan oleh keadaan atau hal-hal yang mirip dengan keadaan itu adalah sebagian dari gejala psikologis yang dapat timbul beberapa hari bahkan berbulan-bulan setelah bencana usai. Tentunya penanganan yang profesional perlu untuk mengatasi keadaan ini. Penanganan bencana tidak hanya mementingkan masalah bantuan fisik semata juga harus dapat memberikan bantuan psikologis kepada para korban yang masih hidup. Berbagai profesional di bidang kesehatan jiwa seperti psikiater, psikolog, terapis, konselor atau perawat yang peduli akan kesehatan jiwa dapat bekerja sama dalam menangani keadaan pasca bencana ini. Tentunya yang diharapkan buka suatu tindakan yang hanya bersifat sementara (hit and run) namun tentunya dapat bersifat lebih berkesinambungan karena penanganan gangguan jiwa akibat peristiwa traumatik itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Walaupun dalam terapi diupayakan pasien dapat melatih dirinya untuk menghadapi dan meredakan keluhannya itu sendiri, namun keterlibatan profesional di bidang kesehatan jiwa sangat membantu untuk memberikan dukungan dan bantuan yang sekiranya diperlukan. Kita semua mengharapkan para pemimpin yang terlibat dalam penanganan bencana ini memberikan perhatian yang lebih terhadap dampak psikologis yang ditimbulkan oleh bencana alam tersebut dan bagaimana mengatasinya. Kerjasama di berbagai bidang juga sangat diperlukan. Para profesional di bidang kesehatan haruslah tetap melihat seseorang secara utuh sebagai individu yang memiliki jiwa dan raga yang tentunya dalam keadaan yang tidak baik akibat bencana yang melanda. Dengan pemikiran seperti ini, di kemudian hari kita sebagai masyarakat juga tentunya tidak hanya berpikir bahwa saudara-saudara kita hanya memerlukan bantuan materi namun juga dukungan psikologis.