Hepatitis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus. Terdapat lima jenis virus hepatitis, yaitu A, B, C, D, dan E. Hepatitis B dan C dapat menyebabkan infeksi kronis menuju sirosis dan kanker hati sehingga menimbulkan dampak yang besar pada kesehatan. Hepatitis C ditularkan melalui paparan darah yang terinfeksi. Oleh sebab itu, orang yang memiliki risiko tinggi terkena penyakit ini adalah orang-orang yang menjalani prosedur medis invasif dan penyuntikan dengan  kontrol infeksi yang masih buruk, termasuk pekerja kesehatan. Selain itu, orang-orang dengan tindik dan tato juga memiliki risiko yang tinggi. Hepatitis C kronis telah menginfeksi kurang lebih 150.000.000 (seratus lima puluh juta) orang di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 500.000 dalam satu tahun. Sayangnya pengetahuan dan kesadaran mengenai deteksi dini dan pengobatan hepatitis ini di masyarakat masih sangat kurang. Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa ia telah terinfeksi hepatitis C. Peningkatan edukasi menjadi sangat penting agar dapat dilakukan deteksi dan  tata laksana lebih awal. Beberapa waktu lalu, WHO mengeluarkan panduan tata laksana hepatitis C terbaru pada bulan April 2014. Diharapkan dengan adanya panduan terbaru ini dapat meningkatkan standar pengobatan pasien ini sehingga dapat mengurangi angka kematian akibat sirosis dan kanker hati. Penelitian terus dikembangkan untuk menemukan obat-obatan yang lebih efektif, aman, dan terjangkau ke depannya. Keterjangkauan ini penting karena kebanyakan pasien hepatitis C yang membutuhkan pengobatan, tidak mendapatkannya karena tidak mampu. Pada panduan ini, WHO memberikan beberapa rekomendasi kunci yang bertujuan untuk meningkatkan penyaringan deteksi infeksi hepatitis C. Selain itu, WHO juga memberikan saran untuk mengurangi kerusakan jaringan hati pada pasien yang telah terinfeksi, serta pemilihan dan pemberian pengobatan yang tepat untuk infeksi hepatitis C kronis. Deteksi awal dan Tes Screening Hepatitis C WHO menganjurkan dilakukan penyaringan dengan pemeriksaan serologi virus hepatitis C pada orang yang memiliki risiko tinggi terpapar infeksi virus ini. Beberapa kelompok yang rentan terpapar:
  • Orang yang menjalani tindakan medis umum maupun dari dokter gigi di pelayanan kesehatan dengan kontrol infeksi yang masih substandard.
  • Orang yang menerima transfusi darah yang belum dilakukan pemeriksaan serologi hepatitis C pada pendonor.
  • Orang yang memakai obat-obatan suntik.
  • Orang  yang memiliki tato atau tindik yang tidak terkontrol regulasi infeksinya.
  • Anak yang lahir dari ibu yang terinfeksi hepatitis C.
  • Orang yang terinfeksi HIV.
  • Orang yang menggunakan obat-obatan intranasal.
  • Para tahanan penjara.
Jika ditemukan hasil positif pada pemeriksaan penyaring, kemudian ditentukan apakah orang tersebut telah terinfeksi hepatitis C kronis menggunakan pemeriksaan asam nukleat dari RNA virus hepatitis C. Pemeriksaan ini juga dilakukan untuk menentukan perlunya diberikan obat antiviral. Penanganan Orang dengan Hepatitis C Pada orang yang positif hepatitis C harus dicari tahu riwayat penggunaan alkohol. Alkohol merupakan salah satu zat yang dapat memperburuk kerusakan hati. Karena itu pada pasien yang telah terinfeksi penyakit ini, direkomendasikan untuk dilakukan konseling apabila mengonsumsi alkohol untuk mengurangi kebiasaan tersebut, terutama bila konsumsi dalam jumlah banyak. Selain itu, pada pasien yang telah terinfeksi hepatitis C juga sebaiknya dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui derajat sirosis dan fibrosis hati dengan aminotransferase/platelet ratio index (APRI) atau FIB4, jika memungkinan dilakukan pemeriksaan invasif dengan elastografi atau Fibrotest. Pengobatan Hepatitis C Pasien yang terinfeksi hepatitis C kronis harus dilakukan pertimbangan apakah perlu diberikan pengobatan antiviral. Obat yang direkomendasikan saat ini adalah regimen oral pegylated interferon dan ribavirin. Pada pasien yang dicurigai terkena infeksi hepatitis C kronis genotipe 1, 2, 3, dan 4 dianjurkan regimen tersebut ditambahkan dengan pemberian sofosbuvir. Kombinasi regimen  interferon dan ribavirin ditambah telaprevir atau boceprevir yang merupakan antiviral kerja langsung juga direkomendasikan untuk pasien dengan hepatitis C genotipe 1. Sedangkan untuk infeksi hepatitis C genotipe 1b serta genotype 1a tanpa polimorfisme Q80K regimen direkomendasikan kombinasi dengan simeprevir. Panduan tata laksana ini juga merekomendasikan untuk pembuat kebijakan dan pekerja kesehatan agar dapat mencegah transimisi hepatitis C, termasuk untuk mengatur keselamatan prosedur medis dan penyuntikan di pusat kesehatan serta orang-orang yang melakukan suntikan, juga proses penyaringan untuk transfusi darah.