Apakah orang yang berpuasa boleh tetap melakukan olahraga? Jika pertanyaan ini diajukan kepada Sofiane Feghouli, salah satu pemain muslim di klub sepak bola asal Spanyol, Valencia, tentu dia akan menjawab, “puasa jalan, olahraga juga tetap jalan.”1 Olahraga merupakan kebutuhan manusia . Dengan berolahraga secara teratur akan meningkatkan kebugaran, stamina / daya tahan tubuh, rasa percaya diri , daya ingat yang semakin kuat, mengurangi stres, dan memperlancar peredaran darah. Selain itu juga meningkatkan kolateralisasi, yaitu berkembangnya pembuluh darah kecil / mikrosirkulasi di jantung, ginjal, dan organ lainnya, sehingga mengurangi risiko serangan jantung. Meskipun memiliki berbagai keterbatasan selama berpuasa, bukan berarti aktivitas kita hanya diisi dengan tidur atau bermalas-malasan. Agar tetap bugar, olahraga sebaiknya tidak ditinggalkan.2 Bagi sebagian orang, puasa menjadi alasan untuk absen berolahraga. Kondisi tubuh yang lemas dan takut dehidrasi menjadi beberapa alasannya. Padahal, jika kita tahu trik-triknya, berolahraga pada bulan puasa bisa tetap dilakukan.1 Namun waktu pelaksanaan, jenis olahraga, dosis dan waktu olahraga perlu disesuaikan dengan kondisi puasa dan kondisi tubuh seseorang.2,3 Olahraga saat puasa dapat dilakukan dengan intensitas 40% hingga 50% lebih sedikit dari zona latihan yang biasa dilakukan, contoh: apabila biasa lari lima kali seminggu selama satu jam, maka saat puasa cukup lakukan jalan cepat tiga kali seminggu, masing-masing 30 menit. Karena intensitas latihan yang dilakukan itu ringan, tentunya hal ini tidak akan memberatkan bagi orang-orang yang sebelumnya tidak pernah berolahraga. Setiap berolahraga di bulan puasa jangan lupa melakukan pemanasan dan pendinginan. Lakukan gerakan peregangan (stretching) dengan tujuan dapat terhindar dari cedera atau nyeri otot setelah melakukan olahraga. Cukup olahraga ringan seperti jogging, treadmill, sepeda statis, senam, jalan sehat selama 20 s/d 30 menit. Waktu pelaksanaan olahraga: 1) saat menjelang buka puasa, 2) usai shalat tarawih 3) menjelang sahur. Latihan seperti, yoga, pilates, body balance, lebih tepat dilakukan saat berpuasa. Selain intensitas rendah, latihan tersebut juga memiliki manfaat bagi pikiran dan jiwa. 2,3,4 Hal yang paling dikhawatirkan dalam berolahraga apabila dilakukan saat puasa adalah menurunnya cadangan cairan tubuh / dehidrasi. Untuk mengganti cairan tubuh maka harus menunggu saat berbuka. Akibatnya bisa jadi tubuh akan kekurangan air. Keadaan ini dapat mengganggu fungsi organ tubuh yang lain. Oleh karena itu, waktu paling tepat untuk berolahraga adalah setengah hingga satu jam sebelum berbuka puasa. Dengan demikian, tidak perlu menunggu lama untuk minum sesuai kebutuhan. Cairan atau keringat yang dikeluarkan tubuh saat berolahraga dapat segera tergantikan. Segera minum setelah berlatih juga dapat menurunkan suhu badan yang meningkat akibat panas yang terjadi ketika berolahraga. Saat sore hari sibuk menyiapkan hidangan buka puasa, waktu berolahraga dapat diundur setelah berbuka. Tunggu dua jam setelah perut terisi makanan agar organ pencernaan memiliki cukup waktu untuk mencerna. Jika olahraga di malam hari jadi pilihan, perlu diingat tubuh kita pun memerlukan istirahat. Sebaiknya berhenti berolahraga 3 jam sebelum tidur. Sebab tubuh butuh waktu memulihkan diri agar dapat melakukan kegiatan sahur esok harinya.2 Untuk tetap mempertahankan massa otot, gunakan waktu berbuka puasa untuk mengonsumsi karbohidrat dan protein dalam jumlah yang tinggi. Hal itu bertujuan untuk memberi nutrisi pada jaringan otot dan sel-sel tubuh lainnya serta menghindari penurunan massa otot akibat lapar yang berlebihan. Kemudian dilanjutkan berolahraga lebih kurang setelah shalat tarawih setelah latihan masukan protein dan karbohidrat lagi. Menu makan saat sahur harus memenuhi kecukupan gizi, yaitu komposisi karbohidrat, protein, dan lemak harus seimbang, 15% protein, 20-25% lemak, dan sisanya karbohidrat. Kekurangan protein dapat menyebabkan banyaknya protein tubuh yang dipecah saat olahraga. Padahal protein ini penting untuk proses metabolisme sel-sel otak dan saraf .2 Dan yang terakhir, tidak kalah pentingnya adalah lakukan olahraga tersebut bersama dengan anggota keluarga lainnya sehingga tidak hanya diri kita sendiri yang sehat namun juga kita mengajak orang lain untuk menjalani kebiasaan hidup sehat dan lebih mempererat hubungan kekeluargaan.3 Jadi, olahraga di bulan puasa, kenapa tidak? Selamat mencoba dan selamat berolahraga! DAFTAR PUSTAKA
  1. Hindra. Kompas Cetak : Olahraga di Bulan Puasa. Diunduh dari www.health.kompas.com/read/2012/08/07/14064384/Olahraga.di.Bulan.Puasa. Selasa 7 Agustus 2012.
  2. Prasetyo Yudik. Pengaruh Olahraga di Bulan Puasa. Diunduh dari www.staff.uny.ac.id/sites/default/files/132308484/yudik_medikora_april_2009_pengaruh_olahraga_di_bulan_puasa.pdf.
  3. Wahyuningsih Merry. Olahraga yang Aman di Bulan Puasa. Diunduh dari www.health.detik.com>healthnews. Sabtu 6 Agustus 2011.
  4. Fahmiarto Anjar, Hapsari Endah. Berolahraga Saat Puasa, Beginilah caranya. Diunduh dari www.republika.co.id>ramadhan>shaumsehat. Selasa 31 Juli 2012.