Berbagai informasi di sekeliling kita mengatakan agar kita menjaga kesehatan dengan berolahraga rutin dan makan makanan yang sehat. Bahkan teman-teman di ‘gym’ pun terus mengingatkan hal yang sama, kurangi makanan berlemak, jangan yang manis-manis, lakukan kardio... dan lain sebagainya. Tapi nyatanya, banyak dari kita sudah bersusah payah menjaga makan dan terus nge-’gym’ masih saja merasa tak bersemangat, cepat lelah dan sulit menurunkan berat badan. Ada sesuatu yang kurang, dan itu adalah tidur. Ya, kita kurang memperhatikan tidur kita. Dengan tidur yang sehat (cukup dan berkualitas) kita bangun dengan segar, bugar dan penuh semangat. Kita pun tahu bahwa semua makhluk hidup membutuhkan tidur. Sedemikian pentingnya proses tidur, hingga bayi yang baru lahir menghabiskan 22 jam sehari dalam kondisi tidur. Ini untuk menjamin proses tumbuh kembang yang normal. Dan tahukah Anda, bahwa sistem daya tahan tubuh kita hanya bekerja optimal pada saat tidur? Ya, sehingga perlu diingat, segala macam vitamin yang kita berikan pada putra-putri kita akan percuma saja jika tidurnya kurang. Tidur dan Obesitas Masalah tidur yang paling berbahaya saat ini adalah sleep apnea, atau henti nafas saat tidur, yang ditandai dengan mendengkur dan kantuk berlebih. Kita juga juga tahu bahwa orang yang gemuk rata-rata tidur mendengkur. Tapi nanti dulu, bagi ras Asia (termasuk Indonesia) tidak perlu gemuk untuk menderita sleep apnea. Ini disebabkan oleh struktur rahang yang sempit dan leher yang pendek pada orang Asia. Henti nafas saat tidur, akan menyebabkan penderitanya terbangun-bangun (tanpa tersadar) dalam tidur. Akibatnya ia akan selalu berada dalam kondisi kurang tidur, walaupun sudah tidur cukup. Tak heran jika penderitanya mudah sekali mengantuk. Kondisi kurang tidur, baik karena kualitas tidur yang buruk atau jam tidur yang kurang, memiliki nafsu makan yang tinggi. Ini disebabkan oleh menurunnya kadar leptin (hormon pengontrol nafsu makan.) Belum lagi pengaruh kondisi kurang tidur yang menyebabkan seseorang jadi malas untuk berolah raga. Ini menjadi semacam lingkaran setan. Dan untuk memutusnya, sleep apnea harus diatasi terlebih dahulu. Setelah kualitas tidur diperbaiki, akan lebih mudah bagi seseorang untuk menurunkan berat badan. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa perawatan sleep apnea akan memperbaiki kondisi kesehatan seseorang. Sleep apnea telah lama dihubungkan dengan hipertensi, gangguan jantung dan stroke. Bahkan di bulan Juni 2008, IDF (International Diabetes Federation) sudah menyarankan agar semua pasien diabetes tipe 2 diperiksa tentang kemungkinan sleep apnea. Caranya, mudah saja, tanyakan kebiasaan mendengkur! Bagaimana dengan Anda sendiri? Untuk beraktifitas sehari-hari, berapa cangkir kopi yang harus Anda minum? Bagaimana dengan minuman berenergi? Coba pertimbangkan. Semakin Anda merasa lelah, semakin banyak kafein yang Anda butuhkan. Dan bukan saja kafein, pendampingnya seperti gula atau pemanis artifisial juga sudah menjadi konsumsi sehari-hari. Bahkan anak remaja pun minum minuman Cola sebagai pelengkap makan. Ini tentu kurang sehat. Semakin banyak kafein yang diminum, semakin terganggu juga tidur kita di malam hari. Ini menciptakan lingkaran setan yang lain. Kafein akan memberi pengaruh 9-15 jam. Untuk itu, aturlah konsumsi kafein. Nikmati kafein dengan aman, yaitu kira 12 jam sebelum tidur. Olah raga dan Tidur Semua orang sudah tahu manfaat olah raga bagi kesehatan. Dengan olah raga yang teratur, seseorang menjadi sehat, bugar, ‘alert’ dan penuh vitalitas. Penderita sleep apnea yang sudah dalam perawatan pun tetap dianjurkan untuk berolah raga. Tetapi untuk mendapatkan manfaat maksimal berolah raga, seseorang harus mengatur ‘timing’-nya dengan baik. Jarak waktu yang dianjurkan adalah tiga jam. Banyak orang yang berpendapat bahwa dengan berolah raga, tubuh akan merasa lelah sehingga mudah tidur. Ini tidak sepenuhnya benar, saat olah tubuh adrenalin akan meningkat kadarnya dalam darah. Akibatnya walaupun tubuh capek, pikiran kita tetap segar sehingga menyulitkan untuk tidur. Penelitian Prof. Livingston juga menunjukkan hubungan antara suhu inti tubuh dengan tidur. Menjelang tidur, suhu inti tubuh akan menurun. Olah raga akan meningkatkan suhu tubuh, sehingga kita memerlukan waktu untuk menurunkannya sebelum tidur. Celakanya, banyak pusat kebugaran yang buka hingga larut malam. Banyak juga manusia modern yang berolah raga di malam hari karena berbagai alasan seperti baru sempat, menunggu macet atau untuk membantu tidur. Padahal waktu yang paling tepat untuk berolah raga adalah di pagi atau sore hari. Olah raga di malam hari, akan mempersulit tidur. Pada beberapa orang, karena beban utang tidur, ia masih dapat tidur setelah berolah raga, tapi kualitas tidur akan berkurang. Tak heran jika ia nantinya masih merasa lelah setelah tidur cukup. Hanya tidurlah yang mampu meningkatkan kemampuan kognitif, mental dan emosional. Tidak ada satu zat pun yang dapat menggantikan tidur. Artinya, kemampuan konsentrasi, analisa, kreativitas dan ketelitian kita amat bergantung pada tidur malam sebelumnya. Tidur bukanlah suatu sikap kemalasan. Justru tidur yang sehat akan meningkatkan produktivitas kita. ************** Prof. Dement, bapak kedokteran tidur, mengemukakan konsep kesehatan yang disebut Triumvirate of Health. Dimana untuk mencapai kesehatan yang paripurna kita perlu memperhatikan tiga faktor: keseimbangan nutrisi, olah raga teratur, dan tidur yang sehat!