Puasa Ramadhan merupakan sebuah kegiatan religi yang rutin dilakukan oleh umat muslim setiap tahunnya. Selama satu bulan, seorang muslim tidak boleh makan, minum, merokok, dan berhubungan seksual mulai dari waktu terbit hingga tenggelamnya matahari, atau sekitar 13 jam di Indonesia. Hal ini dapat menyebabkan penurunan asupan energi dan massa dalam tubuh akibat perubahan yang signifikan pada metabolisme karbohidrat, protein dan lemak.1 Tak hanya pola makan, jumlah dan tipe makanan yang dikonsumsi selama bulan puasa pun berubah.1 Misalnya menu berbuka yang lebih banyak mengandung lemak, protein, dan gula dibandingkan bulan-bulan biasa.1 Puasa dan nyeri kepala Salah satu keluhan yang sering dialami oleh seseorang selama berpuasa adalah nyeri kepala.1, 2 Nyeri kepala akibat puasa pertama kali dikemukakan oleh peneliti Israel, Mosek et al pada tahun 1994, yang menyatakan bahwa puasa berisiko meningkatkan frekuensi timbulnya serangan pada seseorang yang memiliki riwayat nyeri kepala kronis.3 Pada penelitian yang dilakukan di Malaysia, puasa dapat meningkatkan derajat, frekuensi, dan intensitas nyeri kepala. Semakin lama durasi berpuasa maka semakin besar pula risiko munculnya nyeri kepala pada seseorang.1, 2 Di Arab Saudi sendiri, insiden nyeri kepala dialami oleh 41% dari 91 orang staf kesehatan yang berpuasa dibandingkan dengan 8% dari 25 staf yang tidak berpuasa.1 Dari penelitian yang dilakukan di salah satu klinik di Afganistan, tipe nyeri kepala yang sering terjadi akibat puasa Ramadhan adalah nyeri kepala karena tegang atau Tension Type Headache (TTH) dan migrain dengan prevalensi masing-masing 67% dan 14%.1 Karakteristik nyeri kepala akibat puasa Nyeri kepala akibat puasa merupakan nyeri kepala sekunder akibat gangguan homeostasis.3 Pasien dikatakan nyeri kepala akibat berpuasa jika nyeri tersebut muncul selama berpuasa lebih dari 12 jam, dan hilang dalam waktu 72 jam setelah makan.3 Selain itu, nyeri kepala akibat berpuasa harus memenuhi setidaknya satu dari beberapa karakteristik sebagai berikut: nyeri di bagian dahi/ kening atau bilateral, nyeri tumpul, kualitas tak pulsatil, dan intensitasnya ringan atau sedang.3 Seseorang dengan riwayat nyeri kepala kronis memiliki karakteristik nyeri yang sama dengan seseorang yang tidak memiliki riwayat tersebut.2 Umumnya nyeri kepala tersebut muncul saat sore hari menjelang buka puasa.2 Faktor penyebab Walaupun dehidrasi, faktor stres psikis, merokok, durasi tidur yang terlalu lama, serta akumulasi metabolit disebut-sebut sebagai faktor penyebab, berhentinya pasien secara mendadak (withdrawal) dari kebiasaan konsumsi kopi dan teh selama berpuasa merupakan faktor risiko utama pemicu nyeri kepala.1, 4 Sakit kepala umumnya muncul 12 hingga 24 jam setelah konsumsi kafein lebih dari 400 mg/hari (atau setara dengan 2 cangkir kopi atau teh).1, 4 Selain itu, hipoglikemia juga dikatakan sebagai pemicu timbulnya nyeri kepala pada orang yang berpuasa.1, 5 Akan tetapi, hipoglikemia tak dapat menjelaskan terjadinya nyeri kepala pada seseorang yang menjalani puasa Ramadhan.2, 5 Sehari-hari, tubuh bergantung pada metabolisme karbohidrat sebagai sumber energi, terutama di otak.1 Akan tetapi saat berpuasa, tubuh mengandalkan glukosa yang disimpan di dalam hati, dalam bentuk glikogen, sebagai sumber energi.1, 6 Dalam keadaan normal, cadangan glikogen di hati mampu mempertahankan gula darah tubuh dalam batas normal selama 24 jam. Hal ini tidak mampu menjelaskan terjadinya nyeri kepala akibat hipoglikemia pada orang yang berpuasa Ramadhan selama 13-14 jam, seperti di Indonesia dan Malaysia.2 Selain itu, wanita berisiko lebih besar mengalami nyeri kepala akibat puasa. Hal ini berhubungan dengan faktor hormonal, stress psikis, mudah lelah dan sindrom pramenstruasi yang tidak dialami oleh pria. Cara mengatasi Salah satu cara mengatasi yang efektif untuk mencegah timbulnya nyeri kepala akibat berpuasa adalah dengan menghindari faktor risiko, misalnya mengurangi konsumsi kopi atau teh satu minggu sebelum berpuasa.1, 6 Selain itu, perlu diperhatikan makanan saat sahur.1 Penelitian menunjukkan, lebih banyak orang yang mengalami nyeri kepala dan haus akibat mengonsumsi makanan kaya protein saat sahur daripada makanan kaya lemak dan karbohidrat.1 Kita juga harus tetap menjaga agar tubuh kita tetap terhidrasi (mengonsumsi cairan) dengan baik.6 Selain meminum air putih yang cukup ketika sahur, kita juga perlu mengonsumsi sayur dan buah yang mengandung banyak air dan kurangi makan garam karena menyebabkan kita mudah haus.6 Untuk menghindari dehidrasi, hindari pula tempat-tempat yang terpapar cahaya matahari secara langsung.6 Jika nyeri kepala terlanjur menyerang, seseorang perlu mengonsumsi parasetamol untuk mengurangi gejala tersebut.1 Parasetamol cukup efektif meredakan nyeri kepala intensitas ringan-sedang akibat puasa dengan komposisi yang aman bagi lambung orang yang berpuasa.7 Akan tetapi jika sakit kepala masih juga dirasakan, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter untuk diagnosis dan tatalaksana yang lebih adekuat dan optimal.  DAFTAR PUSTAKA 1.      Leiper J, Molla A, Molla A. Effects on health of fluid restriction during fasting in Ramadhan. European Journal of Clinical Nutrition 2003;57:S30-S8. 2.      Chew NK, Tan CT, Chong HT, et al. Ramadhan Headache. Neurol J Southeast Asia 2001;6:13-7. 3.      Synder R. Halakhic headaches: how much affliction is too much? Derech HaTeva:61-3. 4.      Albayram S, Gunduz A, Isik Z. Can ramadhan fasting cause relapse and aggravation of spontaneous intracranial hypotension? AGRI 2013;25(1):44-6. 5.      Diamond S, Franklin MA. Yom-Kippur Headache: How to cope with the "fasting headache". HeadWise 2013;3. 6.      Isenberg S. Wellness Report: A few fasting fixes. Israel; 2008. 7.      Fasting: health risk. www.nhs.uk/Livewell/Healthyramadan/Pages/fastinghealthrisks.aspx, 2012. (Accessed May 25th, 2014, at