"Andre, ayo minum jus wortelmu, supaya kamu nggak memakai kacamata seperti kakakmu" seru ibu. Sering mendengar seruan seperti ini? Banyak ungkapan-ungkapan tentang kesehatan mata yang kita dengar sehari-hari. Namun apakah semua ungkapan tersebut benar? Atau selama ini kita telah salah mempercayai pernyataan-pernyataan yang beredar di masyarakat tersebut? Sekarang mari kita simak beberapa mitos dan fakta seputar kesehatan mata ini. Mitos: Banyak makan wortel dapat mencegah mata minus Fakta: Wortel mengandung banyak vitamin A yang berperan dalam produksi rhodopsin (protein dalam sel batang di retina yang berfungsi untuk melihat dalam keadaan kurang cahaya/gelap). Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan buta senja dan xeroftalmia (kekeringan pada mata) yang jika dibiarkan dapat bertambah parah dan mengakibatkan kebutaan. Namun, konsumsi vitamin A terlalu banyak pun tidaklah baik. Kelebihan vitamin A dapat mengakibatkan kurang nafsu makan, kulit berwarna kekuning-kuningan, kering, bersisik, mood tidak stabil, mudah lelah, dll. Sementara itu, vitamin A tidak berpengaruh terhadap mata minus. Mata minus dapat terjadi oleh karena gangguan refraksi, yaitu sumbu mata (jarak kornea-retina) terlalu panjang atau daya bias kornea, lensa atau akuos humor (cairan bilik mata) terlalu kuat. Mitos: Bekerja dengan komputer selama berjam-jam dapat merusak mata Fakta: Menggunakan komputer dalam jangka waktu lama hanya akan menyebabkan mata menjadi lelah, tegang, dan kering akibat mata jarang berkedip tanpa disadari. Jadi jika anda menggunakan komputer selama berjam-jam tetap berikan istirahat pada mata anda. Mengistirahatkan mata dapat dilakukan dengan mengalihkan fokus penglihatan atau dengan melihat sesuatu di tempat yang lebih jauh sehingga dapat mengurangi kelelahan dan ketegangan pada mata. Penggunaan air mata buatan juga dapat dipertimbangkan. Namun jika penglihatan anda menjadi buram dan mata mudah menjadi lelah, sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter mata anda. Mitos: Semua orang tua pasti membutuhkan kaca mata untuk membaca Fakta: Semakin bertambah usia, daya akomodasi mata semakin berkurang. Akibat gangguan akomodasi ini, orang tua di atas 40 tahun biasanya akan memberikan keluhan mata lelah, berair, dan sering terasa pedas setelah membaca sehingga mereka membutuhkan tambahan lensa positif untuk dapat membaca dekat. Pada umumnya di Indonesia, tambahan lensa positif 1,00 dioptri dibutuhkan untuk orang tua berusia 40 tahun dan bertambah positif 0,50 dioptri setiap usianya bertambah 5 tahun sampai mencapai kekuatan maksimal positif 3,00 dioptri. Namun ketentuan tersebut tidak selalu sama untuk setiap orang karena keadaan ini dipengaruhi oleh kekuatan otot akomodasi masing-masing orang. Mitos: Bintitan timbul karena mengintip Fakta: Bintitan atau dalam istilah kedokterannya disebut hordeolum merupakan infeksi akut dan bernanah pada kelenjar kelopak mata yang biasanya disebabkan oleh kuman stafilokok. Infeksi pada kelenjar tersebut menyebabkan terjadinya pembengkakan. Hordeolum pada umumnya sembuh sendiri dan dapat diberikan hanya berupa kompres hangat. Namun pada beberapa kasus dapat diberikan antibiotika dan bahkan membutuhkan tindakan pembedahan. Mitos: Mata kita dapat didonorkan Fakta: Mendonorkan mata bukan berarti memberikan bola mata kita seutuhnya oleh karena mata kita terhubung dengan otak melalui saraf optikus. Saraf ini dibentuk oleh lebih dari satu juta serabut saraf yang sangat kecil dimana saraf tersebut tidak dapat dihubungkan kembali jika terputus. Donor mata yang seringkali kita dengar sebenarnya hanya memberikan bagian kornea mata, yaitu lapisan yang berwarna transparan yang terletak paling depan dari bola mata. Mitos: Melihat gerhana matahari secara langsung dapat merusak penglihatan Fakta: Gerhana matahari merupakan keadaan dimana bulan terletak diantara bumi dan matahari. Pada gerhana matahari sebagian cahaya matahari tampak tidak seterang biasanya, namun masih ada cahaya matahari berbentuk bulan sabit yang tersisa. Pada saat gerhana tersebut, matahari tidak mulai memancarkan bentuk radiasi baru yang merusak namun ia tetap memancarkan radiasi yang memang dimilikinya. Jadi melihat langsung gerhana matahari sebagian sama saja dengan melihat langsung matahari penuh. Matahari selain memancarkan cahaya juga memancarkan energi. Energi panas ini difokuskan pada bagian tengah retina yang berperan dalam fine vision. Jika melihat matahari dalam jangka waktu lama bagian tengah retina ini akan terbakar. Sementara itu gerhana matahari total kurang berbahaya karena bulan menutupi seluruh bagian matahari. Sumber: Sidarta Ilyas, et al. 2002. Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran Ed-2. Jakarta: Sagung Seto Sidarta Ilyas. 2004. Ilmu Penyakit Mata Ed-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI http://lpi.oregonstate.edu/infocenter/vitamins/vitaminA/ http://www.aao.org/eyecare/tmp/Eye-Care-Facts-and-Myths.cfm http://www.abc.net.au/science/articles/2004/06/10/1128950.htm