Duh, kakek ini! Bagaimana sih?! Kakek kan baru saja menaruh kunci kamar di atas meja makan, gerutu seorang wanita paruh baya kepada ayahnya, yang telah menginjak usia sekitar 65 tahun.

Apakah Anda pernah kesal dengan kelakuan kakek atau nenek Anda?

Apakah Anda kesal karena kakek atau nenek Anda sering salah meletakkan barang pada tempatnya sehingga Anda diminta untuk mencari barang tersebut kembali padahal Anda sedang sibuk? Apakah Anda pernah berpikir mengapa kakek atau nenek Anda bisa jadi pikun begini? Apakah pernah muncul dalam pikiran Anda: apakah saya juga suatu saat akan menjadi pikun?

Ke-pikun-an ternyata merupakan penyakit KETURUNAN. Telah diadakan penelitian bahwa kepikunan dapat disebabkan oleh faktor genetik; selain bertambahnya usia seseorang yang memang mengakibatkan fungsi otak mengalami penurunan secara normal. Kepikunan adalah suatu hal yang wajar. Akan tetapi hal yang wajar ini dapat berubah menjadi suatu hal yang “tidak wajar”. Inilah yang disebut sebagai demensia.

Demensia merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh penyakit atau gangguan otak yang bersifat kronik-progresif (berlanjut dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama), dimana terdapat gangguan fungsi luhur kortikal yang beragam, termasuk didalamnya: daya ingat, daya pikir, orientasi, daya tangkap, berhitung, kemampuan belajar, berbahasa, dan menilai-mengambil keputusan (insight dan judgement).

Hingga saat ini, demensia menduduki peringkat pertama sebagai penyebab gangguan fungsi kognitif-perilaku pada usia senja. Berdasarkan penyebabnya, demensia dibagi menjadi Alzheimer’s disease, vascular dementia, dan demensia yang disebabkan oleh hal lain, seperti penyakit Parkinson, AIDS, Pick disease, dan sebagainya.

Seperti telah disebutkan, “kepikunan dapat merupakan faktor keturunan”, penderita Alzheimer’s disease cenderung memiliki lapisan otak yang lebih tipis dan kurang aktif, khususnya pada bagian korteks entorhinal. Penipisan lapisan ini dapat terjadi karena adanya variasi pada gen pembentuk apo-lipoprotein E4 (apo E4). Jadi, berhati-hatilah mereka yang pada salah satu anggota keluarganya telah terbukti mengalami demensia.

Pada vascular dementia, demensia terjadi karena adanya gangguan aliran darah ke otak, seperti pada kasus-kasus kecelakaan, trauma, dan stroke. Gangguan aliran darah ini mengurangi pasokan nutrisi dan oksigen ke dalam sel-sel otak. Seperti kita tahu, sel-sel otak merupakan kumpulan sel-sel saraf yang berfungsi mengatur gerak anggota tubuh kita, dan yang tidak kalah pentingnya, sebagai penyimpan memori. Selayaknya sebuah komputer, jika mengalami gangguan suplai listrik, dalam hal ini adalah aliran darah, maka kerja otak sebagai penggerak dan penyimpan memori tentu akan mengalami penurunan. Penurunan itu lama kelamaan dapat dilihat sebagai demensia.

Kata-kata “kekesalan” seperti yang terlihat pada kalimat di awal artikel tentu sudah tidak asing lagi di telinga dan mulut kita ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua. Terlebih lagi pada mereka yang berusia di atas 65 tahun. Akan tetapi, masyarakat kita sering kali salah kaprah dengan beranggapan bahwa anggota keluarga mereka tersebut hanyalah mengalami gejala kepikunan yang wajar. Akan tetapi, bagaimana jika kepikunan tersebut berlanjut dan semakin sering terjadi?

Bertambahnya usia seseorang juga merupakan faktor yang memegang peranan penting. Alzheimer’s disease meningkat secara dramatis setelah usia 65 dan 95 tahun. Untuk orang berusia 65 tahun, pria memiliki peluang 0,6% menderita demensia dan wanita 0,8%; 11% (pria) dan 14% (wanita) pada usia 85 tahun; 21% (pria) dan 25% (wanita) pada usia 90 tahun; serta 36% (pria) dan 41% (wanita) pada usia 95 tahun.

Bagaimana mengenali bahwa kerabat saya menderita suatu demensia?

Berikut ini disebutkan 10 gejala umum yang menunjukkan gejala demensia, yaitu:

  • Gangguan daya ingat (sering lupa), tapi daya ingat jangka panjang masih baik (masih dapat bercerita mengenai kehidupannya pada zaman penjajahan Jepang). Normalnya, orang tua dapat lupa nama, janji, tapi sesekali dapat mengingatnya kembali.
  • Salah meletakan barang. Normalnya, orang tua memang dapat salah meletakkan kunci/dompet.
  • Gangguan pengenalan (disorientasi waktu, tempat, orang). Normalnya, orang tua dapat lupa tanggal.
  • Perubahan mood dan perilaku, seperti emosi yang labil. Seseorang juga pasti memiliki emosi, seperti sedih, cemas, ataupun gembira. Akan tetapi, emosi pada orang normal masih dapat dikendalikan dan tidak berubah dalam waktu yang singkat.
  • Kesulitan berbicara dan berbahasa. Walaupun, secara normal, terkadang juga sulit menemukan istilah/kata-kata yang tepat.
  • Kehilangan inisiatif, menjadi apatis, hanya duduk di depan TV berjam-jam, dan malas. Meskipun, seseorang yang lelah juga dapat merasa malas dalam melakukan suatu hal.
  • Kesulitan mengambil keputusan yang tepat.
  • Kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan, seperti belanja, berpakaian, membayar telepon, dan mengelola keuangan.
  • Perubahan kepribadian, seperti agresi/mudah marah, paranoid.
  • Kesulitan berpikir abstrak, tidak dapat mengerjakan perhitungan. Normalnya, seseorang akan merasa tertantang untuk menyelesaikan tugas.

Akan tetapi, untuk menegakkan suatu diagnosa Alzheimer’s disease yang 100% tepat sebenarnya diperlukan tindakan biopsi sel otak, yaitu suatu tehnik medis yang mengambil/mengikis jaringan otak. Namun, hingga saat ini para pakar di bidang kesehatan pun masih mengalami kesulitan dalam menegakkan diagnosa Alzheimer’s disease selama penderita masih hidup. Diagnosa Alzheimer’s disease hanya didasarkan pada penemuan gejala klinis (perubahan sikap, sifat, fungsi luhur, dan kemampuan lainnya yang dapat diamati secara kasat mata), pemeriksaan neurologis, neuro-fisiologis, dan pemeriksaan kognitif-perilaku.

Bagaimana menyembuhkan kerabat saya yang menderita demensia?

Jawabannya adalah ADA. Akan tetapi, pengobatan tidak bersifat menyembuhkan dan permanen. Artinya, pengobatan yang ada untuk pasien-pasien demensia hingga saat ini belum dapat 100% menyembuhkan penyakit demensia. Hal ini dikarenakan kemampuan sel-sel saraf di otak untuk memperbaiki dirinya sendiri, setelah mengalami kerusakan, tidaklah sebaik sel-sel tubuh lainnya, terutama sel kulit.

Pada vascular dementia ataupun demensia yang dikarenakan hal lain selain Alzheimer’s disease dapat diperbaiki dengan mengatasi penyakit atau gangguan yang mendasarinya. Akan tetapi, pengobatan akan menjadi lebih kompleks untuk Alzheimer’s disease.

Beberapa terapi farmakologis bagi penderita Alzheimer’s disease yang hingga sekarang dinilai masih efektif, antara lain golongan asetilkolinesterase inhibitor, golongan vitamin, atau obat psikotropi untuk mengatasi gangguan mood dalam batas waktu tertentu. Di antara suplemen-suplemen obat yang telah disebutkan, asetilkolinesterase inhibitor merupakan obat yang paling berhasil memperbaiki sistem kolinergik otak.

Selain terapi farmakologis (dengan obat-obatan), penderita dapat pula diberikan terapi non-farmakologis. Sekali lagi, terapi non-farmakologis tidak dapat menyembuhkan penyakit ini secara permanen, tapi terbukti dapat menghambat perkembangan (progresivitas) sindrom demensia. Terapi-terapi non-farmakologis bertujuan untuk :

  1. mengoptimalkan kemampuan yang masih ada,
  2. mengatasi (mengendalikan) gangguan kepribadian dan perilaku penderita,
  3. membantu mengarahkan keluarga atau orang yang merawatnya (caregiver) dengan memberi informasi dan pengertian yang tepat, dan
  4. memberikan dukungan melalui lingkungan sekitar.

Beberapa contoh terapi non-farmakologis yang dapat diterapkan pada penderita demensia pada umumnya ataupun Alzheimer’s disease khususnya adalah “LMN-no debate”:

“L” : Lukisan dan warna-warna Lembut : Hindari lukisan-lukisan abstrak pada lingkungan sekitar penderita. Namun, dapat dihiasi dengan warna-warna yang lembut.

“M” : Music : Penderita diperdengarkan musik yang mengalun.

“N” : Nutrisi : Pemberian nutrisi yang baik dan seimbang, perbaikan defisit fungsi tubuh penderita, seperti defisit penglihatan dan pendengaran, perbaikan kualitas tidur penderita, dan perbaikan perilaku.

“no debate” : Orang yang mendampingi ataupun mengawasi penderita dengan sindrom demensia sebaiknya tidak memperdebatkan halusinasi ataupun ilusi yang ditunjukkan pada perilaku penderita (khususnya sering terjadi pada penderita Alzheimer’s disease). Akan tetapi, caregiver sebaiknya mengajak berdiskusi tentang hal yang dilihat, dirasakan, atau dialami penderita pada saat itu. Dengan berdiskusi, caregiver berusaha untuk menenangkan penderita dan mengajak penderita kembali ke dunia nyata.

Jangan kucilkan kerabat Anda yang mengalami gangguan kepikunan ini. Tetapi dampingilah mereka agar tetap dapat hidup bahagia di usia tua. Kita tentunya tidak ingin diperlakukan demikian ketika usia senja menghampiri kita pada saatnya nanti bukan?

Referensi:

  • American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR). Ed. ke-4. Arlington, VA. 2000. Hlm 155-158.
  • Sadock, Benjamin James, Virginia Alcott Sadock. Kaplan & Sadock’s synopsis of psychiatry : behavioral sciences/clinical. Ed. ke-10. USA:Lippincott Williams & Wilkins. 2007
  • Bayer TA, Wirths O, Majtenyi K, et al. Key factors in Alzheimer's disease: beta-amyloid precursor protein processing, metabolism and intraneuronal transport. Brain Pathol 2001;11:1-11.
  • Courtney C, Farrell D, Gray R, Hills R, Lynch L, Sellwood E, Edwards S, Hardyman W, Raftery J, Crome P, Lendon C, Shaw H, Bentham P. Long-term donepezil treatment in 565 patients with Alzheimer's disease (AD2000): randomised double-blind trial. The Lancet 363 (9427): 2105-15. 2004.
  • Bouras C, Hof PR, Giannakopoulos P, Michel JP, Morrison JH. Regional distribution of neurofibrillary tangles dan senile plaques in the cerebral cortex of elderly patients : a quantitative evaluation of a one-year autopsy population from a geriatric hospital. Tersedia dari: www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8038565.