Belakangan sering terdengar nama penyakit ini di media karena sedang merebak, terutama di daerah Timur Tengah. Banyak lembaga kesehatan baik dalam skala negara maupun dunia yang sedang mempelajari penyakit yang satu ini agar segera diketahui cara pencegahan dan penanganan yang tepat. Namun, jika penyakit ini dibilang baru, bukan berarti penyakit ini baru muncul satu-dua bulan ini. Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada September 2012 lalu. MERS atau Middle-East Respiratory Syndrome (Sindrom Pernapasan Timur Tengah) disebabkan oleh infeksi virus golongan korona (MERS-CoV). Selain pada manusia, virus ini ditemukan pula pada unta di Qatar serta beberapa negara lainnya dan kelelawar di Saudi Arabia. Namun, belum dapat dipastikan apakah memang benar penyakit ini berasal dari unta dan kelelawar, sebagaimana AIDS yang dipercaya berasal dari virus yang lazimnya menyerang simpanse. Salah satu contoh dari golongan virus korona lainnya adalah virus penyebab SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang marak sekitar tahun 2002-2003 silam. Virus ini menyebar dari manusia ke manusia. Kelompok yang paling rentan terinfeksi adalah kelompok lansia (berusia di atas 65 tahun), anak-anak, ibu hamil, orang dengan penyakit kronis (seperti diabetes melitus dan penyakit jantung-pembuluh darah) dan mereka dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang. Gejala yang ditimbulkan umumnya berupa gangguan pernapasan yang terjadi mendadak, seperti batuk, sesak napas, dan demam. Namun bagi sebagian penderita, gejalanya yang muncul hanya gejala ringan seperti flu pada biasanya. Gejala gangguan pencernaan, seperti diare dan muntah juga dapat terjadi. Infeksi ini dapat juga menyebabkan gagal ginjal. Untuk mendiagnosis seseorang menderita MERS, dapat dilakukan dengan memeriksa riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan laboratorium, seperti dengan pemeriksaaan darah dengan teknik PCR (Polymeraser Chain Reaction), dahak, dan tinja. Hingga saat ini, belum ada obat khusus yang terbukti efektif menyembuhkan MERS. Terapi yang dilakukan sejauh mengobati tiap gejala yang muncul. CDC (Centers for Disease Control and Prevention, badan kesehatan resmi Amerika) mengatakan bahwa separuh dari penderita MERS berakhir meninggal. Itu berarti jika ada dua orang yang terinfeksi, maka salah satunya akan berakhir meninggal. Akan tetapi, CDC tidak merekomendasikan orang yang akan bepergian ke Timur Tengah untuk merubah rute keberangkatan mereka. CDC sejauh ini hanya memberlakukan waspada tingkat pertama, yang menganjurkan para pelancong dan warga lokal di sekitar daerah Semenanjung Arab untuk melakukan tindakan-tindakan standar dalam pencegahan penularan virus pada umumnya. Penularan virus ini dapat dihindari dengan cara-cara yang sederhana, seperti dengan mencuci tangan selama 20 detik, menutup mulut dan hidung ketika sedang batuk atau bersin dengan tisu, tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang belum dicuci, dan membersihkan dengan desinfektan secara rutin benda-benda yang sering disentuh, seperti gagang pintu. Cara-cara ini harus lebih diperhatikan terutama oleh Anda yang akan bepergian ke Semenanjung Arab, selama Anda di sana, dan bahkan sepulangnya ke Tanah Air. Seseorang patut dicurigai terinfeksi bila mengalami demam dan gangguan pernapasan disertai dengan riwayat bepergian ke Semenanjung Arab dalam 14 hari sebelum gejala muncul, kontak dekat dengan pelancong yang sakit yang 14 hari sebelumnya bepergian ke Semenanjung Arab atau jika seseorang berada dalam satu kloter keberangkatan yang sama dengan orang yang dicurigai menderita MERS. Segera periksakan diri Anda ke dokter jika memiliki gejala dan riwayat demikian. Tidak ada batasan yang jelas berapa lama seseorang berada di Semenanjung Arab hingga dapat dikatakan berisiko terinfeksi MERS. Namun, Departemen Kesehatan Australia berpendapat bahwa jika hanya transit penerbangan di Timur Tengah (hanya berada di bandara udara dalam waktu kurang dari 24 jam), maka tidak dapat dianggap sebagai faktor risiko infeksi.   Daftar Pustaka:
  1. World Health Organization. Coronavirus Infections. WHO - Coronavirus Infections (accessed 2 May 2014).
  2. Centers for Disease Control and Prevention. Middle East Respiratory Syndrome (MERS). CDC - Middle Easr Respiratory Syndrome (MERS) (accessed 2 May 2014).
  3. Australian Government: Department of Health. Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Australian Government: Department of Health - Middle East Respiratory Syndrome (accessed 2 May 2014).
  4. Naeem Z. Middle East Respiratory Syndrome (MERS) – An update. International Journal of Health Sciences 2013; 7(3): 5-6. Middle East Respitaroy Syndrome (MERS) - An Update (accessed 2 May 2014).
  5. Cotten M, Watson SJ, Zumla AI, Makhdoom HQ, Palser AL, Ong SH, et al. Spread, Circulation, and Evolution of the Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus. mBio 2014; 5(1): e01062-13. Spread, Circulation, and Evolution of the Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (accessed 2 May 2014).
  6. Jadav HA. Middle East Respiratory Syndrome - Corona Virus (MERS-CoV): A Deadly Killer. IOSR Journal of Pharmacy and Biological Sciences 2013; 8(5): 74-81. Middle East Respiratory Syndrome - Corona Virus (MERS-CoV): A Deadly Killer (accessed 2 May 2014).
  7. Briggs H . HIV 'may have an ancient origin'. HIV 'may have an ancient origin' (accessed 2 May 2014).