Mungkin sebagian dari Anda pernah mendengar istilah Sugar Rush dalam bahasa Ingggris, yang sering dikaitkan dengan anak-anak. Sugar rush adalah istilah yang berikan pada fenomena anak-anak menjadi hiperaktif setelah mengkonsumsi makanan/minuman dengan kadar gula tinggi.1 Dari sini masyarakat mulai mengaitkan glukosa dengan terjadinya ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) pada anak. Namun apakah klaim ini benar demikian adanya, atau hanya merupakan mitos yang tidak terbukti? Mari kita lihat beberapa ulasan dari penelitian yang ada. Sebelum membahas lebih lanjut tentang hubungan antara kadar gula pada makanan dengan hiperaktifitas kita perlu mengetahui pentingnya gula terhadap fungsi tubuh kita, terutama otak manusia. Otak manusia mengandalkan glukosa (suatu bentuk molekul gula yang paling sederhana) untuk menjalan fungsi-fungsinya, antara lain kognitif, memori, koordinasi, dsb.2 Glukosa adalah satu-satunya molekul bahan bakar yang dapat digunakan oleh otak, dimana hal ini agak berbeda dengan organ lain yang masih dapat memanfaatkan energi dari molekul protein atau lemak. Sekitar 50% kadar gula dalam darah akan dimanfaatkan oleh otak untuk menjalankan fungsinya. Itu sebabnya seorang anak tentu akan kesulitan berkonsentrasi belajar di sekolah jika tidak sarapan. Bila tubuh kekurangan glukosa darah dalam kondisi yang berat, neuron (sel otak) akan gagal berkomunikasi satu dengan yang lainnya karena gagal memproduksi dan melepaskan neurotransmitter yang sangat bergantung dari energi yang diberikan glukosa. Pada kondisi yang amat berat, seseorang sampai dapat jatuh ke dalam kondisi koma/ tidak sadarkan diri. Pada awalnya, diperkirakan pada tahun 1973 merupakan awal mula dunia sains mulai tertarik meneliti hubungan antara gula dengan gejala hiperaktifitas. Klaim tersebut dibuat pertama kali oleh seorang pakar alergi bernama Dr. Benjamin Feingold, yang populer dengan nasihat Feingold tentang menghindari zat-zat aditif pada makanan.3 Dalam teorinya, gula dikategorikan pula sebagai zat aditif. Mulai sejak ini terdapat pandangan umum dalam masyarakat yang kurang baik. Namun pada penelitian di tahun-tahun selanjutnya, Dr. Hoover dari Universitas Kentucky di Amerika Serikat menemukan bahwa secara obyektif tidak terdapat perbedaan pada status hiperaktifitas anak terkait dengan penambahan atau pengurangan gula sebagai aditif pada makanan anak. Pada penelitian tersebut juga ditemukan bahwa terdapat pendapat subyektif dari orang tua yang berbeda, dimana orang tua cenderung merasa anak menjadi lebih aktif jika memakan makanan manis. Peneliti lain dari Universitas Iowa, Dr. Wolraich juga mendapatkan hasil serupa ketika meneliti response anak-anak usia pra-sekolah terhadap asupan gula. Ia membandingkan berbagai jenis gula yaitu sukrosa, aspartam, dan sakarin. Setelah dilakukan penelitian tidak ditemukan perbedaan bermakna dalam hal perubahan perilaku. Pada tahun 1995, sebuah penelitian di jurnal bergengsi Amerika Serikat, JAMA (Journal of American Medical Association) juga mempublikasikan hasil bahwa pada riset mereka membandingkan efek gula dengan placebo terhadap perilaku anak, tidak terdapat asosiasi apa-apa. Namun dalam penelitian tersebut, peneliti masih membuka kemungkinan terdapat kelompok kecil anak yang mungkin terpengaruh dengan kadar gula dibandingkan anak lain. Penelitian lain tahun 1994 yang dipublikasikan pada  Journal of Abnormal Child Psychology, menunjukan orang tua yang percaya bahwa makanan dengan kadar gula tinggi mempengaruhi perilaku anak mereka, akan mempersepsikan hal tersebut dibandingkan dengan orang tua yang tidak percaya. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa hal ini lebih terkait dengan faktor persepsi/psikologis dari orang tua yang menilai. Beberapa pakar juga menyebutkan bahwa kemungkinan pada saat pesta dimana terdapat banyak makanan manis atau yang mengandung gula tinggi, memang suasananya riang sehingga wajar anak akan tampak lebih “hiperaktif”. Lalu, sebenarnya berapa banyak kadar gula yang sebenarnya dibutuhkan dalam sehari? Menurut para ahli, sebaiknya gula atau glukosa tidak melebihi dari 5% energi/kalori yang Anda konsumsi dari total makanan dan minuman. Untuk dewasa maksimum dikatakan 30 gram per hari. Sedangkan untuk anak-anak, tentu kadarnya harus lebih sedikit, yaitu maksimum 19 gram untuk anak usia 4-6 tahun dan tidak lebih dari 24 gram untuk anak berusia 7 sampai 10 tahun.4 Di dalam menakar konsumsi gula harian, kita perlu waspada dengan makanan yang diproses seperti kue, biskuit, cokelat, serta makanan/minuman kaleng. Misalnya sebuah kaleng cola, dapat mengandung jumlah gula yang sudah mencukupi kebutuhan kita untuk 1 hari. Oleh sebab itu alangkah bijak bagi setiap orang tua untuk memeriksa label kandungan nutrisi sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk makanan/minuman. Apabila demikian, apakah orang tua dapat mengijinkan anak mereka mengonsumsi gula secara berlebihan? Tentu tidak. Meski tidak berkaitan dengan hiperaktifitas, kelebihan gula dapat mengakibatkan beberapa gangguan antara lain:
  • karang gigi / tooth decay
  • obesitas
  • peningkatan timbulnya diabetes di kemudian hari sebagai akibat obesitas
Jadi sebagai kesimpulan, konsumsi gula tidak berkaitan dengan gejala hiperaktif pada anak, apalagi sampai masuk kepada diagnosis ADHD. Sampai saat ini belum ada penyebab yang jelas untuk ADHD, namun beberapa faktor risiko antara lain seperti berat bayi lahir rendah, cedera otak, pajanan pada zat toksin seperti timbal, rokok, dan alkohol saat kehamilan.5 Tidak ada satupun penelitian yang kredibel dapat menegakan hubungan antara konsumsi kadar gula dengan ADHD. Bila setelah membaca ulasan ini Anda masih merasakan ada keraguan, dan apabila Anda merasa putra/putri Anda tampak lebih aktif dan sulit berkonsentrasi dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter ahli di sekitar Anda.

Referensi

  1. Busting the Sugar-Hyperactivity Myth [Internet]. WebMD. 2017 [cited 22 March 2017]. Available from: http://www.webmd.com/parenting/features/busting-sugar-hyperactivity-myth#1
  1. Sugar and the Brain [Internet]. 2017 [cited 22 March 2017]. Available from: http://neuro.hms.harvard.edu/harvard-mahoney-neuroscience-institute/brain-newsletter/and-brain-series/sugar-and-brain
  1. How does sugar in our diet affect our health? [Internet]. 2017 [cited 22 March 2017].Available from: http://www.nhs.uk/Livewell/Goodfood/Pages/sugars.aspx
  1. Attention Deficit Hyperactivity Disorder [Internet]. 2017 [cited 22 March 2017]. Available from: https://www.nimh.nih.gov/health/topics/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd/index.shtml
  2. Huynh N. Does Sugar Really Make Children Hyper? [Internet]. 2017 [cited 22 March 2017]. Available from: http://www.yalescientific.org/2010/09/mythbusters-does-sugar-really-make-children-hyper/