Remaja adalah kelompok yang sedang mengalami perubahan biologis, psikologis dan spiritual atau masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Periode remaja meliputi masa dari awal pubertas sampai tercapainya kematangan, biasanya mulai dari usia 14 pada pria dan usia 12 pada wanita. Pada masa remaja jugalah waktu di mana seseorang mulai sedikit demi sedikit melepaskan ketergantungan hidup dari orang tua. Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang terhadap lawan jenisnya. Seiring dengan pertumbuhan badaniah pada remaja kearah kematangan yang sempurna, muncul juga hasrat dan dorongan untuk menyalurkan keinginan seksualnya. Dorongan atau hasrat untuk melakukan hubungan seksual selalu muncul pada remaja, salah satu perilaku seksual yang dilakukan remaja untuk menyalurkan dorongan seksualnya adalah dengan cara masturbasi atau disebut juga onani. Apa itu Masturbasi? Masturbasi merupakan pemuasan sendiri secara seksual tanpa hubungan sanggama (coitus), biasanya dengan tangan atau benda lain. Hal ini sering dilakukan oleh muda-mudi dalam perkembangan fisik dan psikoseksualnya. Masturbasi juga terjadi pada orang dewasa dalam keadaan tertentu, biasanya puasa bersanggama (abstinensi), dapat melakukan masturbasi sebagai penyalur nafsu syahwat. Secara psikologis, apabila perbuatan masturbasi ini sifatnya sementara dan tidak disebabkan oleh gangguan perkembangan psikoseksual, maka itu masih dapat dianggap sebagai dalam batas-batas normal. Masturbasi menjadi kebiasaan buruk jika menimbulkan goncangan pribadi dan emosi. Masturbasi merupakan salah satu perilaku seksual pada remaja yang belum saatnya untuk melakukan hubungan seksual secara wajar. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hampir semua pria dan sekitar 80% wanita pernah melakukan masturbasi. Pengaruh Masturbasi Masturbasi sering dianggap sebagai mitos dapat menyebabkan orang menjadi mandul atau impotensi atau akibat lain seperti mata kabur ingatan menjadi kurang dan tulang menjadi keropos. Anggapan yang salah itu dapat menimbulkan kecemasan pada masyarakat terutama pada remaja karena takut akibat buruk seperti anggapan mitos tersebut. Padahal justru kecemasan itulah yang pada akhirnya dapat menimbulkan gangguan fungsi seksual. Kecemasan yang berlebihan, rasa bersalah, dan krisis kepercayaan diri biasanya melanda pria yang memiliki kebiasaan ini. Akibatnya bisa saja pria yang suka beronani dan mengalami masalah psikis, menderita apa yang disebut gangguan ereksi dan ejakulasi dini. Banyak pelaku masturbasi dihinggapi perasaan bersalah dan timbul sakit. Ditambah lagi takut bila menikah nanti tidak mempunyai keturunan atau malah impoten, terutama pada pria. Selain itu beberapa pria dalam kepercayaan tertentu mengaku takut masturbasi sebagai suatu perbuatan dosa yang pada akhirnya pikiran dosa berulang mengakibatkan gangguan psikis. Dari segi medis, pengaruh yang tidak berbahaya bagi tubuh akibat masturbasi adalah perasaan senang nyaman dan pasca orgasme, meningkatkan kualitas tidur, relaksasi otot-otot dan meningkatkan suasana hati. Masturbasi juga memiliki efek negatif yaitu jika frekuensi masturbasi cukup tinggi dengan kebiasaan tidak bersih dan kasar akan menyebabkan luka, infeksi dan pembengkakan pada alat kelamin. Yang perlu diingat masturbasi tidak menurunkan jumlah dan kualitas sperma sehingga tidak menurunkan kesuburan. Bagaimana Mengontrol Kebiasaan Masturbasi? Cara mengontrol kebiasaan masturbasi dapat melakukan beberapa cara seperti :
  • Berusahalah menyibukan diri dengan hal-hal positif bagi kehidupan dengan mengalokasikan waktu tersebut pada hal yang lebih baik dan berguna, misalnya dengan olahraga, main musik, atau hobi lainnya.
  • Gunakan waktu luang untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai kepercayaan dan berkonsultasi dengan pemuka agama untuk menambah pengetahuan agama serta mempertebal iman.
  • Jauhkan diri dari khayalan dan ilusi fantasi seksual.
  • Memperkut kekuatan niat dan hindari menghabiskan waktu sendirian. Berkumpul dan bersosialiasi dengan saudara, kerabat dan teman-teman.
  • Yang lebih penting dari itu adalah memperkuat daya kemauan. Usaha itu hanya mungkin terwujud apabila seseorang secara jujur dan tulus hendak melepaskan diri dari kebiasaan masturbasi.
Maka Dari Itu... Perkembangan seksualitas remaja telah mengakibatkan laki-laki mengalami dorongan seksual yang tinggi ketika memasuki akhir dari usia remajanya. Pada saat itu kadar hormon testosteronnya mengalami peningkatan. Arti dorongan seksual ini sebenarnya adalah ketika seseorang laki-laki mulai merasa tertarik terhadap aktivitas seksual. Kadar testosteron merupakan faktor yang berpengaruh pada dorongan seksual pada laki-laki. Dorongan seksual pada remaja, pada umumnya dihubungkan dengan kadar hormon yang berlebih. Masturbasi merupakan upaya penyaluran energi atau dorongan seksual yang berlebih. Referensi
  1. Smith AM, Rosenthal DA, Reichler H. High schoolers masturbatory practices: their relationship to sexual intercourse and personal characteristics.  Psychol Rep. 1996;79(2):499-509.
  2. Leitenberg H, Detzer MJ, Srebnik D. Gender differences in masturbation and the relation of masturbation experience in preadolescence and/or early adolescence to sexual behavior and sexual adjustment in young adulthood.  Arch Sex Behav. 1993;22(2):87-98.
  3. Halpern CJT, Udry JR, Suchindran C, Campbell B. Adolescent males' willingness to report masturbation.  J Sex Res. 2000;37(4):327-332.
  4. Bullough VL. Sexuality and Religion. In: Diamant L, McAnulty RD, eds. The Psychology of Sexual Orientation, Behavior, and Identity: A Handbook. Westport, CT: Greenwood Press; 1995.
  5. Levin RJ. Sexual activity, health and well-being: the beneficial roles of coitus and masturbation.  Sex Relationship Ther. 2007;22(1):135-148.