Ada suatu pernyataan yang menyatakan jikalau mata kita mengalami iritasi ringan, sebaiknya kita menggunakan obat tetes mata. Benarkah pernyataan tersebut? Apakah kita harus selalu memakai obat tetes mata ketika mata merah melanda? Tunggu dulu! Mata merah bisa berasal dari banyak sebab dan masing-masing faktor penyebab tersebut memiliki cara penyembuhan yang berbeda. Selain itu, kita juga perlu tahu bahwa setiap obat tetes mata memiliki kandungan zat-zat yang berbeda sehingga perlu sekali untuk membaca kandungan apa yang terdapat dalam obat tetes mata tersebut. Baiklah, saat ini kita akan membahas beberapa gangguan mata yang menyebabkan mata merah. 1. Perdarahan Subkonjungtiva Disebabkan oleh rupturnya pembuluh darah kecil yang menghubungkan jarak antara episklera dan konjungtiva. Mata terlihat merah karena darah masuk ke dalam jarak yang ada tersebut. Umumnya tanda terpenting dari gangguan ini adalah adanya gangguan perdarahan. Gangguan ini tidak mempengaruhi kemampuan visual, tidak ada nyeri, serta tidak memerlukan penanganan. Yang perlu dilakukan adalah evaluasi terhadap faktor yang berperan pada gangguan ini. 2. Blefaritis Disebabkan oleh peradangan pada bagian kelopak mata. Terlihat berminyak dan ada luka-luka yang membentuk bisul melekat pada bagian alis mata. Mata terlihat kemerah-merahan pada bagian sklera/bagian putih mata (sklera terlihat berwarna pink). Penanganan dilakukan dengan kompres air hangat, menjaga kelopak mata untuk tetap higienis, dan antibiotika topikal seperti eritromisin. Untuk mengatasi gejalanya dipakai NSAID (Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs). Jika blefaritis semakin parah atau terjadi blefaritis kronis diberikan antibiotika sistemik (biasanya tetrasiklin). 3. Konjungtivitis Disebabkan oleh pembuluh darah konjungtiva superfisial yang mengalami dilatasi sehingga terjadi hiperemia (kemerahan) dan edema pada konjungtiva. Ini merupakan gangguan yang paling sering menyebabkan kemerahan pada mata. Nyerinya terasa ringan dan ketajaman penglihatan hanya sedikit berkurang. Penyebabnya dapat berupa virus, bakteri, dan jamur. Gangguan ini dapat menyebabkan mata berair, terasa seperti ada benda asing dalam mata, dan fotofobia (silau). Biasanya penanganan dilakukan dengan pemberian antibiotika topikal okular spektrum luas, seperti sulfasetamid 10%, polymixin-bacitracin-neomycin, atau kombinasi dari trimetoprim-polimiksin. 4. Konjungtivitis Alergi Disebabkan oleh alergi pada bagian konjungtiva. Kondisi ini secara ekstrim sering terjadi dan sering tertukar diagnosisnya dengan konjungtivitis infeksius Penanganannya dilakukan dengan kompres dingin, vasokonstriksi topikal, antihistamin, dan mast-cell stabilizers seperti cromolyn sodium. Glukokortikoid topikal juga bisa digunakan, tetapi pada pemakaian jangka panjang dapat menyebabkan komplikasi seperti glaukoma, katarak, dan infeksi sekunder. NSAID topikal seperti ketorolac tromethamine adalah alternatif yang lebih baik dibandingkan glukokortikoid topikal. 5. Keratitis (Radang kornea) Disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: mata kering, pemakaian obat topikal, viral conjunctivitis, terpapar sinar ultraviolet, penggunaan contact lenses, blepharitis, dan abnormalitas kelopak mata. Paling sering adalah penggunaan lensa kontak dalam infeksi kornea. Penanganan paling baik adalah dengan antibiotika topikal. 6. Uveitis Anterior Disebabkan oleh peradangan sel di aqueous humor atau pengendapan di sepanjang endotel kornea. Biasanya dialami oleh orang muda atau pada usia pertengahan. Gejalanya adalah nyeri, fotofobia, dan pandangan yang kurang jelas. Gangguan ini dapat menyebabkan glaukoma, abnormalitas pupil, katarak, dan disfungsi makular. Penanganannya menggunakan glukokortikoid topikal. 7. Glaukoma Akut Sudut Tertutup Disebabkan oleh peningkatan dimensi anterior-posterior dari crystalline lens yang bisa mendorong iris di depannya. Pada gangguan ini didapati pupil tidak bereaksi dengan cahaya, iris terlihat kurang tajam, dan pandangan kabur karena adanya edema. Gejala klasik yang sering terlihat adalah adanya halo/cincin di sekitar cahaya. Gangguan ini jarang terjadi sehingga sering salah diagnosis. Penanganannya adalah dengan asetazolamid oral atau intravena, beta bloker topikal, prostaglandin, alfa-2-adrenergik agonis, dan pilokarpin untuk merangsang miosis. Jika gagal, dapat digunakan laser untuk membuat lubang di iris perifer. Semua gangguan mata di atas merupakan gangguan mata merah yang paling sering terjadi. Kita dapat melihat bahwa antara satu gangguan dengan gangguan mata lainnya memiliki cara penanganan yang berbeda-beda. Jadi, jika terjadi mata merah sebaiknya periksakan mata Anda terlebih dahulu kepada dokter mata. Jangan langsung memakai obat tetes mata tanpa petunjuk dokter ! Mata adalah organ penting dan jendela kehidupan. Jangan sia-siakan mata Anda dengan melakukan hal-hal fatal! Daftar Pustaka
  • Anthony S. Fauci, et al. 2005. Harrison's Principle of Internal Medicine 16st Edition. New York: McGraw-Hill Companies.
  • The Red Eye. 2000. Available from the URL: http://content.nejm.org/cgi/reprint/343/5/345.pdf.