ARV_treatment

Mengenal penyebab AIDS : Human Immunodeficiency Virus

AIDS merupakan penyakit yang terkenal berbahaya dan belum ditemukan obatnya. AIDS disebabkan oleh HIV (human immunodeficiency virus), sejenis retrovirus yang terus memperbanyak diri dalam tubuh penderita sejak awal infeksi.

Pada mulanya, respon imun penderita menahan jumlah virus hingga fase stabil. Namun pada rata-rata penderita, beberapa milyar partikel virus diproduksi setiap harinya hingga akhirnya jumlah limfosit CD4, sel darah putih yang melawan infeksi, terus menurun. CD4 merupakan pedoman yang sering dipakai untuk menentukan progresivitas penyakit dan juga pilihan terapi.

Saat jumlah CD4 kurang dari 200 sel per mm3 maka akan terjadi peningkatan risiko infeksi oportunis.1 Infeksi oportunis inilah sebagai penyebab terbanyak kematian pada penderita AIDS. Pada orang dengan sistem imun normal, infeksi tersebut hanya menyebabkan penyakit ringan atau perkembangan penyakitnya lebih lambat.

Terapi AIDS dengan obat golongan Antiretrovirus (ARV)

Antiretroviral-drugs-007

Terapi yang kini diberikan pada penderita bertujuan menekan perbanyakan (replikasi) virus sebanyak dan selama mungkin. Dengan obat yang ada saat ini, pemusnahan total HIV tidaklah mungkin karena terdapat banyak sel inaktif dalam tubuh yang menjadi tempat bersemayam DNA virus.1

Namun terapi AIDS berkembang dari sekedar hanya menunda kematian hingga adanya terapi jangka panjang terhadap HIV/AIDS yang memungkinkan penderitanya dapat bertahan hidup, melawan virus tersebut.

Beberapa jenis obat ARV yang saat ini digunakan adalah:

  1. Penghambat transkriptase pembalik nukleosida dan nukleotida (Nucleoside and Nucleotide Reverse Transcriptase Inhibitors). Transkriptase pembalik adalah sejenis enzim yang mengubah RNA virus menjadi DNA provirus yang dapat masuk ke kromosom sel tubuh penderita.1

Menghambat enzim tersebut berarti mencegah masuknya partikel virus ke dalam sel.                        Dengan begitu, obat ini tidak bisa berpengaruh apapun terhadap sel yang sudah terinfeksi.

Sayangnya, terapi ARV ini menimbulkan beberapa efek samping yang berat.2  karena penggunaan obat ini dalam jangka lama juga mengganngu enzim dalam sel tubuh penderita sehingga mengganggu proses normal dalam sel tersebut.

Contoh efek sampingnya adalah:

  • Anemia

  • Pankreatitis

  • Gangguan saraf tepi

  • Gangguan otot seperti lemah atau nyeri,

  • Disfungsi metabolik seperti obesitas abdomen

  • Hipertrigliseridemia

  • Tekanan darah tinggi

  • Gula darah tinggi.2

  • Gangguan hati adalah akibat paling fatal, namun jarang terjadi.1