Sistem imun berfungsi untuk mengidentifikasi benda asing seperti virus atau bakteri dan menyerangnya. Pada penyakit autoimun seperti lupus, sistem imun sebaliknya menyerang sel-sel normal dan jaringan dalam tubuh manusia. Penyebab lupus masih belum diketahui dan dipercaya merupakan kombinasi dari warisan genetik dan paparan terhadap lingkungan.

Adapun, perjalanan penyakit lupus tidak dapat diprediksi terhadap waktu. Pada awal perjalanan penyakit biasanya keluhan terletak pada jaringan sehat yang diserang autoimunitas, sedangkan pada fase lanjutan serangan berulang dapat mengakibatkan kerusakan ireversibel pada organ seperti jantung atau ginjal. Oleh karena itu penting untuk mengetahui beberapa hal supaya penderita dapat hidup nyaman,  produktif dan hal-hal  yang dapat mencegah progresifitas lupus.

Beberapa hal yang dapat membantu penderita lupus untuk memiliki kehidupan yang lebih baik, antara lain sebagai berikut:

  • Menghindari kelelahan dengan istirahat yang cukup dan hindari stress
  • Pelajari sebanyak mungkin tentang lupus karena penelitian menunjukkan pasien-pasien yang berperan aktif dalam pengobatan membutuhkan kunjungan ke dokter dan gejala yang minimal.
  • Dukungan dari keluarga, sahabat maupun menjadi anggota dari perkumpulan lupus lokal.
  • Bersikap pro aktif dalam manajemen stress. Aktivitas seperti meditasi dan yoga telah dipercaya sebagai aktivitas-aktivitas yang mampu menurunkan stres.
  • Olahraga yang teratur, makan yang cukup dan hindari merokok. Berhenti merokok pada penderita lupus telah dibuktikan dengan penelitian dapat mencegah komplikasi lupus pada sistem kardiovaskular, tulang dan otot.
  • Kurangi paparan terhadap sinar matahari. Penderita lupus seringkali sensitif terhadap cahaya matahari. Gunakan topi, kacamata hitam dan pakaian tertutup atau gunakan tabir surya dengan SPF (Sun Protection Factor) minimal 15 yang melindungi terhadap sinar UVA dan UVB.
  • Kunjungan dokter yang teratur untuk mendeteksi lebih dini berbagai komplikasi dari penyakit lupus maupun komplikasi dari pengobatannya. Penggunaan kortikosteroid sebagai agen imunosupresi selain mengurangi gejala, juga mengakibatkan kerentanan terhadap infeksi dan komplikasi lainnya seperti osteoporosis dan sebagainya; oleh karena itu perlu dimonitor dan dijaga agar berada pada dosis minimum.
  • Pasien hamil dengan lupus memiliki risiko keguguran sebesar 10% menurut statistik yang dikemukakan John Hopkins Arthritis Center. Hal ini menurut penelitian mungkin disebabkan oleh sindroma antibodi antifosfolipid. Oleh karena itu pada pasien hamil dengan lupus, dapat dilakukan skrinning terhadap antibodi antifosfolipid, dengan mengetahui adanya sindroma ini, dapat dilakukan penatalaksanaan berupa pemberian heparin atau aspirin. Tentunya dengan pengawasan dari dokter kebidanan dan kandungan.

 

Sumber