Angka kejadian tumor ganas payudara di Indonesia cukup tinggi, sedangkan angka kematiannya relatif tidak banyak berubah, walaupun telah banyak kemajuan yang dicapai dalam berbagai pengobatan. Untuk itu, diagnosis dini akan memegang peranan penting dalam menurunkan angka kematian akibat keganasan payudara. Untuk mengenal secara dini adanya keganasan payudara, selain pemeriksaan klinis yang teliti juga diperlukan pemeriksaan penunjang lainnya, seperti mamografi dan ultrasonografi. Pemeriksaan penunjang ini harus saling mengisi dan bukan bersaing, karena masing - masing memiliki kelebihan dan keterbatasannya.   Peranan Mamografi pada Keganasan Payudara Mamografi merupakan suatu jenis pencitraan yang menggunakan sinar X untuk memberikan gambaran payudara secara detail. Mamografi memegang peranan penting dalam deteksi dini kanker payudara. Infiltrating ductal carcinoma (Tumor ganas payudara) Ada 2 jenis pemeriksaan mamografi: skrining dan diagnostik. Mamografi skrining dilakukan pada wanita tanpa keluhan apapun. Mamografi skrining disarankan dilakukan setiap 1 - 2 taun untuk wanita berusia di atas 40 tahun, dan setiap tahun untuk wanita di atas usia 50 tahun. Tetapi pada wanita yang memiliki faktor risiko tinggi untuk terkena kanker payudara (misal. adanya riwayat kanker payudara dalam keluarga), maka dapat dilakukan mamografi skrining sebelum usia 40 tahun. Mamografi diagnostik dilakukan pada wanita yang memiliki gejala, misal ditemukan benjolan pada payudara, atau payudara mengeluarkan cairan berbau busuk, dll. Mamografi diagnostik bertujuan untuk menentukan ukuran dan lokasi kelainan secara tepat, bahkan juga keterlibatan kelenjar limfe dan jaringan sekitarnya. Apabila mamografi digunakan sendiri, memiliki angka ketepatan diagnostik sebesar 94%, dan apabila mamografi digunakan bersama Ultrasonografi (USG) dalam prosedur diagnostik memperoleh angka ketepatan diagnostik sebesar 97%. Sedangkan apabila USG digunakan sendiri hanya akan memberikan angka ketepatan diagnostik sebesar 78%.   Peranan Ultrasonografi pada Keganasan Payudara Pemeriksaan dengan Ultrasonografi (USG) sudah semakin populer dan berkembang dengan pesat. Karena dianggap ultrasonografi tidak menggunakan sinar pengion, sehingga tidak memiliki bahaya radiasi. Pemeriksaannya juga relatif mudah dikerjakan, bersifat non-infasif, cepat, dan biaya relatif murah.   Fibroadenoma mammae (tumor jinak payudara) Ultrasonografi memiliki resolusi kontras yang baik, sehingga dapat membedakan dengan sangat jelas, area yang berisi cairan (kista) dari jaringan payudara yang normal. Tetapi ultrasonogradi tidak memiliki resolusi spasial yang baik, sehingga tidak dapat memberikan gambaran yang detail seperti pada mamografi. Ultrasonografi juga tidak dapat membedakan adanya mikrokalsifikasi, yang merupakan salah satu tanda khas keganasan payudara. Karena hal tersebut, ultrsonografi baik digunakan pada payudara wanita muda yang padat dan memiliki sedikit lemak, tetapi sayangnya ultrasonografi tidak dapat digunakan sebagai alat skrining pada keganasan payudara. Tetapi ultrasonografi akan meningkatkan sensitifitas apabila digunakan bersama - sama dengan mamografi. Mencegah akan lebih baik daripada mengobati. Karena itu pemahaman yang benar mengenai sarana penunjang dan pemeriksaan yang tepat, diharapkan dapat meningkatkan taraf kesehatan masyarakat pada umumnya.   Sumber :