Suatu saat ada seorang ibu setengah baya yang datang ke praktik saya. Ketika ia masuk ke dalam ruangan praktik diantar oleh petugas di depan, refleks mengamati saya mulai aktif - Seorang dokter sudah harus mulai mengamati pasien sejak ia masuk untuk membantu menentukan diagnosis. Saya lihat ia sehat-sehat saja, berjalan dengan tegapnya, tidak pucat, tidak ada gangguan postur tubuh dan gaya berjalan. Ya kalau hanya dilihat dari luar, ia tampak sehat tanpa keluhan. Ketika saya menyapa dan memperkenalkan diri saya dengan senyum dan mempersilakannya duduk, saya pun menanyakan apa keluhannya. "Saya masuk angin dok." Nah lo. Kenapa kok tanggapan saya "Nah lo". Karena masuk angin bukanlah istilah kedokteran. Jadi? "Masuk angin" tidak ada dalam kamus kedokteran Ah, yang benar dok? Iya, benar. "Masuk angin" tidak ada dalam kamus kedokteran. Anda cari di buku teks manapun, buku penyakit dalam, daftar keluhan dan gejala, bahkan klasifikasi penyakit internasional (ICD), tidak ada "masuk angin". Tapi pastinya Anda pun bertanya-tanya. Itu teman-teman saya, tetangga saya, orang rumah saya, semua pernah masuk angin, dok. Ah moso, penyakit yang diderita banyak orang tidak ada dalam keilmiahan medis? Jawab saya, "Benar, serius. Tidak ada masuk angin dalam kedokteran." "Masuk angin" ini adalah istilah cakapan dalam bidang kesehatan khas Indonesia, terutama banyak dibicarakan pada masyarakat di Pulau Jawa. Jadi, ini hanyalah istilah cakapan sehari-hari saja. Jadi, masuk angin itu apa? Masuk angin kalau dijabarkan dari pengertian masyarakat Indonesia, adalah suatu keadaan dengan gejala merasa kedinginan, demam, perut kembung berisi angin, pegal-pegal, batuk, flu, buang angin terus menerus, perut terasa penuh. Jadi, tampak seperti sekumpulan gejala, walaupun kadang kala oleh masyarakat tidak semua gejala harus terpenuhi. Kadang-kadang dengan hanya satu gejala saja sudah disebut masuk angin oleh kita sehari-hari. Jika ingin dicari padanan yang beda-beda tipis dengan istilah baku, mungkin bisa menyerupai catching a cold, atau common cold. Walaupun sebenarnya tidak tepat-tepat juga, karena common cold itu jelas disebabkan oleh virus dan gejalanya seperti hidung berair, hidung mampat, dan bersin-bersin, walau dapat disertai sakit kepala, batuk, dan radang tenggorok. Namun tidak ada buang angin terus, dan perut mual pada common cold. Penyebab masuk angin? Masyarakat kita percaya bahwa masuk angin itu disebabkan masuknya angin (secara harafiah) ke dalam tubuh dari saluran cerna sehingga membuat gejala flu, gangguan saluran cerna, kedinginan. Teori ini tentunya tidak dapat diterima dalam kedokteran. Dalam kedokteran, penyebab penyakit dan alur penyakit itu harus jelas, apa penyebabnya dan lainnya. Angin yang masuk tidaklah dapat menjadi penyebab dalam menggambarkan perjalanan penyakit. Cuaca dingin?-Ini memang sering menjadi kambing hitam penyebab masuk angin. Masalah cuaca ini ada benarnya menyebabkan keluhan "masuk angin", namun sekali lagi bukan angin penyebabnya. Suhu dingin merupakan suhu yang sebenarnya kurang optimal bagi tubuh kita, oleh karena itu tubuh mengaktifkan sistem pengatur suhu tubuhnya untuk menyesuaikan suhu tubuh dengan sekitar. Jika sekitar dingin, maka tubuh akan menurunkan suhu tubuhnya dengan mekanisme tertentu termasuk penyempitan pembuluh darah. Nah, kita akan merasa kedinginan dan tentunya kurang nyaman. Selain itu, cuaca dingin juga dapat memicu batuk pilek. Tubuh lemah?-Apalagi konon, penyakit ini sering merasuki orang-orang bertubuh lemah, suka begadang, kurang tidur dan lainnya. Nah dalam sisi medis, memang bila orang yang kurang tidur, badan pasti tidak bugar, tidak fit. Hal ini disebabkan kurangnya istirahat tubuh, mengantuk, dan lainnya. Jadi, bukan karena masuk angin. Hempasan angin saat berkendara?-Selain itu ada yang menyebutkan masuk angin didapat dari terpaparnya badan dengan hempasan angin saat berkendara sepeda motor. Angin memang bisa saja masuk ke dalam saluran cerna (aerophagia), karena saluran cerna kita seperti tabung, apalagi ekstrimnya kalau kita berkendara motor dengan mulut terbuka. Angin akan masuk ke dalam saluran cerna. Angin ini bila ada di saluran cerna atas tentunya akan dikelurkan sebagai sendawa, atau pada bagian bawah menjadi buang angin. Namun perlu digarisbawahi bahwa, angin ini tidak menyebabkan rasa demam, batuk pilek dan lainnya. Penanganan masuk angin? Kalau saya tanya kepada Sobat DokterAnda sekalian mengenai apa penanganan bila "masuk angin" secara tradisional, pastinya ada 2 yang utama entah minum jamu-jamuan atau kerokan. Minum jamu-jamuan ini sebenarnya seperti pisau bermata dua. Pertama kita harus tahu keamanan jamu itu, jangan-jangan ada obat semacam anti radang yang memang ditambahkan agar jamu tersebut cespleng dan tokcer. Kedua, jamu-jamuan yang berisi jahe, dan rempah-rempah yang hangat memang bisa lebih menenangkan tubuh, menghangatkan tubuh yang dingin. Namun jamu ini bukanlah jamu untuk membuang "angin" ya. Jamu hanya bersifat menghangatkan tubuh dan membuat tubuh lebih nyaman. Kemudian yang tak kalah populer, kerokan. Kerokan ini juga khas Indonesia. Kulit badan digesek dengan koin berminyak sehingga membuat tubuh merah merona. Padahal ini cukup berbahaya karena bisa menyebabkan luka, karena pada dasarnya, gesekan ini adalah membuat luka lecet pada kulit. Lah, kenapa kalau saya kerokan merasanya lebih enak dok? Kerokan ini membuat kulit lecet dan menipiskannya serta membuat radang pada kulit sekitar sehingga membuat tubuh terasa lebih hangat. Walau demikian, kerokan tidak ada penganjurannya dalam standar kedokteran. Jika dalam kedokteran, maka penanganannya bersifat menurunkan gejala. Misalnya bila demam diberikan anti demam. Bila makan tidak teratur dan begadang diberikan suplemen vitamin. Namun hati-hati! Sobat DokterAnda pun harus hati-hati. Tidak boleh menyepelekan gejala "masuk angin". Ada penyakit serius yang mirip dengan "masuk angin". Misalnya adalah demam berdarah dengue (DBD) pada tahap prasakit atau predormal. Pada tahap ini pasien akan merasa lemas, sakit kepala beberapa hari. Sampai ia sakit di tahap awal, akan merasa lemas, demam, badan pegal-pegal, mual, muntah, dan lainnya. Jadi bila gejala "masuk angin" Anda bertambah buruk, mintalah pertolongan dokter. OK, Sobat. Demikian artikel hari ini. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan Anda ya. Salam Sehat!