Istilah sundowner’s syndrome mungkin terdengar asing di telinga para pembaca. Sesuai dengan namanya, sindrom ini memang berkaitan dengan matahari, tepatnya saat matahari terbenam (sunset). Bagi kebanyakan orang, matahari terbenam merupakan waktu yang menenangkan dan cocok untuk beristirahat. Namun, bagi orang yang berusia lanjut, khususnya yang mengidap penyakit Alzheimer atau demensia (penyakit pikun), terjadi fenomena peningkatan gejala kejiwaan seperti rasa cemas, marah, perilaku agresif dan hilang memori pada saat menjelang matahari terbenam, yang dikenal dengan sebutan sundowner’s syndrome. Menjelang malam, penderita akan mengalami kebingungan, disorientasi, hilang ingatan, gangguan konsentrasi bahkan marah-marah hingga dapat melempar barang, yang semakin parah jika dibandingkan dengan saat pagi atau siang hari. Gejala dari sindrom ini mendadak meningkat menjelang sore, matahari terbenam hingga malam hari, sehingga dapat dibedakan dengan penyakit kejiwaan lainnya. Studi menunjukkan bahwa sindrom ini paling banyak terjadi pada orang lanjut usia yang menderita demensia (penyakit pikun) yang dirawat di rumah sakit. Namun, dapat terjadi juga pada lanjut usia yang memiliki gangguan penglihatan, misalnya akibat degenerasi makula. Gejala lain dari sindrom ini adalah perubahan mood, sikap ingin dilayani yang berlebihan, rasa curiga terhadap sekitar dan halusinasi (seakan melihat atau mendengar sesuatu) yang terjadi menjelang matahari terbenam. Penyebab sindrom ini belum diketahui secara pasti. Ada beberapa teori yang dikemukakan untuk menjelaskan fenomena ini, yaitu
  1. Kurang terpapar cahaya. Pada orang lanjut usia yang dirawat di rumah sakit atau yang menderita gangguan penglihatan karena degenerasi makula, terjadi perubahan persepsi pada saat peralihan siang menjadi malam. Menjelang matahari terbenam, cahaya akan semakin redup dan bayangan pun bertambah, mengakibatkan gangguan persepsi pada pasien dan menyebabkan kebingungan dan rasa cemas yang berlebihan.
  2. Gangguan ritme sikardian. Ritme sikardian merupakan jam alami tubuh yang mengaur siklus proses biologis dalam tubuh selama 24 jam. Gangguan dapat disebabkan oleh gangguan tidur, perubahan pola tidur dan perubahan aktivitas. Pada orang berusia lanjut, terjadi perubahan dimana mereka tidur lebih awal dan bangun lebih cepat dengan durasi tidur yang lebih singkat. Mereka juga beraktivitas lebih pasif di siang hari dibandingkan dengan aktivitas di malam hari. Rendahnya produksi melatonin (hormon yang diproduksi pada malam hari dan saat tidur) juga dapat mengganggu ritme sikardian. Jika ritme sikardian terganggu, akan terjadi gangguan persepsi terhadap waktu siang - malam (waktu bangun dan tidur) .
  3. Faktor lingkungan. Studi menunjukkan pada pasien berusia lanjut yang dirawat di rumah sakit, rasa lelah yang berkepanjangan akibat stimulasi yang berlebihan di RS atau rasa bosan yang berkepanjangan akibat kurangnya stimulasi dan pergantian shift kerja tenaga kesehatan yang biasanya menimbulkan suasana yang sibuk dan ribut, merupakan faktor penting penyebab sindrom ini
  4. Kondisi kesehatan dan pengobatan. Penyakit yang menyebabkan rasa nyeri dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan gejala agitasi dan perubahan fungsi kognitif pada malah hari. Penyakit Alzheimer, demensia dan depresi major berkaitan erat dengan sindrom ini. Beberapa obat antipsikosis dapat menyebabkan efek samping seperti jantung berdebar, kekakuan otot, kebingungan, tidak merasa capai (restlessness), gangguan gerak, yang berkontribusi pada terjadinya sundowner’s syndrome.
Adapun cara-cara yang dilakukan untuk mengatasi sindrom sundowner’s adalah
  1. Terapi cahaya. Pada saat menjelang matahari terbenam, pencahayaan ruangan ditingkatkan dengan menggunakan cahaya spectrum penuh (full spectrum light, 10.000 lux) sehingga tidak ada bayangan dan perubahan warna.
  2. Membuat jadwal kegiatan sehari-hari yang rutin dan terstruktur. Rutinitas akan mengembalikan ritme sirkadian, mengurangi rasa bingung dan cemas akibat jadwal yang tidak teratur. Buatlah penderita mengikuti jadwal yang terstruktur dan terencana dimana penderita aktif di siang hari, sebisa mungkin hindari istirahat siang hingga menjelang matahari terbenam, adanya jadwal untuk latihan fisik, dan diusahakan adanya kegiatan di waktu-waktu gejala sundowning muncul.
  3. Mengurangi kebisingan di sekitar penderita. Sebisa mungkin, mengurangi kebisingan akibat TV, radio, orang bercakap-cakap, pengeras suara dan lainnya terutama ketika menjelang matahari terbenam. Untuk penderita yang dirawat di RS, batasi orang yang berkunjung saat menjelang malam.
  4. Terapi relaksasi. Membuat suasana yang menenangkan merupakan salah satu upaya mengatasi sundowner’s syndrome ini, contohnya dengan terapi musik (mendengarkan musik favorit, suara alam yang menenangkan seperti ombak laut, kicauan burung) dan aromatherapy.
  5. Terapi pengobatan, disesuaikan dengan keluhan yang dialami penderita. Terapi melatonin akan mengembalikan ritme sikardian, mengurangi aktivitas malam hari dan memperbaiki pola tidur. Obat antipsikosis juga digunakan untuk mengatasi gejala sundowner syndrome termasuk kecemasan, agitasi, perilaku agresif, terutama pada penderita Alzheimer atau penyakit pikun. Obat antipsikosis atipik dapat mengurangi agitasi dan memperbaiki pola tidur saat malam hari karena efek samping sedasinya. Terapi antidepresi dibutuhkan jika keadaan depresi ditemukan pada penderita. Mengatasi rasa nyeri, konstipasi dan rasa ketidaknyamanan lainnya dapat mengurangi gejala sindrom. Obat-obatan tersebut di atas harus diberikan dalam pengawasan dokter.
  6. Partisipasi aktif dari orang yang merawat penderita. Baik keluarga maupun tenaga kesehatan yang merawat penderita, harus menerima dan mengerti keadaan penderita. Diharapkan berbicara dengan nada yang halus dan tenang (jangan berteriak-teriak) kepada penderita dan saat berada di dekat penderita, dianjurkan sekedar memegang tangan dan memijat tangan penderita dengan lembut. Awasi apa yang ditonton dan didengar oleh penderita, karena aksi kekerasan atau kejahatan melalui media TV dapat menimbulkan rasa takut, cemas dan bingung. Dibutuhkan banyak kesabaran untuk mengarahkan, menenangkan dan mendistraksi penderita dari rasa takut, cemas dan kemarahan. Jika agitasi berkaitan dengan rasa lapar dan haus, menawari makanan dan minuman dapat mengurangi perilaku agresif yang terjadi.
Referensi:
  • Khachiyants N, Trinkle D, Son SJ, Kim KY. Sundown syndrome in persons with dementia : An update. Psychiatry investig 2011;8:275-287.