Dengan gambaran seperti koreng di kulit hingga perut yang membuncit karena hati dan limpa penderita membesar, penyakit yang dapat disembuhkan ini masih mengakibatkan kecacatan dan kematian di Afrika dan subkontinen India. Jadi, apakah Leishmaniasis itu? Leishmaniasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit protozoa jenis Leishmania. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan lalat pasir Phlebotomine betina yang sudah terinfeksi sebelumnya. Ada tiga bentuk utama penyakit ini, yaitu Leishmaniasis viseral atau penyakit kala-azar yang menyerang organ di rongga perut, Leishmaniasis kutaneus yang menyerang kulit, dan Leishmaniasis mukokutaneus yang menyerang selaput lendir hidung, mulut, dan tenggorokan. [caption id="attachment_24740" align="aligncenter" width="400"]Lalat pasir Lalat Pasir - Penyebar parasit Leishmania[/caption]

Sumber: CDC/Frank Collins - Leishmaniasis - MedicineNet

Afrika Timur dan daerah subkontinen India adalah wilayah endemis kala-azar. Diperkirakan terdapat 200.000-400.000 kasus baru ditemukan tiap tahunnya. Sedangkan daerah Timur Tengah, Asia Tengah, Brazil, serta Colombia menyumbang jumlah kasus Leishmaniasis kutaneus terbanyak. Selain Leishmaniasis kutaneus, wilayah Brazil—beserta Bolivia dan Peru—juga tercatat sebagai daerah dengan pasien Leishmniasis mukokutaneus terbanyak. Faktor yang mempengaruhi penyebaran penyakit ini diantaranya adalah kondisi sosioekonomi, malnutrisi, perpindahan penduduk, perubahan lingkungan, dan perubahan iklim. Parasit Leishmania ditularkan melalui gigitan lalat pasir betina. 7-10 hari setelah lalat pasir menggigit penderita Leishmaniasis, parasit yang ada pada lalat pasir dapat ditularkan ke orang yang digigit oleh lalat pasir tersebut. Setelah masuk ke dalam tubuh penderita, parasit ini menginfeksi sel darah putih dan mengalami inkubasi selama berminggu hingga berbulan-bulan sebelum menimbulkan gejala. Gejala Leishmaniasis kutaneus berupa luka dengan bentol kemerahan yang dapat berkembang menjadi koreng. Luka ini dapat sembuh spontan dalam waktu 2 hingga 12 bulan dan menyisakan bekas luka.  Pada orang dengan kekebalan tubuh yang buruk, gejala di kulit bisa menyebar diseluruh tubuh. Pasien yang sembuh dari gejala kulit atau mungkin belum pernah terkena Leishmaniasis sebelumnya dapat mengalami Leishmniasis mukokutaneus yang menyerang selaput lendir di mulut dan saluran napas yang mengakibatkan peradangan, luka, sumbatan, dan mutilasi di daerah tersebut. Leishmaniasis juga dapat menginfeksi organ dalam seperti hati, limpa, dan sumsum tulang. Gejala yang timbul adalah demam, penurunan berat badan, berkurangnya jumlah sel darah, diare, lemas, dan perut yan membuncit karena pembesaran hati dan limpa. Pasien yang sembuh dari penyakit kala-azar dapat mengalami ruam dan bentol pada wajah, lengan, dan bagian tubuh lainnya. Gejala ini disebut Post Kala-azar dermal Leishmaniasis (PKDL). Orang dengan PKDL merupakan sumber potensial infeksi kala-azar. Strategi yang dapat dilakukan untuk pencegahan dan mengontrol penyebaran Leishmaniasis diantaranya adalah:
  1. Dengan diagnosis dini serta penatalaksanaan kasus secara efektif sehingga angka kekambuhan penyakit serta angka kematian dan kecacatan dapat ditekan.
  2. Kontrol vektor penyakit tersebut, yaitu lalat pasir, terutama di daerah perumahan. Hal ini dapat dilakukan dengan: penyemprotan insektisida, penggunaan kelambu, penataan lingkungan, serta proteksi perorangan.
  3. Surveilans penyakit dengan deteksi kasus secara aktif, menjangkau komunitas dan menjaring kasus Leishmaniasis di masyarakat; dan dengan deteksi kasus secara pasif, yaitu melakukan pencatatan pasien di fasilitas kesehatan dan kemudian melaporkannya ke lembaga surveillans yang ada.
  4. mengontrol pejamu sementara, seperti hewan ternak. Tindakan ini disesuaikan dengan kondisi di daerah tersebut.
  5. Memperkuat kerjasama dengan berbagai lembaga dan program kendali penyakit di berbagai tingkatan.
Leishmaniasis sebenarnya dapat disembuhkan dengan pengobatan dini yang tepat dan tuntas. Namun, mobilisasi penduduk yang tinggi serta perubahan iklim dan lingkungan yang terjadi saat ini terus meningkatkan angka kejadian Leishmaniasis. Kendali dan pencegahan penyakit sangat penting untuk menanggulangi hal tersebut. Referensi:
  1. WHO. Leishmaniasis [Internet]. 2014 Jan [cited 2014 March 20]. Available from: WHO - Leishmaniasis
  2. WHO. Leishmaniasis diagnosis, detection, and surveillance. 2014 Jan [cited 2014 March 20]. Available from: WHO - Leishmaniasis diagnosis, detection and surveilance
  3. Stark CG. Leishmaniasis [Internet]. 2013 Aug 27 [cited 2014 March 20]. Available from: eMedicine - Leishmaniasis
  4. Nettleman MD, Davis CD. Leishmaniasis Pictures, Treatment, Symptoms, Life Cycle, Diagnosis, Prevention, and Prognosis - MedicineNet, [homepage on the Internet]. 2012 [cited 2014 Mar 21]. Available from: Leishmaniasis - MedicineNet