Anda  pasti pernah mendengar kata ‘ketombe’ atau mungkin anda sedang bermasalah dengan ketombe ini ? Apa sih ketombe itu ? Ketombe atau dandruff dalam istilah kedokterannya sering disebut dengan Pitiriasis sika. Pitiriasis sika ini adalah salah satu bentuk dari Dermatitis seroboroik. Dermatitis seroboroik sendiri merupakan kelainan kulit yang didasari oleh faktor keturunan. Penyebabnya belum diketahui dengan pasti. Faktor keturunan merupakan faktor pendukung/predisposisi. Karena keturunan, biasanya penyakit ini tidak menular. Banyak percobaan telah dilakukan untuk menghubungkan penyakit ini dengan infeksi bakteri Pityrosporum ovale yang merupakan bakteri normal yang terdapat pada kulit manusia. Namun belum terbukti bakteri ini penyebab dermatitis seroboroik. Dermatitis seroboroik berhubungan erat dengan keaktifan kelenjar lemak folikel rambut/kelenjar sebasea yang dipengaruhi hormon androgen. Kelenjar tersebut aktif pada bayi yang baru lahir, kemudian menjadi tidak aktif selama 9-12 tahun akibat stimulasi hormon androgen dari ibu berhenti. Jadi dermatitis seroboroik ini terjadi pada bayi di bulan-bulan pertama, jarang pada usia sebelum akil balik, dan mencapai puncaknya pada umur 18-40 tahun, kadang-kadang sampai usia tua. Meskipun demikian, tidak ada hubungan langsung secara kuantitatif antara keaktifan kelenjar tersebut dengan kemungkinan memperoleh ketombe. Dermatitis seroboroik ini juga dapat diakibatkan oleh proliferasi epidermis yang meningkat. Ketombe lebih banyak pada pria dibanding dengan wanita. Faktor-faktor lain yang dapat menjadi pencetus dermatitis seroboroik ini adalah adanya zat iritan, kosmetik, iklim, stres, makanan yang pedas, panas, dan alkohol. Gejala klinis ketombe mulai sebagai bercak kecil yang kemudian dapat mengenai seluruh kulit kepala dengan skuama-skuama yang halus dan kasar. Dapat berminyak dan agak kekuningan. Rambut pada tempat tersebut cenderung rontok. Bentuk yang berat ditandai dengan adanya bercak-bercak berskuama dan berminyak disertai nanah dan krusta tebal. Sering meluas ke dahi, telinga, dan leher. Orang-orang yang mempunyai faktor keturunan agak sukar disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Faktor pencetus, seperti stres emosional, kurang tidur dll, hendaknya dihindari. Terapi dapat dilakukan dengan menggunakan shampo yang mengandung bahan-bahan seperti ter, selenium sulfat, ketokonazol, atau pyrition. Misalnya dengan selenium sulfida, kepala dikeramas 2-3 kali seminggu selama 5-15 menit. Jika terdapat krusta dapat diberikan emolien, misalnya krim urea. Dapat juga dengan krim hidrokortison (kortikosteroid), krim ketokonazol, resorsin. Pada gejala berat dapat diberikan kortikosteroid oral dan isotretinoin. Pada gejala berat bisa berkonsultasi ke dokter umum atau lebih khusus ke dokter spesialis kulit dan kelamin. Daftar Pustaka Djuanda, Adhi dkk. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi IV. FKUI. Jakarta, 2005 Gandahusada, Srisasi, dkk. Parasitologi Kedokteran Edisi Ketiga. FKUI. Jakarta, 1998. Smith, Tony: Pertolongan Pertama Dokter di Rumah Anda. Obor, 2001 Wolff, Klaus, et al. Fitzpatrick’s Color Atlas & Synopsis of Clinical Dermatology. McGraw-Hill, 2007