Beberapa bulan ini Ani, seorang mahasiswi berusia 22 tahun, menjadi perhatian teman-temannya. Tanpa alasan apa-apa, ia menjadi sangat gembira, seperti tak pernah kehabisan energi. Ia tampak lebih bawel daripada biasanya dan sering menelepon teman-temannya di tengah malam. Ia juga seperti tidak pernah mengantuk dan merasa sangat fit. Terkadang Ani juga mudah marah, ia sangat sensitif terhadap pembicaraan yang berhubungan dengan dirinya. Setelah hal ini terjadi beberapa hari, tiba-tiba Ani menjadi pemurung, sering menangis tanpa sebab, tidak mau kuliah, dan hanya diam di kamar. Ia juga sering berpikir tentang hal-hal yang negatif. Pada saat itu, dia sering mengatakan ingin mati karena tidak ada gunanya lagi hidup. Ilustrasi di atas mungkin sering terjadi di sekitar kita, namun terkadang kurang diperhatikan. Kita menganggapnya sebagai hal yang wajar. Tentunya setiap orang pasti mengalami perasaan senang dan sedih dalam hidupnya. Namun jika suasana itu sangat berlebihan, kecurigaan adanya gangguan mood pada orang itu harus diwaspadai. Mengapa? Karena keadaan itu merujuk kepada suatu gangguan kejiwaan yang dalam ilmu kedokteran disebut sebagai manik-depresif. APA SIH MANIK-DEPRESIF ITU ? Manik-Depresif adalah suatu gangguan Bipolar, yakni gangguan suasana perasaan (mood) yang melibatkan dua perasaan yang bertolak belakang, yaitu manik (perasaan senang berlebihan) dan depresif (perasaan sedih berlebihan). Pada beberapa penderita, masing-masing suasana hati dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama, misalnya masing-masing satu sampai dua minggu sebelum berganti. Namun pada beberapa kasus lain, suasana hati tersebut bisa berubah dalam waktu sehari. Penyakit manik-depresif terjadi pada kurang dari 2% penduduk, menyerang pria dan wanita dalam perbandingan yang sama dan biasanya mulai timbul pada masa remaja, usia 20 atau 30 tahun. Penyakit ini diyakini sebagai penyakit keturunan, meskipun kelainan genetik yang pasti masih belum diketahui. BAGAIMANA GEJALA-GEJALANYA ? Penyakit manik-depresif biasanya diawali dengan depresi dan meliputi setidaknya 1 episode mania dalam perjalanan penyakitnya. Episode depresi dapat berlangsung selama 3-6 bulan. Pada bentuk penyakit yang paling berat (kelainan bipolar I), depresi diselingi oleh mania yang berat, sedangkan pada bentuk yang tidak terlalu berat (kelainan bipolar II), episode depresi terjadi singkat diselingi dengan hipomania. Satu dari tiga penderita kelainan bipolar mengalami gejala-gejala mania (atau hipomania) dan depresi secara bersamaan. Keadaan ini disebut status bipolar campuran. PENYAKIT SIKLOTIMIK Bentuk yang lebih ringan dari kelainan manik-depresif adalah penyakit siklotimik, dimana periode manik dan depresif tidak terlalu berat, berlangsung hanya beberapa hari dan bisa kambuh dalam selang waktu yang tidak beraturan. Pada akhirnya penyakit siklotimik akan berkembang menjadi penyakit manik-depresif, tetapi tidak pernah berkembang menjadi depresi ataupun mania saja. Penyakit siklotimik bisa menyebabkan penderitanya sukses dalam usaha, kepemimpinan, prestasi, dan kreativitas seni. Di sisi lain, penyakit ini bisa menyebabkan catatan pekerjaan dan sekolah yang ganjil, kegagalan dalam hubungan asmara maupun perkawinan serta penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan. BAGAIMANA CARANYA MENEGAKKAN DIAGNOSA ? Seperti yang telah disebutkan pada awal tulisan ini, gangguan bipolar mempunyai dua karakteristik mood yang muncul bergantian dalam bentuk episode-episode. Masing-masing karakteristik mood (baik manik ataupun depresif) haruslah memenuhi kriteria diagnosis. Beberapa karakteristik yang paling sering ditemukan pada gangguan mood depresif adalah:
  • kehilangan minat dan rasa senang pada hampir semua aktivitas sehari-hari
  • kehilangan berat badan tanpa diet atau penambahan berat badan (perubahan berat badan lebih dari 5 persen dalam sebulan)
  • meningkat atau berkurangnya nafsu makan hampir setiap hari
  • insomnia atau hipersomnia
  • malas melakukan sesuatu, mudah merasa lelah atau kehilangan energi hampir setiap hari
  • perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang tidak sesuai dan berlebihan
  • kehilangan kemampuan berpikir dan berkonsentrasi, atau kesulitan membuat pilihan hampir sepanjang hari
  • pemikiran yang terus-menerus tentang kematian (bukan hanya ketakutan akan mati)
  • munculnya ide bunuh diri yang berulang kali tanpa rencana yang spesifik atau percobaan bunuh diri, atau rencana yang spesifik untuk melakukan bunuh diri.
Secara klinis, diagnosis gangguan mood depresif dipenuhi bila pasien telah mengalami gejala-gejala seperti di atas sekurang-kurangnya dua minggu. Sedangkan untuk gangguan mood tipe manik, karakteristik yang sering kali ditemukan adalah :
  • mood yang meningkat (euforia), sering kali bersifat meluas dan abnormal yang berlangsung paling sedikit satu minggu
  • kurangnya kebutuhan untuk tidur
  • pikiran yang "berlari" (racing thought) ditandai dengan pembicaraan yang cepat dan banyak penekanan, serta peningkatan aktivitas
  • peningkatan libido yang mengarah ke kegiatan seksual yang tidak bertanggung jawab
  • perilaku yang ceroboh dan penuh risiko, diikuti dengan waham kebesaran.
Waham yang terdapat pada pasien manik biasanya berhubungan dengan harga diri yang membumbung dengan dasar narsistik, seperti kepercayaan mempunyai kekuatan yang istimewa atau dicintai banyak orang, atau terpilih sebagai pemimpin dunia/semesta. Tidak mengherankan pada beberapa pasien gangguan bipolar dengan adanya waham (ciri psikotik), sering terjadi salah diagnosis karena diduga sebagai skizofrenia. Pada beberapa pasien, peningkatan mood dapat berubah menjadi disforia (mood yang tidak menyenangkan). Selama itu pula kemarahan dan perilaku yang agresif dapat terjadi. BAGAIMANA CARA MENGOBATINYA ? Sebenarnya, episode mania atau hipomania pada penyakit manik-depresif dapat diobati dengan cara yang sama pada mania akut. Begitu pula dengan episode depresi. Namun sebagian besar obat anti-depresi bisa menyebabkan perubahan depresi menjadi hipomania atau mania dan kadang menyebabkan siklus yang cepat, sehingga lebih baik memberikan obat yang bisa menstabilkan suasana hati (mood stabilizer), seperti litium atau obat anti-kejang. Litium tidak memiliki efek terhadap suasana hati yang normal, tetapi mengurangi kecenderungan perubahan suasana hati pada 70% penderita penyakit manik-depresif. Efek samping dari litium adalah tremor, kedutan otot, mual, muntah, diare, kehausan, berkemih berlebihan, dan penambahan berat badan. Litium bisa memperburuk jerawat atau psoriasis, menyebabkan kadar hormon tiroid dalam darah menurun dan kadang menyebabkan penderita sering berkemih. Kadar litium dalam darah yang sangat tinggi bisa menyebabkan sakit kepala, linglung, ngantuk, kejang dan gangguan irama jantung. Efek samping ini lebih sering terjadi pada penderita usia lanjut. Wanita yang merencanakan hamil, sebaiknya berhenti mengkonsumsi litium, karena bisa menyebabkan kelainan jantung pada janin. Selain litium, karbamazepin dan divalproeks (obat anti kejang) juga dapat digunakan. Karbamazepin bisa menyebabkan berkurangnya jumlah eritrosit dan leukosit, sedangkan divalproeks bisa menyebabkan kerusakan hati (terutama pada anak-anak). Kedua obat ini terutama efektif diberikan kepada penderita penyakit manik-depresif tipe campuran atau yang siklusnya berganti dengan cepat, yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan lainnya. Selain tatalaksana dengan obat, psikoterapi juga diperlukan. Psikoterapi bisa dilakukan secara individu maupun dalam suatu kelompok. Terapi kelompok membantu penderita dan pasangannya atau keluarganya agar dapat lebih mengerti tentang keadaan individu yang mengalami gangguan ini. Peran keluarga dari individu yang mengalami gangguan bipolar amatlah penting, karena pada saat mengalami gangguan, individu akan sangat sulit meminta pertolongan. Di sinilah letak peran keluarga dalam membawa individu untuk mendapatkan pertolongan yang tepat dan segera, yang akhirnya dapat menghasilkan suatu harapan hidup ke depan yang lebih baik. BAGAIMANA PROGNOSIS PENYAKIT INI ? Hampir pada semua kasus, penyakit manik-depresif ini mengalami kekambuhan. Episodenya kadang berubah dari depresi menjadi mania atau sebaliknya, tanpa periode suasana hati yang normal diantaranya. Tentunya keberulangan episode dari masing-masing gangguan mood merupakan masalah yang harus mendapatkan perhatian lebih, karena lebih sulit untuk mengobati penderita yang sering mengalami kekambuhan. Suatu penelitian selama empat tahun di Amerika memaparkan beberapa hal yang berhubungan memperburuk prognosis pada pasien gangguan bipolar, antara lain: status pekerjaan yang buruk, ketergantungan pada alkohol, adanya gambaran psikotik (seperti waham atau halusinasi), penampakan mood depresif yang lebih sering daripada manik dalam satu episode gangguan bipolar, dan jenis kelamin laki-laki. Tentunya penanganan yang tepat dan segera akan memberikan hasil yang lebih optimal. Saat ini, yang diperlukan adalah kepedulian yang lebih besar lagi terhadap individu yang menderita gangguan ini, sehingga mereka dapat segera mendapatkan pertolongan. Sumber : http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?id=&iddtl=263&idktg=5&idobat=&UID=20070716200033222.124.79.64