Mungkin kisah cinta yang bersemi antara Nia dan Rizki sudah habis masanya. Dulu mereka saling bertukar puja-puji cinta, kini mereka tak lagi mesra. Apa pasal? Rizki yang badannya berisi dan bidang, tipe idaman Nia tentunya, kini tak lagi bersikap baik. Rizki kerap kali menanyakan Nia, sedang apa, di mana, dengan siapa. Jika telat dijawab, Rizki begitu mudah memarahi dan akhirnya dapat “main tangan” (baca: melakukan kekerasan) ketika bertemu. Nia yang sehari-hari ceria, kini hanya dapat bermuram durja. Kekerasan dalam Berpacaran, Apakah Itu? Apa yang dialami oleh Nia dan Riski dapat kita sebut sebagai pacaran yang tidak sehat. Telah terjadi kekerasan di dalamnya atau dalam bahasa Inggris disebut abusive relationship. Kekerasan dalam berpacaran ini tidak hanya berkaitan dengan kekerasan fisik, namun juga bisa menyentuh sisi emosional dan seksual. Kekerasan fisik mungkin sudah jelas, yaitu kekerasan dalam bentuk  memukul, menampar, menjambak, dan lainnya yang dapat menyakiti secara jasmaniah. Kedua, kekerasan emosional adalah jenis kekerasan seperti memaki, sumpah-serapah, menganiaya secara verbal, mengejek atau mengolok-olok., mengintimidasi, dan mengkhianati. Kekerasan seksual adalah kekerasan yang berhubungan dengan masalah seksual seperti memerkosa. Kekerasan-kekerasan di atas memang seringkali terjadi pada remaja. Remaja memiliki suasana emosi yang tidak stabil yang tengah beranjak dari masa kanak-kanak ke tingkatan dewasa. Mereka pun amat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya, sehingga tindak-tanduk mereka jika tidak diarahkan dapat merugikan orang lain, seperti pada saat berpacaran. Remaja juga merupakan saat-saat di mana mereka menunjukkan kemampuannya seperti kekuatan, sikap agresif, dan sikap dalam mengendalikan orang lain. Siapa Saja yang Dapat Melakukannya? Apakah benar hanya remaja laki-laki saja? Tidak, kekerasan dalam berpacaran juga bisa dilakukan oleh perempuan. Intinya, kekerasan dapat dilakukan oleh siapa saja, kepada siapa saja, dan kapan saja. Data dari CDC di Amerika Serikat, 9% dari remaja di sana mengalami kekerasan fisik saat berpacaran. Namun menurut Elizabeth Miller dari Universitas Pittsburgh, kekerasan emosional justru diperkirakan lebih dari itu. Kapan Saya Harus Waspada? Sebagai remaja, kamu harus tetap waspada kepada semua orang termasuk dengan orang yang kamu anggap sebagai pacar. Kamu harus berhati-hati bila ia menunjukkan tanda perilaku yang merupakan tanda berpacaran tidak sehat:
  • Selalu cemburu dan marah ketika pasangannya menghabiskan waktu di luar dengan dirinya (misalnya dengan teman-teman)
  • Selalu ingin tahu tentang apa saja yang terjadi setiap saat, misalnya lokasi, orang di sekitar, tujuan, dan lainnya
  • Tindakannya membuat diri pasangannya merasa tersakiti dan teraniaya secara rohaniah
  • Mengancam akan menganiaya dirinya atau pasangannya bila memutuskan hubungan
  • Sering menyalahkan pasangannya
  • Melakukan tindakan kekerasan fisik
  • Melakukan tindakan kekerasan seksual dan dengan paksa. Bahkan dengan rayu-rayuan, “Jika kamu mencintai saya, maukah kamu melakukan .....”
Orang yang menjadi korban tindak kekerasan akan menunjukkan keadaan seperti bekas atau jejas luka atau perubahan sikap emosional seperti menarik diri dari pergaulan, sering mabuk-mabukan, dan lainnya. Bagaimana Harus Bertindak? Seseorang yang mengalami tindak kekerasan maka harus dilakukan beberapa hal berikut:
  • Jika anak masih di bawah umur atau di bawah pengawasan, laporkan kepada orang tua dan walinya agar masalahnya diketahui oleh mereka.
  • Jika ada tanda kekerasan fisik, periksakan dirinya ke dokter untuk ditangani lebih lanjut
  • Jika ada tanda kekerasan dan tindak pidana, laporkan kepada pihak kepolisian agar dapat diproses secara hukum
  • Jika ada tanda gangguan mental, periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan dengan pendekatan psikososial.
  • Berikan perhatian kepada korban, dengan memberikan kasih sayang, kesabaran, dan pemahaman. Dukungan ini diberikan oleh keluarga, sahabat, teman, dan kerabatnya.
Mengapa Harus Ditindak? Para remaja yang merupakan korban atau pelaku kekerasan dapat mengalami masalah perkembangan di kemudian hari. Bahkan data dari CDC juga mengatakan mereka yang mengalami kekerasan berpacaran memiliki konsekuensi jangka panjang seperti adiksi alkohol, masalah gangguan makan, tindakan bunuh diri, dan kembali melakukan kekerasan kepada orang lain. Tapi, dok... Saya Cinta Mati Dengan Dia? Ada pepatah yang mengatakan, “Love is respect” yang berarti rasa cinta itu ditunjukkan dengan rasa saling menghormati. Jika orang yang kamu “cintai” itu menganiaya kamu, kamu harus berpikir ulang tentang hubungan kalian. Referensi
  • Marcell AV. Adolescence dalam Kliegman et al. Nelson Textbook of Pediatrics. 18ed.  2007. Saunders.
  • Metcalf E. Are You in an Abusive Relationship at WebMD.
  • Lyness DA. Abusive Relationship at TennsHealth.