Tahukah anda bahwa depresi akan menjadi penyebab angka kesakitan tertinggi nomor dua pada tahun 2020 setelah penyakit kardiovaskular? Depresi merupakan salah satu dari sekian banyak penyakit jiwa yang kurang mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat banyak.  Hal ini dikarenakan banyak orang malu atau enggan mengakui menderita depresi karena dianggap sebagai penyakit jiwa. Padahal penyakit ini dapat menjadi penyebab disabilitas, meningkatkan morbiditas, mortalitas dan risiko bunuhdiri, serta bisa berdampak akan menurunnya kualitas hidup pasien dan seluruh keluarganya. Depresi biasanya terjadi saat stress yang dialami seseorang tidak kunjung reda, atau dapat pula berkorelasi dengan kejadian dramatis yang baru terjadi atau menimpa seseorang. Angka penderita depresi di dunia cukup tinggi. Berdasarkan WHO, pada tahun 2010 diperkirakan sekitar 350 juta pernah mengalalami penyakit ini. Sedangkan di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2007 angka rata-rata nasional gangguan mental emosional (cemas dan depresi) pada penduduk usia 15 tahun adalah 11,6% atau sekitar 19 juta penduduk. Wanita lebih beresiko menderita depresi dua kali daripada pria. Selain itu, penyakit ini dapat menetap seumur hidup pada 1,5- 12 % kasus dan bersifat kronis. Depresi adalah suatu gangguan keadaan tonus perasaan yang secara umum ditandai oleh rasa kesedihan, apatis, pesimisme, dan kesepian. Keadaan ini sering disebutkan dengan istilah kesedihan (sadness), murung (blue), dan kesengsaraan. Manifestasi klinis dapat berbeda pada masing-masing individu namun saling berkaitan seperti perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, gangguan psikomotor, gangguan konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya serta gejala terberat adalah adanya gagasan untuk bunuh diri. Gejala depresi menggunakan penilaian  Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-IV). Dikatakan gangguan depresi berat bila sedikitnya ada lima gejala selama periode dua minggu pengamatan yang disertai perubahan fungsi berupa:
  1. Perasaan tertekan atau depresi sepanjang hari bahkan hampir setiap hari
  2. Pikiran akan kematian yang berulang (recurrent) atau usaha bunuh diri
  3. Hilangnya minat atau kesenangan pada hampir semua aktivitas
  4. Berkurangnya berat badan secara signifikan, atau bertambahnya berat badan dengan penurunan atau kenaikan nafsu makan hampir setiap hari
  5. Insomnia atau hipersomnia tiap hari;
  6. Retardasi psikomotor atau agitasi;
  7. Kelelahan atau kehilangan tenaga setiap hari;
  8. Rasa tidak berdaya atau rasa bersalah yang tidak wajar;
  9. Tidak mampu berfikir atau berkonsentrasi, dengan daya ingat menurun
Gejala tersebut harus menimbulkan gangguan sosial atau akademik dan bukan efek langsung alkohol atau kondisi medis umum, misalnya hipotiroidisme. Diagnosis depresi berat tidak dapat ditegakkan dalam 2 bulan setelah kehilangan seseorang yang dicintai, kecuali jika ditemukan gangguan fungsional yang nyata, rasa tidak berharga, ingin bunuh diri, gejala psikotik, atau retardasi prikomotor. Terdapat berbagai macam tipe depresi, klasifikasi gangguan depresi sangat bervariasi salah satunya yang dikeluarkan oleh DSM-IV yaitu : 1. Gangguan depresi mayor ­ unipolar dan bipolar. 2. Gangguan mood spesifik lainnya: - Gangguan distimik ­ depresi minor. - Gangguan siklotimik ­ depresi dan hipomanik saat ini atau baru saja berlalu (secara terus menerus selama 2 tahun). - Ganguan depresi atipik - Depresi postpartum - Depresi menurut musim 3. Gangguan depresi akibat kondisi medik umum dan gangguan depresi akibat zat 4. Gangguan penyesuaian dengan mood depresi; depresi disebabkan oleh stresor    psikososial. Penyebab gangguan depresi tidak diketahui dengan pasti. Hipotesis beberapa faktor penyebab depresi antara lain; faktor gangguan biologik (termasuk faktor genetik) dan faktor psikososial. Beberapa penelitian menyatakan bahwa gangguan alam perasaan (mood) baik tipe bipolar (adanya episode manik dan depresi) dan tipe unipolar (hanya depresi saja) memiliki kecenderungan menurun kepada generasinya, hal ini tergantung berdasarkan etiologi biologik. Peristiwa traumatik kehidupan dan lingkungan sosial dengan suasana yang menegangkan dapat menjadi penyebab gangguan depresi. Sejumlah data yang kuat menunjukkan kehilangan orangtua sebelum usia 11 tahun dan kehilangan pasangan hidup, serta hubungan antar pasangan yang tidak harmonis dapat memacu serangan awal gangguan depresi. Sangat penting untuk mencari bantuan dari dokter jika memiliki gejala dari gangguan depresi, terlebih jika sudah mempengaruhi aktifitas fisik sehari-hari. Gejala dari depresi dapat beragam seperti yang sudah dijelaskan di atas, penyakit ini tidak dapat sembuh dengan sedirinya. Gangguan depresi yang tidak diobati dapat menjadi semakin berat dan mengarah kepada gagasan untuk melakukan tindakan bunuh diri. Banyak orang menunggu lama sebelum mencari bantuan untuk depresi, tapi sebaiknya tidak menunda. Psikoterapi adalah pilihan utama dalam pengobatan depresi. Selain itu pengobatan dengan psikofarmako dengan mengutamakan antidepresan, terutama yang mengandung agen serotonergik seperti sertraline memberikan respon yang cukup bagus dengan pemberian obat psikostimulan dalam dosis kecil seperti amfetamin kombinasi kedua hal tersebut memberikan hasil yang cukup baik. Pengobatan lainnya adalah dengan ECT, prosedur ini digunakan pada depresi berat, terutama pada penderita psikotik, mengancam melakukan bunuh diri dan penderita yang tidak mau makan. Selain obat-obat di atas, terdapat jenis obat-obatan lain yang juga bisa digunakan seperti; Anti depresi Trisiklik, Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs)n dan Psikostimulan. Meskipun tersedia berbagai jenis pengobatan, namun dukungan keluarga dan orang-orang terdekat sangat berperan penting terhadap penyembuhan dan penanganan gangguan depresi. Secara umum suatu episode depresi dapat sembuh dalam tiga bulan dengan pengobatan, namun dapat sampai satu tahun. Selain itu, sebanyak 20-35% dari episode depresi dapat berulang kembali dan dapat mengganggu fungsi sosial individu. Apakah anda memiliki gejala depresi? Ada baiknya anda mencoba beberapa pertanyaan di bawah ini. Daftar pertanyaan ini tidak secara langsung memberikan diagnosis depresi, namun dapat mengarahkan anda akan gejala-gejala depresi. Tak perlu menunggu lama untuk berkonsultasi ke psikiater bila Anda mengalami gejala-gejala ini. -          Selama beberapa bulan terakhir, apakah mengalami perasaan tidak ada harapan? -          Selama beberapa bulan terakhir, apakah mengalami penurunan minat atau tidak semangat akan melakukan sesuatu? -          Apakah mengalami penurunan konsentrasi akhir-akhir ini? -          Apakah terlintas di benak anda akan bunuh diri? Daftar Pustaka
  1. Sadock, B.J. and Sadock, V.A. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry: Behavioral Science/Clinical Psychiatry. 10th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2007.
  2. Riset Kesehatan Dasar. 2007. Jakarta: Badan Penelitian dan  Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan, Republik Indonesia.