Penghapusan Tato

Di Amerika, sekitar 17% pemilik tato pada tubuhnya menginginkan penghapusan tato tersebut. Ada juga yang ingin membuat tato baru untuk menutup atau mengubah tato lama yang tidak disukai ataupun yang mulai pudar. Penghapusan tato sering dilakukan oleh orang yang membuat tatonya di usia terlalu muda sehingga ketika dewasa ingin mengubahnya untuk meningkatkan harga diri ataupun karena alasan-alasan sosial lainnya. [caption id="attachment_17242" align="alignleft" width="240"] Dermabrasi Tato[/caption] Terdapat berbagai metode penghapusan tato, seperti: bedah eksisi dan skin-graft (tandur kulit), dermabrasi mekanis, ekstrasi tinta dengan bahan kimia, dan yang paling sering dilakukan saat ini adalah dengan menggunakan quality-switched (Q-switched) laser. Namun sebagian besar usaha menghilangkan tato hanya efektif sebagian dan dapat meninggalkan bekas luka atau perubahan warna kulit. Q-switched laser menggunakan getaran sangat pendek (nanodetik) berenergi tinggi. Saat dibuat, tinta tato masuk ke fibroblas di lapisan dermis sehingga akan menetap secara permanen di lapisan tersebut. Energi laser yang panas secara fotoakustik memecah partikel pigmen dan membunuh sel tempat pigmen tersebut berada. Pecahnya sel berisi pigmen ini memicu fagositosis (dimakannya benda asing oleh sel pertahanan tubuh) olah makrofag yang kini menganggap partikel tersebut sebagai benda asing. Selanjutnya fragmen tato dibuang ke saluran limfatik. Sebagian partikel dapat juga terdorong ke lapisan epidermis, yakni lapisan kulit yang terletak lebih luar dari dermis. Beberapa partikel pigmen yang pecah tersebut dapat bersifat alergenik (menimbulkan alergi) ataupun karsinogenik (menimbulkan keganasan). Tato yang lebih lama dan terletak lebih dekat dengan batang tubuh cenderung lebih mudah dihapus daripada yang lebih baru dan lebih jauh. Selain itu, tato berwarna terang memerlukan terapi laser yang lebih banyak dan tato pada orang berkulit gelap juga lebih sulit dihapus. Efek samping penghapusan tato menggunakan laser di antaranya adalah adanya bekas luka, hipopigmentasi, hiperpigmentasi, sisa tato, infeksi, perdarahan, serta semakin gelapnya warna tinta tato. Efek yang terakhir dilaporkan terjadi pada tato berwarna merah dan putih namun mekanisme terjadinya masih belum pasti. Hipopigmentasi terjadi karena penyerapan melanin akibat penggunaan panjang gelombang pendek pada laser. Sedangkan hiperpigmentasi lebih sering terjadi pada orang berkulit gelap, berapa pun panjang gelombang yang digunakan. Reaksi alergi sistemik disebabkan oleh partikel yang alergenik. Getaran pendek berenergi tinggi dapat menyebabkan gelombang tekanan yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah serta membentuk aerosol dari jaringan dengan partikel yang infeksius di dalamnya. Hal inilah yang menimbulkan perdarahan serta terjadinya infeksi kulit.   Referensi :  
  1. Brancaccio R.R., Brown L.H., Chang Y.T., Fogelman J.P., Mafong E.A., Cohen D.E. (2002). Identification and Quantification of para-Phenylenediamine in a Temporary Black Henna Tattoo. Elsevier Science. Diunduh pada tanggal 9 Agustus 2012.
  2. Kilmer S.L., Fitzpatrick R.E., Goldman M.P. (2011 November). Tattoo Lasers. Diambil dari emedicine.medscape.com.
  3. Longo D.L., Kasper D.L., Jameson J.L., Fauci A.S., Hauser S.L., Loscalzo J. (2012). Harrison’s Principles of Internal Medicine. 18th ed. McGraw-Hill.
  4. Marcoux D., Couture-Trudel P., Riboulet-Delmas G., Sasseville D. (2002 November). Sensitization to Para-Phenylenediamine from a Streetside Temporary Tattoo. Pediatric Dermatology, vol. 19, no. 6, hlm 498-502.
  5. Mariwalla K., Dover J.S. (2006). The Use of Lasers for Decorative Tattoo Removal. Advances in Dermatologic Surgery. Diambil dari http://www.skintherapyletter.com/2006/11.5/2.html
  6. Wolff K., Goldsmith L.A., Katz S.I., Gilchrest B.A., Paller A.S., Leffell D.J. (2008). Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 7th ed. McGraw-Hill.