Komplikasi Tato Permanen

Komplikasi medis akibat pembuatan tato sudah jarang ditemukan di negara maju. Pada negara berkembang, komplikasi infeksi bakteri yang sering ditemukan adalah: impetigo (vesikel berkrusta kuning-cokelat), eksim, furunkulosis (seperti bisul-bisul berisi nanah), erisipelas (infeksi kulit karena streptokokus), TBC kulit, sifilis, lepra, endokarditis (jarang). Sedangkan infeksi karena virus mencakup: kutil, herpes, cacar, rubela (campak jerman), hepatitis virus. Sedangkan penularan HIV melalui jarum tato dianggap mungkin, namun belum pernah ada laporan kasusnya. Berbagai penelitian menunjukkan kontroversi hubungan hepatitis B dan C dengan penyebarannya melalui pembuatan tato. Ada beberapa wabah hepatitis B yang dikaitkan dengan tempat pembuatan tato, namun terdapat juga penelitian yang menunjukkan hubungan terbalik antara jumlah pembuatan tato yang meningkat dengan angka kasus hepatitis B dan C akut yang menurun. Selain itu, sebagian besar kasus hepatitis C memang tidak diketahui sumbernya. Terdapat berbagai faktor yang memengaruhi penelitian mengenai hal ini, seperti tempat pembuatan tato serta gaya hidup pemilik tato itu sendiri. Sebagian besar reaksi tubuh terhadap pigmen tato adalah munculnya area berwarna merah pada sekitar tato. Zat yang sering menyebabkan reaksi ini adalah merkuri, kadmium selenida, dan quinakridon. Reaksi lainnya hipersensitivitas terhadap cahaya. Sedangkan tato eyeliner biasanya mengandung bahan feromagnetik yang dapat mengiritasi mata. Tato ini, juga tato lainnya yang menggunakan pigmen yang mengandung zat feromagnetik menyebabkan pemiliknya sebaiknya tidak  menjalani pemeriksaan dengan MRI. Alat MRI bersifat menarik logam sehingga dapat menyebabkan pergeseran zat feromagnetik tersebut yang tentu saja berisiko melukai pasien.  

Tato Temporer

Pembuatan tato tradisional dengan menggunakan henna, yang umum dilakukan di Afrika, Timur Tengah, dan India (mehndi) sejak ribuan tahun lalu, jarang menyebabkan reaksi hipersensitivitas. Henna dibuat dari daun tanaman Lawsonia inermis yang berwarna coklat kemerahan. Yang kini marak dilakukan adalah pembuatan tato temporer dengan ‘henna hitam’, suatu zat yang mengandung para-phenylenediamine (yang membuat warna gelap pada tinta tato) dengan kadar hingga 16%, yakni kadar yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kadarnya dalam pewarna rambut.  

Komplikasi Tato Temporer

Para-phenylenediamine sering menyebabkan sensitisasi dan dermatitis kontak alergi (DKA). DKA merupakan bentuk reaksi alergi tipe lambat yang menimbulkan eritema (kemerahan pada kulit), edema (bengkak), dan vesikel. Terjadinya DKA setelah pembuatan tato temporer meningkat frekuensinya karena semakin populernya jenis tato ini. Efek jangka panjangnya adalah hiperpigmentasi atau warna kehitaman pada kulit yang sulit atau memerlukan waktu lama untuk hilang.