Tato merupakan seni yang sudah ada sejak Zaman Batu (12.000 SM) dan masih populer hingga kini di berbagai kultur dan di semua benua. Tato terkadang masih diasosiasikan dengan kriminalitas dan tingkat pendidikan serta sosioekonomi yang rendah, namun tato juga memiliki kaitan erat dengan beberapa kebudayaan, keanggotaan militer, serta agama tertentu.
Mari kenali lebih mendalam mengenai tato dan apa efeknya bagi tubuh.  

Tato Permanen

Tato dibuat dengan menggunakan alat yang dipasangi jarum tunggal atau beberapa jarum di ujungnya dan dapat bergerak naik turun dengan kecepatan 50-3.000 kali per menit. Jarum dicelup ke tinta berwarna kemudian digerakkan sesuai pola yang diinginkan pada kulit, masuk dengan kedalaman 0.5-2 mm, menempatkan pigmen warna pada lapisan dermis. Gel petroleum dioleskan sebelum dan setelah prosedur untuk meminimalisasi keluarnya darah dan mencegah tinta melebar. Setelah selesai, daerah yang ditato dibersihkan dengan alkohol dan air. Tinta yang digunakan bervariasi, bergantung pada artis pembuatnya. Pigmen dari pembuat tato amatir biasanya hitam dan berbahan dasar karbon, seringkali berasal dari tinta India, batu bara, arang, atau maskara. Sedangkan pada tinta yang menggunakan pigmen dari industri organik pernah diidentifikasikan keberadaan aluminium, kalsium, tembaga, besi, fosfor, silika, sulfur, dan lain-lain. Saat ini penggunaan timah dan merkuri sebagai kandungan tato telah dilarang. Hampir semua gabungan pigmen dengan sel dalam dermis terlalu besar untuk melewati dinding pembuluh darah sehingga pigmen akan menetap pada tempat awalnya. Namun seiring berjalannya waktu, tato dapat tampak lebih tidak jelas bentuknya, lebih biru, dan berkurang ketajaman warnanya karena terjadi pergerakkan partikel tinta ke lapisan kulit yang lebih dalam. Terkadang  juga terdapat penumpukan pigmen dalam kelenjar limfe (getah bening).