Sebuah artikel terbaru dari Jurnal Kedokteran SLEEP edisi Mei 2010, mengungkapkan hubungan antara jumlah tidur yang kurang dengan kegemukan pada wanita. Penelitian yang dilakukan di Uppsala, Swedia itu meneliti sekitar 400 wanita secara acak, dimana mereka diberikan sejumlah pertanyaan untuk lalu diperiksakan tidurnya. Lebih dari separuh peserta mengakui bahwa mereka mendengkur. Pemeriksaan tidur dilakukan untuk merekam tidur mereka, terutama tahap tidur dalam (N3) dan tidur mimpi (R). Di pagi harinya, seorang perawat akan mengukur lingkar pinggang, lingkar perut serta BMI. Hasilnya, didapati bahwa wanita yang mengalami obesitas ternyata mempunyai durasi tidur yang lebih pendek. Bahkan lebih jauh lagi, didapati bahwa mereka mempunyai tidur dalam dan tidur mimpi yang lebih sedikit. Ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Taheri dan kawan-kawan di tahun 2004 yang menunjukkan perubahan hormon-hormon nafsu makan yang dipicu oleh waktu tidur yang pendek. Penelitian tersebut membuktikan bahwa dengan mengurangi tidur secara akut ataupun kronis akan meningkatkan kadar ghrelin dan menekan kadar leptin. Ghrelin dikenal sebagai hormon yang merangsang nafsu makan, sedangkan leptin akan memberikan rasa kenyang. Kesimpulannya, memperpendek waktu tidur dengan sengaja, akan meningkatkan nafsu makan yang pada akhirnya akan menambah berat badan seseorang. Hal yang sama juga terjadi pada orang yang mendengkur. Publikasi oleh Harsch di tahun 2003 di Erlangen, Jerman menunjukkan bahwa pendengkur yang menderita sleep apnea mempunyai kadar ghrelin tinggi. Sementara perawatan sleep apnea dengan menggunakan continuous positive airway pressure akan segera menurunkan kadar ghrelin tersebut. Ini membuat kita lebih berhati-hati dalam menilai pendengkur. Selama ini masyarakat menilai bahwa mendengkur diakibatkan oleh berat badan yang berlebih. Penelitian ini membuktikan mungkin saja terjadi sebaliknya, mendengkur (sleep apnea) justru dapat menyebabkan kenaikan berat badan.