Setiap tahunnya hampir satu juta orang meninggal karena bunuh diri. Dalam 45 tahun terakhir ini tingkat kejadian bunuh diri meningkat hingga 60% di seluruh dunia. Bunuh diri termasuk tiga penyebab kematian terbanyak pada penduduk usia 15-44 tahun di beberapa negara. Gambaran ini belum termasuk percobaan bunuh diri yang dua puluh kali lipat lebih sering daripada bunuh diri komplit (hingga meninggal dunia). Apa penyebab seseorang bunuh diri? Kejadian bunuh diri berkaitan dengan masalah psikologi, biologi, sosial, budaya, dan lingkungan. Hampir 95% orang yang berniat atau berusaha bunuh diri didiagnosa dengan gangguan mental tertentu. Gangguan mental yang berisiko tinggi terhadap bunuh diri adalah depresi, penyalahgunaan alkohol, bipolar, gangguan psikotik, gangguan kecemasan, dan gangguan kepribadian. Orang dengan gangguan mental mengalami isolasi sosial, kehilangan hubungan interpersonal, kehilangan pekerjaan, kehilangan keterampilan, perburukan fungsi kognitif, gejala depresi, dan rasa putus asa yang meningkatkan risiko bunuh diri. Di negara-negara Asia, impulsivitas (melakukan sesuatu tanpa memikirkan dampaknya) mempunyai peran yang penting sebagai penyebab bunuh diri. Penyakit fisik meningkatkan risiko bunuh diri. Kondisi memburuknya fungsi, hilangnya mobilitas, menjadi tergantung pada orang lain, rasa nyeri yang hebat dan terus menerus, kehilangan pendengaran atau penglihatan, penyakit HIV-AIDS, dan keganasan dapat menyebabkan seseorang bunuh diri. Beberapa obat juga dapat menimbulkan depresi, seperti kortikosteroid, antihipertensi, dan beberapa obat antikanker. Pria disebutkan lebih sering melakukan bunuh diri. Percobaan bunuh diri lebih sering pada usia remaja/dewasa muda dan usia lanjut. Kondisi keluarga juga berpengaruh. Contohnya pada seseorang yang sering mengalami kekerasan dalam rumah tangga, merasa diabaikan, atau seseorang dengan keluarga yang mempunyai riwayat bunuh diri. Status pernikahan menurunkan risiko bunuh diri, terutama bila sudah mempunyai anak. Status janda/duda atau belum menikah berisiko lebih tinggi untuk bunuh diri dibanding orang yang berada dalam status menikah. Seseorang yang tinggal sendirian dan terisolasi secara sosial dapat meningkatkan risiko bunuh diri. Orang dengan status sosial tinggi memiliki risiko lebih besar untuk bunuh diri. Jatuhnya status sosial juga meningkatkan risiko bunuh diri. Risiko bunuh diri selanjutnya akan meningkat apabila percobaan bunuh diri sebelumnya dilakukan dengan serius dengan cara bunuh diri yang mematikan. Bagaimana mengatasi bunuh diri? Bunuh diri tidak dapat diprediksi dengan tepat namun kita dapat memperhatikan petunjuk yang ada dan menilai faktor risiko yang menyebabkan seseorang melakukan bunuh diri. Jika kita mengenal seseorang yang berniat bunuh diri, sebaiknya kita membatasi akses orang tersebut dari benda-benda tajam atau pestisida yang dapat dipakai sebagai metode untuk bunuh diri. Pendampingan, dukungan, dan monitoring adalah hal yang penting. Jangan membiarkan pasien sendirian. Pencegahan yang lebih adekuat adalah dengan menangani depresi dan atau penyalahgunaan alkohol yang ada. Pencegahan bunuh diri seringnya tidak adekuat karena kurangnya awareness terhadap bunuh diri sebagai suatu masalah dan rasa tabu di masyarakat untuk mendiskusikan hal tersebut. Terdapat mitos bahwa tabu membicarakan mengenai bunuh diri pada seseorang yang depresi maka akan membuat mereka benar-benar melakukannya. Faktanya adalah dengen membicarakan mengenai bunuh diri maka akan membuat kecemasan berkurang, menjadi lebih lega, dan merasa lebih dimengerti. Pembicaraan mengenai hal ini akan membuat pasien mengeksplorasi alternatif pilihan atau jalan keluar lain selain bunuh diri. Kapan perlu meminta bantuan? Ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu kita mengeksplorasi ide bunuh diri, seperti : Apakah Anda merasa tidak bahagia? Apakah Anda merasa putus asa? Apakah Anda merasa hidup ini tidak berarti? Apakah Anda pernah berpikir ingin mengakhiri hidup? Jika pasien memiliki gangguan psikiatri, pernah melakukan usaha bunuh diri sebelumnya, memiliki keluarga dengan riwayat bunuh diri, dan tidak memiliki dukungan sosial yang adekuat maka perlu untuk berkonsultasi dengan psikiater. Keputusan untuk perawatan inap tergantung pada diagnosis, beratnya depresi dan ide bunuh diri, kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah, situasi kehidupan pasien, adanya dukungan sosial, dan adanya faktor risiko untuk bunuh diri. Pada pasien yang sudah merencanakan atau bahkan sudah melakukan usaha untuk bunuh diri sebaiknya dirawat inap di perawatan psikiatri agar dapat dievaluasi dengan rutin. Staf rumah sakit harus waspada dengan risiko bunuh diri dan yakin bahwa pasien berada dalam situasi yang aman. Monitoring pasien dilakukan secara berkala dan lembar evaluasi risiko bunuh diri harus diisi setiap hari. Pasien perlu mendapat dukungan dari keluarga dan orang terdekat. Tujuan dari intervensi adalah untuk menangani gangguan mental yang menimbulkan risiko bunuh diri dan mengubah pola pemikiran, emosi, dan perilaku yang sulit beradaptasi. Jadi, jangan sampai bunuh diri, Sobat. Speak up and share!
1.      Sadock BJ, Sadock VA. Schizophrenia. In: Kaplan & Sadock’s: Synopsis of Psychiatry. 10th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2007
2.      World Health Organization. Preventing Suicide: A Resource for General Physicians. Geneva. 2000. Diunduh dari : http://www.who.int/mental_health/prevention/suicide/suicideprevent/en/