Mengenal Kanker Serviks atau Leher Rahim

Diabetes

Kanker leher rahim atau serviks merupakan kanker terbanyak yang diderita oleh perempuan di Indonesia. Data rumah sakit sentral Indonesia terdapat 15.000 pasien baru kanker leher rahim setiap tahunnya, dan 8.000 diantaranya meninggal. Secara statistik, hampir setiap 1 jam terdapat 1 perempuan yang meninggal akibat kanker leher rahim. Perbandingannya, di dunia setiap 2 menit meninggal akibat kanker serviks.

Pada dasarnya, kanker ini adalah tumor ganas yang mengenai leher rahim. Kanker serviks sebabkan oleh HPV (Human Papilloma Virus) onkogenik, tipe 16 dan 18, dan mudah ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak sehat dan juga kontak tubuh lainnya.

Faktor Risiko

[caption id="attachment_12015" align="aligncenter" width="400"] Anatomi organ reproduksi wanita. Leher rahim ditandai dengan kata "cervix"[/caption]

Faktor risiko pendukung terjadinya kanker leher rahim di antaranya:

  • Kawin usia muda (dibawah 20 tahun)
  • Mitra seksual yang berganti-ganti
  • Infeksi pada kelamin (Infeksi Menular Seksual)
  • Banyak melahirkan anak
  • Merokok
  • Kekurangan vitamin A, C, atau E

Gejala Klinis

Kanker leher rahim tidak menimbulkan keluhan atau gejala pada tahap awal. Gejala klinis hanya terasa pada stadium kanker yang sudah lanjut, di antaranya:

  • Keputihan yang berbau dan bercampur darah
  • Pendarahan diluar haid
  • Pendarahan saat sanggama
  • Nyeri panggul

Leher rahim yang terpapar virus HPV berpotensi menjadi kanker dalam waktu 3-17 tahun, jika tidak dilakukan tindakan pencegahan.

Mencegah Kanker Serviks

Jangan menunggu sampai gejala klinis datang! Yang paling efektif, segeralah lakukan pemeriksaan untuk deteksi dini kanker leher rahim secara rutin dan berkala minimal 3 tahun sekali, dengan cara:

  • Pap Smear yang sudah dikenal masyarakat
  • Tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)

Apa Itu Tes Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA)?

IVA adalah pemeriksaan skrining kanker serviks dengan cara inspeksi visual pada serviks dengan pemberian asam asetat. Setelah dilihat posisinya, leher rahim dipulas dengan asam asetat 3-5%, selama 1 menit. Pemberian ini tidak menyakitkan dan hasilnya langsung saat itu juga dapat disimpulkan Normal (Negatif), atau Positif (ada lesi pra-kanker).

Asam asetat atau dikenal dengan asam cuka berguna mendeteksi dini kanker serviks secara mudah dan murah. Metode ini sudah dikenalkan sejak 1925 oleh Hans Hinselman dari Jerman, tetapi baru diterapkan sekitar tahun 2005. Kementerian Kesehatan RI pun sudah mengadopsinya. Cara ini selain mudah dan murah, juga memiliki keakuratan sangat tinggi dalam mendeteksi lesi atau luka prakanker, yaitu mencapai 90 persen. Deteksi dini ini tidak harus dilakukan oleh dokter, tetapi bisa dipraktikkan oleh tenaga terlatih seperti bidan di puskesmas. Dan dalam waktu sekitar 60 detik sudah dapat dilihat jika ada kelainan, yaitu munculnya plak putih pada serviks. Plak putih ini bisa diwaspadai sebagai luka prakanker.

cegah kanker serviks sekarang bersama ProSehat

Beberapa Keuntungan IVA (Inspeksi Visual dengan aplikasi Asam Asetat)

  1. Murah
  2. Mudah, praktis, mampu laksana
  3. Dapat dilaksanakan oleh seluruh tenaga kesehatan
  4. Alat-alat yang dibutuhkan sederhana
  5. Sesuai untuk pusat pelayanan sederhana
  6. Kinerja tes sama dengan tes lain
  7. Memberikan hasil segera sehingga dapat diambil keputusan mengenai penatalaksanaannya

Syarat Dilakukannya IVA Tes

  1. Sudah melakukan hubungan seksual
  2. Tidak sedang datang bulan/haid
  3. Tidak sedang hamil
  4. 24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual

Bagaimana Pelaksanaan Skrining IVA?

  1. Ruangan tertutup
  2. Meja Periksa ginekologis
  3. Sumber cahaya yang cukup untuk melihat serviks
  4. Spekulum vagina Asam asetat (3-5%)
  5. Swab Lidi kapas
  6. Sarung tangan

Teknik IVA

  1. Spekulum untuk melihat serviks yang telah dipulas dengan asam asetat 3-5%
  2. Hasil (+) pada lesi prakanker terlihat warna bercak putih disebut : ACETO WHITE EPITELIUM
  3. Tindak lanjut IVA (+) Biopsi

Kategori pemeriksaan IVA ada beberapa kategori yang dapat dipergunakan, salah satu kategori yang dapat dipergunakan adalah:

  1. IVA negatif = Serviks normal.
  2. IVA radang = Serviks dengan radang (servisitis), atau kelainan jinak lainnya (polip serviks).
  3. IVA positif = ditemukan bercak putih (aceto white epithelium). Kelompok ini yang menjadi sasaran temuan skrining kanker serviks dengan metode IVA karena temuan ini mengarah pada diagnosis Serviks-pra kanker (dispalsia ringan-sedang-berat atau kanker serviks in situ).
  4. IVA- Kanker serviks Pada tahap ini pun, untuk upaya penurunan temuan stadium kanker serviks, masih akan bermanfaat bagi penurunan kematian akibat kanker serviks bila ditemukan masih pada stadium invasif dini.
[caption id="attachment_12016" align="aligncenter" width="266"] Tampakan Hasil Tes IVA. Sumber: CancerHelps[/caption]

Kapan Harus Skrining?

Menurut WHO, skrining dilakukan pada:

  1. Skrining pada setiap wanita minimal 1X pada usia 35-40 tahun
  2. Kalau fasilitas memungkinkan lakukan tiap 10 tahun pada usia 35-55 tahun
  3. Kalau fasilitas tersedia lebih lakukan tiap 5 tahun pada usia 35-55 tahun
  4. Ideal dan optimal pemeriksaan dilakukan setiap 3 tahun pada wanita usia 25-60 tahun
  5. Skrining yang dilakukan sekali dalam 10 tahun atau sekali seumur hidup memiliki dampak yang cukup signifikan.

Di Indonesia, anjuran untuk melakukan IVA bila hasil positif (+) adalah 1 tahun dan, bila hasil negatif (-) adalah 5 tahun

Bagaimana bila IVA positif?

Jika ditemukan ada kelainan pada Tes IVA, yaitu positif pra-kanker (gejala kanker), dapat diobati dengan krioterapi. Yaitu pengobatan dengan pendinginan (dengan gas dingin) efek samping ringan dan mudah diatasi.

Sumber:

  • Clark J. Cervical cancer screening. BMJ 2003
  • Nuranna L. Penanggulangan Kanker Serviks yang Sahih dan Andal dengan Model Proaktif-VO (Proaktif, Koordinatif dengan skrining IVA dan terapi Krio). Disertasi. Jakarta, Universitas Indonesia 2005
  • Hanafi I. Efektivitas Pemeriksaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat oleh Bidan sebagai Upaya Mendeteksi Lesi Prakanker Serviks. Tesis. Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2002
  • Wiknjosastro, Hanifa. 2010. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo