- Emang apa bahayanya sih kalau punya gangguan tidur? kita sudah membaca tentang kisah Ratna di atas yang karena sulit tidur jadi mengalami kelelahan berlebih dan gangguan proses belajar. Ilustrasi di atas hanya sebagian dari bahaya gangguan tidur. Insomnia juga memperbesar risiko masalah kesehatan lain seperti obesitas, penyakit jantung dan pembuluh darah, dan diabetes dalam jangka panjang. Namun, yang saat ini sedang banyak dikhawatirkan adalah risiko cedera akibat insomnia. Penelitian Oleh America Insomnia Survey pada lebih dari 10.000 pria dewasa menemukan bahwa orang-orang dengan insomnia berat dan jangka panjang terbukti memiliki risiko mengalami cedera atau kecelakaan baik di tempat kerja maupun di luar tempat kerja hingga hampir dua kali lebih sering daripada yang orang tanpa insomnia. [4] Cedera ini juga bukan sekedar jari kelingking kaki terbentur kaki meja, tapi cedera yang setidaknya menimbulkan kesulitan bekerja hingga satu hari atau cedera yang membutuhkan penanganan medis! Bisa dibayangkan bila orang dengan gangguan depresi, yang selain sudah mengalami kesulitan memusatkan perhatian sehari-hari juga mengalami gangguan tidur. Kaum ini menjadi sangat rentan dengan cedera yang memberi beban fisik, finansial, bahkan bisa mencabut nyawa! Menyeramkan juga ya, kalau depresi dan kurang tidur sudah berkolaborasi merusak hidup kita? Jadi, untuk anda yang mulai merasa risi dengan gangguan tidur anda, ada baiknya mencari tahu sebab dari gangguan ini dan mencoba mencari pengobatannya. Anda bisa datang ke dokter atau konsltasi ke psikiater. Siapa tahu gangguan tidur yang anda alami adalah gejala dari gangguan depresi atau gangguan cemas. Jangan terlebih dahulu takut dicap "orang gila" bila anda memang harus ke psikiater! Kembali ke kisah Ratna di atas. Sang ibu yang tidak tega melihat Ratna yang tiap hari makin lemas akhirnya membawa Ratna ke dokter umum. Sang dokter yang curiga Ratna mengalami gangguan depresi berat merujuknya ke psikiater di rumah sakit. Oleh psikiater, Ratna menjalani konseling, psikoterapi, dan juga mendapat beberapa obat untuk keluhan yang dialami. "Efek perbaikan memang tidak muncul dalam satu-dua hari", kata sang psikiater. Namun, dengan pengobatan rutin dan dukungan keluarga serta teman-temannya, , sekitar satu bulan kemudian Ratna sudah bisa ditemui kembali main basket di sore hari seperti yang biasa dia lakukan. Rasa sedih kadang masih melanda, tapi kini dia memiliki mental yang lebih tangguh untuk menghadapi tantangan hidup. Kabar paling baiknya adalah, Ratna sudah siap menjalani kembali fungsinya sebagai manusia di masyarakat!   Referensi [1] Sleep and Depression. Diunduh dari http://www.webmd.com/depression/guide/depression-sleep-disorder [2] national Institue of Health. Information about sleep. Diunduh dari http://science.education.nih.gov/supplements/nih3/sleep/guide/info-sleep.htm [3] Sivertsen B et al. The bidirectional association between depression and insomnia: The HUNT study. Psychosom Med Agustus 2012. diunduh dari http://dx.doi.org/10.1097/PSY.0b013e3182648619 [4] Kessler RC; Berglund PA; Coulouvrat C; Fitzgerald T; Hajak G; Roth T; Shahly V; Shillington AC; Stephenson JJ; Walsh JK. Insomnia, comorbidity, and risk of injury among insured Americans: results from the America Insomnia Survey. SLEEP 2012;35(6):825-834.