- Kok bisa gitu ya? Kalau sering menonton televisi atau membaca, anda tentu tidak asing dengan istilah depresi dan insomnia. Kedua kondisi ini bisa dikatakan sahabat karib. Pasien dengan depresi sering mengalami gejala gangguan tidur seperti insomnia (kesulitan tertidur dan mempertahankan kondisi tidur). Di sisi lain, pasien dengan insomnia mempunyai risiko tinggi untuk mengalami gangguan depresi. [1] Namun demikian, gangguan tidur tidak hanya berupa insomnia saja loh! Ada juga pasien depresi dengan gangguan tidur berupa tidur terlalu sedikit, sering terbangun malam hari, sulit tidur kembali, hingga kesulitan untuk bangun di pagi hari walaupun sudah tidur semalaman. - Loh, wajar kan kalao lagi sedih jadi susah tidur gitu... Apa anehnya? Betul sekali, sedih memang adalah kondisi yang wajar dialami manusia. Kita bisa merasa sedih akibat bermacam kejadian. Tapi, bila gangguan suasana perasaan ini terjadi berkepanjangan akan mengganggu kualitas hidup. Pada saat inilah kita mengatakan kondisi sedih tersebut sudah suatu gangguan depresi. Nah, gangguan tidur itu kebetulan adalah salah satu gangguan yang paling sering terjadi pada gangguan depresi. Semua pasti sepakat kalau tidur itu sangat diperlukan manusia, iya nggak? Soalnya kalau nggak, buat apa kita menyediakan waktu sekitar 7-9 jam sehari buat tidur? Tidur dibutuhkan untuk kondisi pemulihan tubuh dari kelelahan fisik dan mental, menghemat energi, proses perkembangan otak pada bayi, hingga berperan dalam proses pembelajaran. [2] Kualitas tidur yang baik berperan dalam proses pemulihan. Namun, kualitas tidur yang berkurang dapat menyebabkan seseorang menjadi tidak bisa mengendalikan emosi, mudah marah, dan seperti yang disebutkan sebelumnya, malah bisa menjadi risiko seseorang mengalami gangguan depresi. Siapa sih yang nggak bad mood kalau tidurnya nggak nyenyak berhari-hari, ya nggak? - Gangguan tidur dan deprsi: yang mana telur, yang mana ayam? Penelitian pada tahun 2011 oleh para psikiater di Norwegia mencoba menemukan hubungan sebab-akibat antara gangguan tidur dan depresi [3]. Dari penelitian pada 24.000 pasien, mereka menemukan hal yang menarik. Orang dengan gangguan depresi tanpa gangguan tidur, memiliki risiko sekitar 6 kali lebih besar untuk mengalami gangguan tidur 11 tahun kemudian. Demikian juga sebaliknya, orang yang hanya memiliki gamgguan tidur saja memiliki risiko sebesar 6 kali lebih besar untuk jatuh dalam kondisi gangguan depresi 11 tahun kemudian. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kedua faktor ini saling mempengaruhi satu sama lain secara dua arah! Yang depresi bisa sulit tidur, yang sering begadang jadi mudah depresi. Depresi dan gangguan tidur juga bisa menyerang siapa saja, baik tua maupun muda, pria atau wanita, buruh pabrik atau direktur, mahasiswa baru yang di-OSPEK hingga profesor sekalipun.